Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Nadia?


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Farhan sangat mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Reni. Lantas ia pun kembali merengkuh tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.


"Sayang, aa' harap ... kamu bersedia menunggu aa'. Jaga anak kita yang ada di dalam rahimmu! Sampai bertemu sepuluh tahun lagi," bisiknya.


Usai membisikkan kata-kata yang membuat hati Reni tergetar, Farhan mengurai pelukan. Lalu ia labuhkan kecupan dalam di kening istrinya itu.


"Abah, Ummi, saya titip Reni dan calon anak kami. Do'akan semoga kami bisa melewati masa-masa sulit ini," pinta Farhan, kemudian ia mencium punggung tangan Abdullah.


"Kami akan menjaga istri dan calon anak kalian, Han. Selama di dalam penjara, pelajarilah ilmu agama! Abah sudah meminta ustadz Zaki untuk sering mengunjungi dan membimbingmu. Abah juga sudah meminta dokter Paula untuk membantu menyembuhkan penyakitmu," tutur Abdullah sambil mengusap kepala Farhan dan memberi pelukan singkat.


"Ummi, Farhan pamit. Jaga kesehatan Ummi, jangan sampai ikut sakit." Farhan mencium punggung tangan Salimah. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah. Salimah pun mengusap kepala sang putra dan memberi pelukan.


Tangan Farhan yang semula menjuntai, diulurkannya untuk membalas pelukan Salimah.


Ibu dan anak itu saling berpeluk erat, seolah enggan berpisah.


"Farhan, sudah waktunya kembali," ucap salah seorang anggota polisi yang bernama Imam, menginterupsi.


Perlahan, Farhan dan Salimah mengurai pelukan.


Setelah mengucap salam, Farhan mengayun tungkai, meninggalkan istri dan kedua orang tuanya.


Tanpa terasa, air mata Reni kembali menetes ketika melepas kepergian suami yang tak diinginkannya. Entah mengapa, ia merasa berat berpisah dengan Farhan, meski hatinya masih membenci.


....


Di bawah naungan langit yang terhias senyum sang rembulan, keluarga Abimana berkumpul di rooftop cafe K & R. Mereka bercengkrama sembari menikmati hidangan yang tersaji.


Di sela-sela obrolan ringan, Abimana menyelipkan permintaan agar Dylan segera pindah ke rumah utama dan kembali menjadi CEO di Surya Group. Dengan berat hati, Dylan memutuskan untuk menyanggupi permintaan sang ayah.


Dara pun memberi dukungan. Bukan karena ia ingin hidup bergelimang harta. Sama sekali bukan. Yang Dara inginkan hanyalah agar Dylan bisa berbakti pada kedua orang tuanya dengan cara ... menjaga harta dan tahta yang telah diamanahkan.


Dengan ikhlas hati dan tanpa terselip rasa iri, Keanu, Raina, Khanza, dan Rangga mendukung keputusan Dylan. Bahkan, mereka sangat berterima kasih kepada si adik bungsu yang telah bersedia menggantikan posisi Abimana di Surya Group.


Mesin waktu menunjuk pukul sepuluh malam, Abimana beserta keluarga pulang ke rumah utama. Rumah yang dipenuhi oleh kenangan indah.


Sesampainya di rumah utama, mereka disambut oleh Inah dan Udin yang sedang menggendong si kembar. Keduanya nampak kuwalahan menenangkan baby Azzam dan baby Humaira.


"Nyahmud, baby Azzam dan baby Humaira tidak mau minum susu yang Nyahmud siapkan. Saya dan Udin sampai kuwalahan menenangkan mereka," keluh Inah sembari menyerahkan baby Azzam pada Khanza. Sedangkan Udin menyerahkan baby Humaira pada Rangga.

__ADS_1


"Sudah dari tadi nangisnya?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza. Ia berusaha menenangkan baby Azzam dengan cara mendekap dan mengusap punggung putranya itu. Rangga pun melakukan hal yang sama dengan Khanza, mendekap dan mengusap punggung putrinya, Humaira.


"Belum lama sih, Nyah. Cuma saya heran, kog tangis baby Azzam dan baby Humaira berbeda dari biasanya," ujar Inah seraya menjawab pertanyaan sang majikan.


"Berbeda bagaimana?" tanya Khanza, heran.


"Ya, berbeda Nyah. Seperti melihat sesuatu yang tak kasat mata." Inah bergidik ngeri.


"Haisssh, Bi Inah sukanya ngadi-ngadi," sungut Khanza.


