
Happy reading 😘😘😘
"Ayah mau tau banget atau mau tau bingitz?"
"Mau tau banget, Lif."
"Hmmm, baiklah. Yuk, Ayah dan Bunda ikut Alif! Nanti, Ayah dan Bunda akan tau ... siapa yang membawa Alif ke rumah ini. Tapi, sebelumnya ... Ayah dan Bunda harus menutup mata dengan kain ini!" Alif mengeluarkan dua lembar kain dari saku celananya. Lalu menyerahkan kedua lembar kain itu pada Abimana dan Kirana.
"Kenapa, Ayah dan Bunda harus menutup mata, Lif?" tanya Kirana heran.
"Ada dech. Nanti, Ayah dan Bunda pasti akan tau jawabannya."
Tanpa melontarkan kalimat tanya lagi, Abimana dan Kirana menuruti permintaan Alif. Kedua paruh baya itu menutup sepasang netra mereka dengan kain yang diberikan oleh bocah berusia sepuluh tahun itu.
Alif meraih tangan Abimana dan Kirana. Lantas memandu kedua orang tua angkatnya itu berjalan menuju aula yang berada di dalam rumah.
"Nah, sudah sampai. Ayah dan Bunda bisa melepas kain penutupnya sekarang!"
Abimana dan Kirana segera menuruti perkataan Alif. Perlahan, keduanya melepas kain yang menutupi sepasang netra mereka.
"Loh, kog gelap Lif?" tanya yang terlisan dari bibir Kirana setelah sepasang netranya tak lagi tertutup kain.
Alif terkikik geli saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir ibu angkatnya itu.
"Dinyalain aja lampunya, Bund! Bunda tinggal menekan saklar lampu yang ada di dinding!" Bukan jawaban yang diberikan oleh Alif, melainkan kalimat perintah.
"Oiyaya." Kirana tersenyum ala iklan pasta gigi, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang mendominasi di kegelapan. Untung saja gigi Kirana rata dan rapi, andai giginya tongos atau dihiasi emas yang berjajar, mungkin Abimana dan Alif akan tergelak jika mereka melihatnya.
"Ayah saja yang menekan saklarnya Bund," sahut Abimana menawarkan diri.
KLIK
"Surpriseeeeeeee." Teriakan menggema memenuhi seisi ruangan, bersamaan dengan lampu yang menyala.
Abimana dan Kirana terkesiap tatkala mendapat kejutan dari keluarga besarnya. Kedua paruh baya itu tidak menyangka, ternyata tujuan Alif meminta mereka menutup mata, untuk memberi surprise yang luar biasa.
Keanu, Raina, Khanza, Rangga, Dylan, Dara, Alif, Chayra, Raikhan, Alya, Ikhsan, Alyra, Dhava, Rizqi, Oma Shella, Ratri, Arini, Ridwan, Hasan, Ilham, Suci, dan Annisa, bergantian memberi ucapan selamat serta pelukan hangat kepada Abimana dan Kirana.
Masya Allah, ternyata tokoh yang author ciptakan banyak banget, sampai-sampai terkadang si othor lupa nama mereka, dan harus membaca karya-karya sebelumnya terlebih dahulu. Tentunya, sebelum kembali memunculkan mereka, seperti saat ini. 😁
"Masya Allah, trimakasih sayang-sayangku. Kejutan yang kalian berikan sungguh luar biasa. Kami sangat terharu dan ... bahagia," ujar Kirana disertai netranya yang mulai mengembun.
"Kejutan ini belum seberapa Bunda. Ada beberapa kejutan lagi yang sedang menanti," sahut Khanza sembari melingkarkan tangannya di lengan terbuka sang bunda.
"Oya, apa itu Sayang?" tanya Kirana, antusias.
"Bund, di dalam rahim Khanza ... bukan hanya bersemayam satu malaikat kecil --" Khanza menjawab pertanyaan sang bunda sambil mengusap perutnya yang buncit.
"Itu artinya, putri bunda ... mengandung bayi kembar?"
"Iya Bunda. Di dalam rahim Khanza, bersemayam dua malaikat kecil. Calon cucu Ayah dan Bunda kembar."
"Masya Allah. Trimakasih yaa Roob atas segala anugerah yang Engkau berikan kepada kami." Kirana meraih tubuh putrinya dan membawanya ke dalam pelukan.
Tangan Khanza yang semula menjuntai diulurkannya untuk membalas pelukan sang bunda.
