Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Penyatuan Raga


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Dylan mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Lantas ia belai rikma sang kekasih halal yang panjang tergerai dan kembali berucap, "Yang, kamu marah ya? Maafkan aku! Aku berjanji nggak akan lagi menemui Milea, ataupun ber-empati pada wanita itu."


Perlahan, Dara membuka netranya yang semula terpejam. Ia mengulas senyum dan mengusap lembut pipi Dylan, suami yang teramat dicintainya.


"Aku nggak marah Bang."


Bibir Dylan melengkung. Ia raih tangan Dara lalu mencium buku-buku jari istrinya itu.


"Benarkah?"


"Heem." Dara mengangguk.


"Kalau begitu, kita lanjutkan yang tadi, yuk!"


"Aku nggak mau Bang," balasnya sambil menggeleng kepala.


"Kenapa, Yang?" tanya yang terlisan disertai raut wajah kecewa.


Dara kembali mengulas senyum, lantas ia menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh suaminya, "karena ... aku nggak bisa nolak, Bang. Aku telah menyerahkan hati dan jiwaku padamu. Jadi, miliki-lah aku sepenuhnya Bang."


Dara menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya yang kini terbalut lingerie warna merah maroon. Kemudian ia bangkit dari posisi berbaring, lalu mengalungkan tangannya di leher Dylan, pria yang telah halal menjamah setiap lekuk tubuhnya.


Raut wajah Dylan seketika berubah, diikuti seutas senyum yang menyiratkan makna.


"Yang, kamu semakin terlihat cantik ... mengenakan pakaian kurang bahan ini. Tapi, lebih cantik lagi jika ...." Dylan menggantung ucapannya lantas membisikkan kata-kata yang sukses membuat tubuh Dara meremang.


"Jika ... tanpa sehelai benang --"


"Bang Dylan o-mes ihhh." Dara mencubit perut Dylan. Bukannya mengaduh, Dylan malah tergelak.


"Yang, dari mana Sayang mendapatkan lingerie ini? Atau, Sayang sudah mempersiapkannya, spesial untuk malam pertama kita, hmmm?" tanyanya sembari mengangkat dagu sang kekasih halal.

__ADS_1


"Jangan ke-GR an dech Bang! Tadi, aku menunggu Abang sambil membuka beberapa kado dari para tamu. Salah satunya dari nyai Nofi dan teman-temannya. Ternyata kado mereka berisi lingerie, tisu ajaib, dan selembar kertas yang bertuliskan do'a sebelum bersenggama --"


"Hmmm, mereka memang para tamu yang paling mengerti kebutuhan pengantin baru, Yang."


"Iya Bang. Mereka sepertinya tau jika Abang belum hafal do'a sebelum bersenggama," sindirnya sembari terkikik geli melihat raut wajah sang suami yang seketika berubah. Kentara sekali, Dylan tengah mati gaya mendengar ucapannya. Dara teringat jika tadi sebelum mereka memulai bercinta, suaminya itu belum membaca do'a.


"Iya juga sih Yang. Bukannya belum hafal, tapi tergesa-gesa ingin segera merasakan kenikmatan hakiki, mereguk surga dunia bersamamu Yang. Karena terlupa, makanya ada syaiton yang mengganggu ritual kita tadi ya?" Dylan tersenyum nyengir dan menggaruk kepalanya meski sama sekali tidak terasa gatal.


Dara menerbitkan senyum. Ia raih tangan Dylan lantas meletakkan di atas kepalanya.


"Bang, sekarang lantunkanlah do'a sebelum kita memulai ritual penyatuan raga supaya mendapat keridhoan-Nya dan terhindar dari gangguan syaiton!" pintanya sembari menatap lekat netra yang memancarkan keteduhan.


Dylan tersenyum. Ia membalas tatapan sang kekasih hati dengan tak kalah lekat. Lantas ia pun membaca doa sebelum bersenggama.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan Engkau rezekikan kepada kami."


Usai membaca do'a, Dylan mengecup lama kening istrinya. Ia selami rasa yang semakin menggelora, menuntun jiwa untuk segera merengkuh kenikmatan hakiki.


Dengan lembut, Dylan menjamah seluruh harta sang kekasih halal yang begitu indah. Ia kecup mesra dan meninggalkan jejak cinta di setiap lekuk sebagai tanda kepemilikan.


