
Obat rindu bag. 3
Happy reading 😘😘😘
Rangga dan Udin terus berlari sambil membawa setandan pisang yang mereka petik dari kebun kyai Hamid, untuk menghindari mbak Kunkun yang masih asik bersenandung dengan suara emasnya. Kedua pria itu nampak sangat ketakutan hingga berkali-kali jatuh karena tersandung batu. Bukan hanya itu saja. Rangga dan Udin juga berkali-kali membenarkan sarung mereka yang melorot. Beruntung kedua pria itu mengenakan dalaman berupa celana kolor. Jika tidak, tak terbayang nasib si Dedek. 🙄
Sesampainya di depan pintu utama, Rangga dan Udin disambut oleh Khanza. Tanpa mengucap kalimat salam, kedua pria itu nyelonong masuk ke dalam rumah lalu bersembunyi di kolong meja.
Khanza menautkan kedua pangkal alis. Ia teramat heran saat menyaksikan perilaku aneh yang ditunjukkan oleh Rangga dan Udin.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada mereka berdua? Mengapa papi dan pak Udin seperti orang yang sedang ketakutan ya?" monolog Khanza. Ia ayunkan tungkai untuk menghampiri kedua pria yang tengah bersembunyi di kolong meja.
"Ehemm, Papi, Pak Udin. Kalian kenapa sih? Pulang-pulang kog seperti orang ketakutan?" cecar Khanza setelah ia mendaratkan bobot tubuhnya di lantai.
"Mom-mommy. Ta-tadi, a-ada mbak Kunkun di kebun kyai Hamid." Rangga menjawab dengan nada suaranya yang menyiratkan ketakutan. Wajahnya pias, sepias wajah Udin.
"Mbak Kunkun siapa sih Pi?"
"I-tu, mbak Kunkun temennya mas poci."
Khanza semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan suaminya. Ia pun menghela nafas panjang lantas bermonolog di dalam hati.
Mbak Kunkun? Mas Poci? Sebenarnya siapa mereka? Apa wajah mereka terlalu menyeramkan sehingga membuat seorang Rangga Adithya Fairuz ketakutan?
"Pi, sebenarnya siapa mereka berdua? Mbak Kunkun itu siapa dan mas Poci itu siapa? Apa jangan-jangan, mereka lintah darat atau preman yang berwajah menyeramkan?" Khanza kembali mencecar Rangga dengan pertanyaan.
"Bu-bukan Mi. Mereka itu --" Terdengar suara bel pintu memangkas ucapan Rangga.
Rangga dan Udin saling berpandangan. Keduanya semakin terlihat ketakutan. Terbesit di dalam pikiran mereka, bahwa yang menekan bel pintu bukanlah manusia, melainkan mbak Kunkun yang sukses membuat keduanya lari tunggang langgang.
__ADS_1
Dengan perlahan, Khanza bangkit dari posisi duduk. Ia berniat untuk menemui tamu yang telah menekan bel pintu rumahnya.
"Mom-my, mau ke mana?"
"Ya mau menemui tamu kita-lah, Pi."
"Ja-jangan! Si-siapa tau yang menekan bel pintu ... mbak Kunkun."
"Ya bagus donk, Pi. Kalau benar mbak Kunkun, mommy bisa mengetahui wajahnya seperti apa. Jujur, mommy heran lho. Kog mbak Kunkun bisa membuat Papi dan Pak Udin ketakutan. Sampai-sampai, Pak Udin ngompol --" Khanza melipat bibir. Ia berusaha menahan tawa saat melihat sarung Udin basah.
Udin menunduk malu. Sedangkan Rangga, seketika menjauh dari Udin sambil menutup hidung karena indra penciumannya mencium bau yang teramat sedap 'petai'.
"Bentar ya Pi. Mommy temui dulu mbak Kunkun-nya," ucap Khanza sambil berlalu pergi tanpa mengacuhkan teriakan Rangga yang memintanya untuk tidak menemui tamu yang ia sangka mbak Kunkun.
