
Happy Reading 😘😘😘
"Kak Bir-ru. Kau jahat sekali."
Albirru tergelak mendengar ucapan Rangga. Ia sudah menduga, Rangga bakal marah mendengar kata-kata yang dilisankannya tadi. Tepatnya, ketika pria yang berstatus sebagai suami Khanza itu masih dalam kondisi koma.
Keharuan menyelimuti seisi ruangan. Tangis kesedihan kini berganti tangis bahagia.
"Khanza, sampai kapan pun aku nggak akan melepasmu. Apalagi merelakanmu bersanding dengan pria lain ...," ucapnya lemah. Ia tatap netra yang terbingkai embun dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan.
Khanza tidak mampu berkata-kata. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar membalas ucapan suaminya. Rasa bahagia dan rasa syukurnya hanya mampu ia ungkapkan dengan sujud syukur pada Illahi Yang Maha Kasih.
Ya Allah Yaa Robb, puji syukur hamba atas segala kasih sayang-Mu. Atas segala doa yang Engkau kabulkan. Dan atas anugerah cinta yang masih Engkau karuniakan kepada hamba. Terimalah sembah syukur hamba dan untaian kalimat tasbih sebagai balasan cinta pada-Mu.
Rangga dan Albirru tak kuasa menahan titik-titik air yang bermuara di telaga bening menyaksikan Khanza ... khusyuk dalam sujud syukurnya.
....
Cerahnya langit kota London siang ini, menaungi mantan istri Fairuz yang kini tengah duduk menanti di tepian sungai Thames. Sebuah sungai yang mengalir di sebelah selatan Inggris, menghubungkan London dengan laut.
Sesuai dengan permintaan Fairuz, Abimana dan Kirana mengantarkan pria paruh baya itu untuk bertemu dengan Nabila, mantan istri yang pernah disia-siakannya.
"Assalamu'alaikum, Bil."
__ADS_1
Ucapan salam Fairuz mengalihkan perhatian Nabila yang semula tertuju pada jernihnya air sungai Thames. Wanita itu berusaha mengulas senyum setipis kertas meski hatinya masih terasa lara. Andai Nabila sudah mengetahui bahwa sang putra telah terbangun dari komanya, mungkin lara yang terasa akan menguap berganti dengan kebahagiaan.
"Wa'alaikumsalam Mas," jawabnya tanpa memudar senyum.
Entah terbuat dari apa hati wanita itu. Meski berulang kali disakiti, tiada kebencian dan dendam yang terbesit di dalam hatinya. Bahkan seulas senyum masih tersuguh untuk sang mantan suami. Sungguh, rasa sesal dan rasa bersalah kian menyiksa Fairuz sebab pernah menorehkan luka di hati sesosok wanita yang pernah menjadi pendamping hidupnya itu.
Fairuz memutar kursi rodanya, membawa tubuh yang sudah tak berpenyangga itu mendekat ke arah Nabila.
"Mas, kakimu?" Nabila sangat terkejut ketika menyadari bahwa mantan suaminya sudah tidak memiliki sepasang kaki. Hatinya terasa perih kala melihat sang mantan suami yang dulu gagah kini hanya bisa mengandalkan kursi roda sebagai penopang tubuhnya.
Fairuz tersenyum getir. Ia menghela nafas dalam, menepis rasa sesak yang tetiba hadir.
"Sekarang, aku hanyalah seorang pria cacat, Bil. Kedua kakiku dipotong oleh Douglass dan Clarisa. Bukan hanya itu. Mereka juga merampas semua hartaku. Perusahaan peninggalan ayah dijual mereka pada pengusaha asing ...."
"Yaa Allah, kenapa kejam sekali mereka kepada mu, Mas?"
"Apa yang mereka lakukan padaku, sebagai balasan atas dosa-dosa yang aku perbuat selama ini, Bil. Aku berdosa karena telah menyia-nyiakanmu dan putra kita. Balasan ini tidak setimpal, Bil. Bila dibandingkan penderitaanmu dan Rangga," tutur Fairuz dengan penuh penyesalan. Raut wajahnya terlihat sendu.
"Maafkan aku, Bil. Maaf atas segala kesalahan dan dosa-dosaku. Aku menyesal karena telah salah langkah. Aku menyesal karena telah membuang batu berlian dan malah memilih batu kerikil. Maaf Bil ... maaf," sambungnya. Fairuz tergugu. Segumpal penyesalan kini menggunung dan menghantam jiwanya yang rapuh.
"Mas, aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Namun, rasa kecewa ini belum mampu ku hempas," lirih Nabila sembari mengusap jejak air mata dengan jemari lentiknya.
"Bil, kamu memang seorang wanita yang berhati mulia. Mau memaafkan meski kesalahan dan dosaku teramat besar. Katakan padaku Bil, bagaimana caranya agar aku bisa menebus semua kesalahan dan dosa-dosa yang pernah ku perbuat selama ini."
__ADS_1
"Tobat nasuha, Mas. Bertobatlah pada Allah dan mintalah ampunan-Nya! Langitkan pinta pada Illahi, agar putra kita segera terbangun dari komanya."
Rasa haru menyapa sepasang suami istri yang berdiri tidak jauh dari Fairuz dan Nabila. Mereka ... Kirana dan Abimana.
Di sela-sela perbincangan Nabila dengan Fairuz, anak buah Abimana berlari ke arah mereka. Dia ... Johan. Karena baterai handphone kesayangannya lowbat, Johan memilih untuk langsung menemui tuannya itu.
"Tu-tuan. Tuan muda Rangga. Dia ...," ucap Johan dengan nafas tersengal-sengal.
"Rangga kenapa, Jo?" Raut wajah Abimana berubah pias. Begitu juga dengan Kirana. Mereka berpikir, sesuatu yang buruk telah terjadi pada sang menantu, Rangga Adithya Fairuz.
"Tuan muda Rangga, dia ...."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf baru bisa UP 😊🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