Kirana berjalan mendekat. Lantas mengusap kepala baby Azzam dan baby Humaira dengan penuh kelembutan.


"Za, Ngga, bawa baby Azzam dan baby Humaira ke kamar! Mungkin mereka belum terbiasa dengan suasana di rumah ini. Jadi, mereka agak rewel," tutur Kirana menenangkan.


"Baik Bund. Kami ke kamar dulu ya?" pamit Khanza.


"Iya Sayang," sahut Kirana disertai lengkungan bibir.


Khanza dan Rangga masuk ke dalam kamar. Begitu pun Keanu, Dylan, Abimana, beserta pasangan mereka masing-masing. Sedangkan Inah dan Udin, melanjutkan obrolan yang terpangkas, di bawah naungan langit malam.


....


Setengah jam telah berlalu. Baby Azzam dan baby Humaira kembali terlelap. Rangga dan Khanza merebahkan tubuh di atas ranjang sambil bercengkrama.


"Pi, memangnya ... siapa pejabat yang mengundang Papi ke Bandung?" tanya Khanza dipenuhi rasa ingin tahu.


"Beliau om Fariz. Ayahnya Nadia. Papi heran Mi, dari mana om Fariz tahu bahwa papi ... owner Go Sukses," jawab Rangga berterus terang.


Khanza terhenyak kala Rangga menyebut nama Nadia. Pasalnya, ketika mereka masih duduk di bangku SMA, Nadia sering bertingkah hanya untuk mendapat perhatian dari Rangga.


"Nadia? Nadia teman kita SMA, Pi?" Khanza menautkan kedua pangkal alis dan menyorot manik mata Rangga.


"Iya Mi. Nadia Azkana," jawabnya malas.


"Sudah ku bedek, Pi." Khanza merengut. Lantas memutar tubuh, memunggungi suaminya.


"Ngapain juga sih om Fariz mengundang Papi ke Bandung? Jangan-jangan ada udang di balik bakwan."


Rangga terkekeh. Dipeluknya tubuh sang istri dengan erat. "Mommy cemburu, ya?"


"Nggak. Ngapain juga cemburu?" ketusnya.


"Beneran nich nggak cemburu?"

__ADS_1


"Hmmm."


"Kalau Mommy beneran nggak cemburu, papi jadi ke Bandung lho," ujar Rangga menggoda istrinya yang kentara sekali memang tengah dilanda cemburu.


"Serah, Pi. Nggak pulang juga nggak pa-pa."


"Kog gitu sih Mi?"


"Dah lah. Sana tidur di luar! Aku capek, Ngga." Khanza sedikit meninggikan intonasi suara dan menyebut suaminya dengan nama 'Ngga'. Pertanda, bahwa ia tengah diselimuti hawa panas.


"Maaf, Mi. Papi hanya bercanda." Rangga mengurai pelukan lalu memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan.


"Bercandamu sama sekali nggak lucu, Ngga."


"Kog manggilnya Ngga, sih? Kurang sweet Mi."


Khanza memutar bola mata malas. Ia jengah dengan candaan Rangga yang jauh dari kata lucu. Alih-alih menjawab pertanyaan Rangga, Khanza malah berkilah.


"Aku bener-bener ngantuk. Mau tidur,"


Rangga menerbitkan senyum. Ia tatap wajah Khanza dengan intens.


"Mi, jangan marah lagi ya! Dan ... jangan cemburu. Insya Allah, papi nggak akan ke Bandung memenuhi undangan om Fariz." Rangga mengangkat dagu Khanza dan melabuhkan kecupan di bibir ranum istrinya yang tengah merajuk itu.


"Sebenarnya, apa tujuan om Fariz mengundang Papi ke Bandung?" Khanza mulai luluh. Ia melisankan tanya dan membalas tatapan Rangga.


"Om Fariz ingin memberi bantuan berupa dua ratus sepeda motor listrik keluaran terbaru untuk driver yang bekerja di bawah naungan Go Sukses. Papi berpikir, bantuan om Fariz akan sangat berguna bagi para driver yang memang membutuhkannya, Mi. Tapi sayang, om Fariz ingin bertemu dengan papi langsung dan nggak menerima perwakilan," terang Rangga.


Khanza menghembus nafas kasar. Ia merasa gamang sekaligus dilema. Mengijinkan suaminya untuk pergi ke Bandung atau menahannya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Maaf jika episode kali ini kurang dapet feelnya. Kepala si othor cenat cenut lagi 🤦‍♀️


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2