Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Dendam Clarisa


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Setelah sejenak terdiam, Rangga mencium pucuk kepala wanita yang masih duduk di pangkuannya lalu membisikkan kata-kata yang membuat tubuh Khanza seketika meremang.


"Yang, aku ingin menghabiskan malam panjang ini dengan menjalankan sunah Rasul. Kita berikhtiyar lagi yuk!"


"A-aku capek Mas. Lagi pula, kita belum membuka semua kado --" kilahnya. Meski menolak, Khanza tidak bisa memungkiri bahwa sebenarnya ia pun ingin menghabiskan malam panjang dengan memadu kasih bersama Rangga. Namun karena ia merasa malu jika langsung meng-iyakan keinginan suaminya itu, Khanza pun berkilah.


Rangga melebarkan senyum saat mendengar ucapan yang terlisan dari bibir sang kekasih. Menatap wajah Khanza yang terhias rona merah, kentara sekali jika istri comelnya itu hanya berkilah.


Diangkatnya dagu yang sedikit terbelah lantas ia lisankan kata-kata rayuan agar istrinya tak bisa lagi berkilah. "Yang, membuka kadonya 'kan bisa besok. Dosa lho jika menolak keinginan suamimu."


"Tapi Mas --"


"Nggak ada kata tapi Yang."


Rangga menyambar bibir ranum istrinya dan menjamah dua harta terindah yang masih tertutup kain.


Khanza tidak bisa menolak, bahkan ia menikmati pagutan bibir dan sentuhan tangan Rangga.


Perlahan, Rangga mengakhiri pagutan bibir. Kedua sudut bibirnya melengkung saat melihat wajah sang istri terbingkai kabut cinta.


Usai membaca doa sebelum bersenggama, Rangga merebahkan tubuh Khanza. Ia cium lama kening istrinya, mencurahkan segenap luapan cinta.


"Sayang, bolehkah aku meminta hak-ku lagi malam ini?" tanya yang terlisan disertai tatapan penuh damba.


"Hmmm." Khanza mengangguk pasrah. Ia memberi ijin Rangga untuk mendapatkan hak nya sebagai seorang suami.


Di bawah naungan langit yang terhias rupa sang dewi malam dan keindahan rasi bintang, dua anak manusia memadu kasih, menyatukan raga ... mereguk kenikmatan surga dunia atas ridho-Nya.

__ADS_1


.....


Seperti biasa, Rangga terbangun di sepertiga malam untuk bersujud pada-Nya. Sebelum mensucikan diri dengan air wudhu, ia membangunkan istrinya yang masih terlelap.


"Assalamu'alaikum istriku tercinta. Bangun yuk!" ucapnya sembari mencium kening Khanza.


Netra yang semula terpejam kini terbuka perlahan disertai seutas senyum manis.


"Wa'alaikumsalam, suamiku."


"Yang, yuk kita sholat lail!"


"Heem, Mas. Sebentar ya, aku ngumpulin nyawa dulu."


Rangga tergelak lirih mendengar ucapan istrinya. "Kog dikumpulin sich? Memangnya nyawa Sayang berhamburan, hmmm?" selorohnya sambil menoel hidung mancung sang istri.


"Iya. Berhamburan di alam mimpi." Khanza menjawab asal. Sesekali ia menguap karena rasa kantuk yang masih terasa. Semalaman ia kurang tidur sebab kelakuan suami o-mesnya yang seolah tidak pernah puas mereguk kenikmatan hakiki.


Setelah berwudhu, keduanya menjalankan ibadah sholat lail berjamaah dengan khusyuk. Mereka berpasrah, berserah diri pada sang penggenggam kehidupan, Allah Ta'ala.


Usai dua salam, Rangga dan Khanza melangitkan pinta seraya merayu pada Nya.


"Ya Allah, Ya Tuhan kami, bagi-Mu pujian. Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi, dan bagi-Mu pujian. Engkaulah Tuhan langit, bumi, dan makhluk yang ada padanya, dan bagi-Mu pujian. Engkaulah yang (memberi) cahaya pada langit dan bumi dan makhluk yang ada padanya. Engkau Maha Hak (benar), firman-Mu hak, janji-Mu hak, bertemu dengan-Mu hak, surga hak, neraka hak, kiamat hak.


Ya Allah, kepada-Mu aku pasrahkan, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku berkeluh-kesah, dengan-Mu aku dihakimi. Maka ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu dan yang akan datang, dosa yang aku simpan atau aku perlihatkan, dan dosa yang Engkau lebih tahu ketimbang aku. Tiada tuhan selain Engkau."


....


Mansion Fairuz

__ADS_1


"Kurang ajar kau!"


BUG ... BUG ... BUG ....


Fairuz menghujani wajah pria yang meniduri istri keduanya dengan bogeman mentah. Amarahnya meluap-luap saat mendapati istrinya dan pria itu bercinta di atas ranjang.


"Cukup Mas, hentikan!" Clarisa berusaha menghentikan amukan suaminya. Namun Fairuz tak acuh. Ia terus saja melayangkan bogeman mentah hingga pria yang berzina dengan istrinya itu jatuh tak berdaya.


"Kamu sangat menjijikan, Cla. Di ranjang kita, kamu melakukan perbuatan terlarang dengan pria itu. Seolah kamu tidak puas mendapatkan nafkah batin dariku." Sarkas Fairuz dengan meninggikan intonasi suara. Netra teduhnya terbingkai api amarah. Ia tidak terima dengan pengkhianatan istri keduanya itu.


Clarisa menyeringai. Ia tidak menggubris amarah suaminya. Seolah apa yang telah diperbuatnya bersama pria lain, bukanlah suatu dosa besar.


"Mas, asal kamu tau ... aku memang tidak pernah puas saat memadu kasih denganmu. Aku terpaksa berpura-pura puas, hanya untuk mewujudkan ambisiku. Dan sekarang, semua ambisiku telah terwujud. Kamu menceraikan wanita itu, dan perusahaan Fairuz Group sudah menjadi milikku."


"Kau --" Fairuz menunjuk wajah Clarisa dan menatap tajam wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Apa Mas? Sekarang, kau bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pria tua yang tidak memiliki harta sepeserpun. Tapi, aku masih membutuhkanmu untuk menghancurkan wanita yang menyebabkan kematian mas Fajar, kakak satu-satunya yang aku miliki. Dia bunuh diri karena ditolak cintanya oleh Nabila, mantan istrimu. Nabila menolak cinta mas Fajar hanya demi menyanggupi perjodohan kalian," tandasnya diikuti tatapan netra terbingkai kabut dendam.


"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan Nabila. Aku sangat menyesal telah memilih wanita ular sepertimu."


Clarisa tergelak. Ia tutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal sebelum memanggil anak buahnya dengan menekan bel yang terpasang di dinding kamar.


"Sekap pria tua tak berguna itu di ruang bawah tanah!" titah Clarisa setelah ketiga anak buahnya masuk ke dalam kamar.


Fairuz pantang menyerah. Ia terus berusaha melawan ketiga anak buah Clarisa yang bertubuh kekar dan berisi, meski pada akhirnya tubuh lemah Fairuz tergeletak tak berdaya.


Entah apa yang direncanakan oleh Clarisa untuk membalas dendamnya yang terlanjur mendarah daging ....


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2