"Assalamu'alaikum Dokter Khanza," ucap dua orang yang sedari tadi berdiri di depan pintu menunggu tuan rumah.
"Wa'alaikumsalam, Mas Ridho, Mas Jaenal. Maaf lho sudah membuat Mas berdua jadi menunggu lama," sahut Khanza. Ia benar-benar merasa tidak enak hati karena membuat kedua tamunya menunggu sedikit lama.
"Tidak apa-apa Dokter. Malah kami yang seharusnya meminta maaf karena bertamu di malam hari," ujar Jaenal dengan mengulas senyum termanisnya.
"Benar sekali, Dok. Sebenarnya, kami ingin bertemu dengan Mas Rangga. Tadi, ketika kami berkeliling di kebun kyai Hamid, kami melihat mas Rangga dan pak Udin lari tunggang langgang seperti orang yang sedang ketakutan. Setelah kami pikir-pikir, mungkin mereka ketakutan karena mendengar rekaman suara Nofi yang saya putar," terang Jaelani menjelaskan.
"Nofi? Mbak Nofi istri Mas Jaelani yang kerja di Taiwan?"
"Benar sekali Dokter Khanza. Istri saya mengirim rekaman suaranya yang mirip dengan suara ketawa khas Mbak Kunti. Nofi meminta pendapat pada saya, suaranya persis belum dengan suara ketawa mbak Kunti, karena dia ingin mengikuti contest suara ketawa yang paling memedenkan," terang Jaelani lagi.
Khanza melipat bibirnya. Rasa-rasanya ia ingin tergelak setelah mengetahui penyebab Rangga dan Udin ketakutan. Ternyata, suara nyai Nofi. Bukan nyai Kunti.
Setelah Ridho dan Jaelani berpamitan, Khanza bergegas menghampiri Rangga dan Udin yang masih setia bersembunyi di kolong meja.
"Pi, Pak Udin, sampai kapan kalian akan bersembunyi di kolong meja, hmmm?" Khanza melontarkan tanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Khanza, Rangga malah berganti melontarkan tanya. "Mbak Kunkun udah pergi, Mi?"
"Udah, Pi."
"Beneran?"
"Beneran, Pi."
Rangga dan Udin bernafas lega. Mereka lantas keluar dari tempat persembunyian.
"Ehemmm, tadi yang datang bukan mbak Kunkun, tapi mas Ridho dan mas Jaelani. Mereka melihat Papi dan Pak Udin lari tunggang langgang seperti orang yang sedang ketakutan. Mas Ridho dan mas Jaelani berpikir, Papi dan Pak Udin ketakutan karena mendengar rekaman suara mbak Nofi yang mirip dengan suara ketawa mbak Kunti," tutur Khanza diikuti suara tawanya yang sudah tak tertahankan.
Manik mata Rangga membola. Ia tidak menyangka, ternyata suara yang didengar olehnya dan Udin adalah suara Nofi bukan suara mbak Kunti.
"Yaa salammmm, jadi itu tadi rekaman suara mbak Nofi, Mi?"
"Pfftttt, iya Pi. Mbak Nofi ingin mengikuti contest suara ketawa paling memedenkan. Makanya, dia menirukan suara ketawa khas mbak Kunti dan merekamnya. Kemudian, mbak Nofi mengirim hasil rekaman suaranya itu ke WA mas Jaenal," jawabnya seraya menjelaskan.
Raut wajah Rangga dan Udin seketika berubah. Keduanya merasa teramat malu. Harga diri mereka seolah ditelanjangi oleh perilaku konyol mereka sendiri ....
🌹🌹🌹🌹
Bagi Kakak-kakak yang ingin mem-follow akun author, ketik saja Ayu Widia. Author hanya memiliki satu akun FB, IG, dan Mangatoon dengan foto profil yang sama. 😉🙏
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 💓💓💓