Nada-nada cinta mulai mengalun merdu dari bibir ranumnya ketika Dylan menghujamkan benda tumpul, merobek bagian tubuh yang selama ini ia jaga kesuciannya. Sakit, perih. Namun sangat nikmat.


Kenikmatan yang terengkuh saat ini tak mampu dilisankan dengan kata-kata. Namun hanya mampu Dara dan Dylan luapkan dengan erangan lembut.


"Abang ...."


"Sayang ...." Dylan berkali-kali menghujam tubuh Dara. Menuntaskan hasrat. Mengaliri tubuh sang kekasih dengan air surga.


"Trimakasih Sayang." Dylan memeluk erat tubuh Dara lalu mengecup lama pucuk kepala istrinya itu. Ia tumpahkan rasa cinta yang kini semakin bertambah setelah raga mereka menyatu.


Dara menerbitkan seutas senyum. Ia benamkan kepalanya di dada bidang Dylan. Nyaman. Dara merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasa.


"Bang, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah menduakan aku, Bang. Karena ... aku bukanlah wanita yang mampu berbagi cinta. Aku ... aku hanya wanita biasa yang ingin menjadi satu-satunya istrimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Aku berjanji, apapun yang terjadi ... aku akan selalu menjadikanmu satu-satunya istriku."

__ADS_1


Keduanya kembali memagutkan bibir, menyesap madu sebelum kembali mengarungi samudra cinta, mereguk kenikmatan yang ingin selalu terengkuh.


....


Sesuai dengan ucapan yang terlisan, Kirana mengantar Milea ke kediaman Danubrata setelah ia menghubungi Rossa, ibunda Milea. Kirana tidak sendiri. Namun ia ditemani oleh suaminya, Abimana Surya Saputra.


Sesampainya di kediaman Danubrata, mereka disambut hangat oleh Danu dan sang istri.


Sebelum mempersilahkan Abimana dan Kirana masuk ke dalam rumah, Danu memerintahkan salah seorang anak buahnya yang bernama Rizqi untuk mengangkat tubuh sang putri dan membawanya ke kamar.


"Sebelumnya, kami meminta maaf jika kedatangan kami ini bukan sekedar mengantar Milea. Namun, kami memiliki tujuan lain," tutur Abimana mulai membuka suara, setelah ia dan Kirana beserta kedua tuan rumah duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Kami seharusnya yang meminta maaf, sebab putri kami selalu merepotkan keluarga Mas Abim, terutama Dylan," ujar Danu seraya membalas ucapan Abimana.


"Begini Mas Danu, maaf jika saya lancang. Sebenarnya sebelum pingsan, Milea mengatakan bahwa pernikahannya dengan Jordan tidak bahagia. Jordan tidak memperlakukan Milea sebagaimana mestinya seorang suami memperlakukan seorang istri dengan penuh kelembutan. Bahkan, setiap menginginkan penyatuan raga dengan Milea, Jordan selalu mengikat tangan dan kaki putri anda. Sebagai orang tua, apakah Mas Danu dan Mbak Rossa tidak merasa kasihan pada Milea? Seorang putri yang selalu berada dalam dekap kasih, kini malah mengalami siksaan, tekanan, dan beban batin. Mas Danu, Mbak Rossa, pernikahan yang hanya didasari oleh ambisi dan keegoan diri, terkadang malah akan menciptakan penderitaan. Meski kami bukan orang tua Milea, tetapi kami sangat ber-empati dan merasa prihatin dengan nasibnya. Oleh karena itu kami sangat berharap, Mas Danu dan Mbak Rossa berkenan mengulurkan tangan untuk merengkuh kembali Milea dalam dekap kasih sayang. Bantu Milea untuk terlepas dari penderitaan yang mengukung jiwanya," tutur Kirana panjang lebar dan tanpa ragu.


Seketika tangan Danu mengepal disertai netra yang terbingkai kabut amarah tatkala Kirana selesai bertutur. Pria paruh baya itu merasa tidak terima ... mengetahui putrinya diperlakukan seperti seorang wanita pemuas naf-su. Bukan seorang istri yang semestinya diperlakukan dengan sangat manis dan penuh kelembutan.


BRAKKK


Danu menggebrak meja, meluapkan kobaran api amarah yang menguasai jiwa ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Akhirnya selesai juga nulis bab. nya. Seharian baru dapat satu bab, lemot sekali kan akuh 🤧🤧🤧


Maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2