
Happy reading 😘😘😘
"Yoweslah. Karena nanggung, hayukkkk kita lanjut lagi."
"Hayuuuukkk, Bund." Abimana terlihat sangat bersemangat.
Dan terjadilah apa yang semestinya terjadi. Kedua insan yang tak lagi muda itu kembali menyatukan raga, mereguk kenikmatan surga dunia bernilai ibadah.
Meski usia Abimana dan Kirana tak lagi muda. Namun rasa cinta yang keduanya rasa, selalu bersemi bahkan akan terus bersemi.
....
Mesin waktu yang tergantung di dinding menunjuk pukul dua malam. Khanza terjaga dari tidur sebab merasakan perutnya lapar.
Khanza membuka netranya dengan sempurna lantas membangunkan Rangga yang masih terlelap.
Rangga menggeliat dan perlahan membuka netra saat merasakan seluruh wajahnya basah karena dihujani kecupan oleh istri tercinta.
"Mas, bangun donk! Aku laper," ujar Khanza dengan suaranya yang terdengar manja.
Rangga menerbitkan senyum. Ia usap pipi istrinya yang putih dan halus dengan jemari tangan lantas melisankan kalimat tanya, "mau aku masakin apa, Yang?"
Khanza menggeleng. Ia raih tangan sang suami yang masih menempel di pipi lalu mengecupnya lama.
"Mas, aku pingin makan bakmi Jawa. Tapi bakmi Jawanya nggak pakai ayam Jawa."
"Bakmi Jawa nggak pakai ayam Jawa?"
"Heem."
"Okey, mas masakin ya Yang?" tanyanya setelah sejenak berpikir.
Khanza kembali menggeleng. "Mas, aku pinginnya beli. Nggak mau dimasakin. Masakan Mas Rangga nggak enak."
"Beneran nggak enak, Yang? Padahal, dulu kata Sayang, masakanku enak lho," sahutnya dengan memasang raut wajah sendu.
"Itu dulu sebelum aku hamil. Tapi sekarang, rasanya bener-bener nggak enak Mas." Khanza berucap jujur. Memang benar, setelah hamil, Khanza merasa masakan olahan tangan Rangga berasa sangat tidak enak. Bahkan, ia selalu ingin muntah setiap mencium aroma masakan suaminya itu.
Rangga menghela nafas dalam, membuang perasaan yang menciptakan sensasi rasa nyeri di ulu hati kala mendengar ucapan yang dilontarkan oleh istrinya.
"Sudah jam dua lho, Yang. Di mana kita bisa membeli bakmi Jawa?"
"Di warung bakmi Jawa mbah Pahing, Mas." Khanza menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir suaminya dengan mantab. Perlahan, Khanza beranjak dari posisi berbaring lalu menyandarkan kepala dan punggung pada headboard, diikuti oleh Rangga.
"Warung bakmi Jawa mbah Pahing? Di mana itu, Yang?"
Khanza mengendikkan bahu. "Aku pun tak tau, Mas."
__ADS_1
"Berarti, kita harus berkeliling ... mencari warung bakmi Jawa mbah Pahing, Yang?"
"Iya Mas. Bener banget."
"Tapi Yang, sudah jam segini ... pasti banyak warung bakmi Jawa yang sudah tutup."
"Mas, kog ngomong seperti itu sih? Pasti, sebenarnya Mas Rangga nggak mau 'kan berkorban sedikit aja demi aku dan anak kita? Baiklah, biar aku sendiri Mas ... yang akan mencari warung bakmi Jawa mbah Pahing," ujarnya dengan sedikit meninggikan intonasi suara. Kentara sekali, Khanza teramat sebal dan marah.
"Bukan seperti itu Sayangku," tuturnya halus sembari meraih tangan Khanza dan menahan istrinya itu agar tidak beranjak dari ranjang.
"Baiklah Sayang, kita akan berkeliling untuk menemukan warung bakmi Jawa mbah Pahing sampai ketemu," lanjutnya ... mengalah.
Seketika netra Khanza berbinar kala mendengar kalimat yang terlisan dari bibir suaminya. "Benarkah, Mas?"
"Iya Sayang. Demi kamu, apa sih yang nggak mas Rangga lakukan."
"Trimakasih Mas."
CUP
Khanza menghadiahi kecupan singkat di bibir Rangga, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
....
Rangga melajukan mobilnya melewati jalanan kota Jogja yang cukup sepi, mencari warung bakmi Jawa mbah Pahing. Ia terlihat putus asa, sebab selama satu jam berkeliling kota Jogja, tidak juga menemukan warung bakmi Jawa yang diinginkan oleh sang istri.