Kedua wanita berbeda generasi itu saling berpeluk, menumpahkan rasa bahagia yang tiada terkira.
__ADS_1
"Bunda. Bukan hanya Bunda saja yang ingin memeluk putri kita, tapi ayah juga ingin memeluknya."
Ucapan Abimana sukses mengalihkan atensi Kirana. Ia pun perlahan melerai pelukan.
"Za, selamat Sayang." Abimana mengulurkan tangan untuk memeluk tubuh putrinya.
"Trimakasih, Ayah." Khanza membalas pelukan sang ayah.
"Iya, Sayang," ucapnya sembari menghujani pucuk kepala Khanza dengan kecupan, sebagai ungkapan rasa sayang seorang ayah terhadap putrinya.
Titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata, jatuh tanpa permisi. Abimana, Kirana, dan seluruh keluarga besar mereka yang berada di ruangan itu, tak mampu lagi membendung luapan rasa haru yang membaur dengan rasa bahagia.
Abimana dan Khanza melerai pelukan. Lantas mereka menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.
"Ayah, Bunda, ada kejutan lagi dari kami," ujar Keanu diikuti senyuman yang terbit menghiasi wajah tampannya.
"Benarkah?" tanya yang terucap dari bibir Kirana.
"Iya Bunda." Keanu mengangguk samar tanpa memudar senyumnya yang menawan.
Manik mata Abimana dan Kirana berotasi sempurna ketika grub band kesayangan mereka muncul dari balik tirai. Grup band tersebut melantunkan lagu kenangan, ketika mereka masih berusia muda. Tepatnya, sebelum usia mereka mencapai angka tiga puluh tahun.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Wo-ho-oh
Wo-oh, wo-oh, wo-oh-ho
Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Oh-oh-ho-oh
Wo-oh-ho-oh
__ADS_1
Wo-oh-ho-ho-oh
Wo-ho-oh
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, wo-ho
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Suara tepuk tangan dan teriakan mengiringi berakhirnya lagu yang dilantunkan oleh sang vokalis.
"Mas Duta." Oma Shella berteriak sembari mengayun kaki menuju ke atas panggung. Wanita tua itu tetap saja heboh meski sudah menjadi nini-nini.
"Mas Duta, I miss you." Oma Shella memeluk erat tubuh Duta, hingga vokalis band itu merasa sesak.
"I miss you too, Oma." Duta membalas ucapan Oma Shella sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan wanita tua itu.
"Oma, inget umur!" Ikhsan berteriak diiringi tawanya yang menggema.
"Iya, inget umur Oma!" Keanu ikut bersuara.
Dengan berat hati, Oma Shella melepas pelukan diikuti suara decakan lirih yang keluar dari bibirnya.
Setelah lepas dari pelukan oma Shella, Duta sang vokalis ... kembali melantunkan lagu.
....
Saat terdengar adzan maghrib berkumandang, acara terjeda sejenak. Abimana dan keluarga besarnya, bergegas mengambil air wudhu lantas menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah.
Usai menjalankan ibadah sholat maghrib, acara kembali dimulai. Khanza mempersilahkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu, untuk duduk di kursi yang sudah disediakan dan menikmati menu makanan yang telah terhidang di meja saji.
"Jadi, siapa yang membawamu ke rumah ini, Lif?" Abimana melontarkan pertanyaan di sela-sela ritual makannya.
"Keanu dan Raina yang membawa Alif ke rumah ini, Yah." Keanu mewakili Alif, menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.
"Kenapa, kakek dan nenek Alif tidak ikut serta?"
"Kakek dan nenek sedang menghadiri acara di desa, Yah. Mereka menitipkan salam untuk Ayah dan Bunda. Insya Allah, lain waktu ... kakek dan nenek akan bersilaturahim, menemui Ayah dan Bunda," sahut Alif menjeda sejenak ritual makannya.
"Wa'alaikumsalam, salam kembali dari kami untuk kakek dan nenekmu, Lif. Jika kakek dan nenek ingin berangkat ke kota, segera beritahu Ayah atau Bunda ya, Lif. Supaya kami bisa meminta om Jo untuk menjemput mereka," tutur Kirana sambil mengusap lembut surai hitam putra angkatnya.
Alif mengangguk mantab diikuti senyuman yang membingkai wajah.
Setelah acara makan bersama selesai, Abimana dan Kirana kembali mendapatkan kejutan.
Ehem, kira-kira kejutan apa lagi yang akan mereka terima??? 😉
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