"Mas, masih lama nggak ya? Aku laper banget," cicit Khanza sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit buncit.
Rangga mengedar pandangan keluar jendela sembari tetap fokus memainkan setir mobil. Ia melihat sisi kanan dan sisi kiri jalan, berharap menemukan warung bakmi meski bukan warung bakmi Jawa mbah Pahing.
"Yaa Allah, berikanlah kemudahan kepada hamba untuk menemukan warung bakmi Jawa mbah Pahing." Doa yang terlisan di dalam hati saat Rangga semakin berputus asa.
Netra Rangga berotasi sempurna ketika pandangannya tertuju pada warung bakmi Jawa yang bertuliskan 'Bakmi Jawa Mbah Wage'. Gegas, Rangga menghentikan mesin mobil tepat di depan warung bakmi Jawa tersebut.
"Yang, lihatlah! Itu ada warung bakmi Jawa mbah Wage. Yuk kita keluar!" ajaknya penuh semangat.
"Kog bakmi Jawa mbah Wage, Mas? Aku 'kan maunya bakmi Jawa mbah Pahing." Khanza mengerucutkan bibir dan menekuk wajahnya. Kentara sekali jika ia tengah kecewa, sebab yang diinginkannya bukan bakmi Jawa mbah Wage, melainkan bakmi Jawa mbah Pahing.
Rangga mengulas senyum. Ia menangkup kedua pipi istrinya dan menatap manik mata yang terlihat mulai mengembun.
"Khanza sayang, meski tulisan di warung itu 'Bakmi Jawa Mbah Wage' tapi siapa tau, pemilik warungnya bernama mbah Pahing. Ingat nggak lagu Jawa yang dinyanyikan oleh almarhum Didi Kempot?"
Pak Rebo e pak e pak Rebo
E pak Rebo kok laire dino kemis
Yen setu dodolan neng pasar senin
Seloso jumat mulih nang pasar minggu
__ADS_1
"Itu 'kan lagunya ... pak Rebo, bukan mbah Pahing, Mas. Huhhh, syebel." Khanza merengut. Ia membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Rangga tak kurang akal. Kemudian ia menyanyikan lagu pak Rebo dengan menirukan suara almarhum Didi Kempot. Namun liriknya ia ganti dengan mbah Pahing.
Mbah Pahing e mbah Pahing
E mbah Pahing kok laire dino wage
Yen setu dodolan neng pasar Kliwon
Seloso jumat mulih neng pasar pon
"Pfftttt ... hahhahaha. Yaa Allah Mas Rangga."
Khanza tergelak kala mendengar suara Rangga yang sukses menggelitik indra pendengarannya.
"Nah, gitu donk Sayang. 'Kan kalau ketawa cantiknya nambah seratus delapan puluh derajat. Jangan merengut lagi ya! Kasihan dedek bayi. Pasti di dalam perut, dedek bayi menirukan ekspresi wajah bundanya."
"Iya Mas." Khanza mengangguk pelan dan menerbitkan seutas senyum.
Keduanya keluar dari dalam mobil lantas berjalan beriringan memasuki warung bakmi Jawa mbah Wage.
"Maaf Mbah, kalau boleh saya tau, siapa nama Simbah?" Rangga melontarkan pertanyaan setelah ia memesan bakmi Jawa sesuai dengan keinginan istrinya.
"Nama simbah, mbah Pahing ... Nak Mas," jawab mbah Pahing sembari memamerkan giginya yang sudah tidak lengkap.
"Alhamdulillah," seru Rangga mengungkapkan rasa syukur.
Mbah Pahing sedikit mengernyitkan dahi karena merasa heran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rangga.
"Kog Nak Mas sepertinya sangat senang setelah mengetahui nama saya?"
"Saya sangat senang karena Simbah bernama Mbah Pahing. Istri saya yang sangat cantik ini ... ngidam bakmi Jawa mbah Pahing. Sudah hampir dua jam kami berkeliling mencari warung bakmi Jawa tersebut. Dan Alhamdulillah, pencarian kami terhenti di warung ini," jawabnya seraya memberi penjelasan.
Mbah Pahing manggut-manggut dan mengulas senyum. Kemudian ia mempersilahkan Rangga dan Khanza untuk duduk sambil menunggu pesanan mereka.
"Mbah, jangan lupa ya! Mie Jawanya nggak usah pakai ayam Jawa. Tapi, ayam bebek saja. Eh maksud saya, ayam potong saja!" pinta Rangga.
Mbah Pahing mengangguk pelan dan berusaha menahan tawa yang hampir saja meledak kala mendengar ucapan Rangga ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