
Obat rindu bag. 2
Happy reading 😘😘😘
Mesin waktu menunjuk pukul sepuluh malam. Khanza terjaga dari tidur karena merasa perutnya sangat lapar. Ia ingin sekali memakan buah pisang. Tetapi pisang bukan sembarang pisang. Melainkan pisang yang langsung dipetik dari pohonnya.
Ia pun beranjak dari posisi berbaring lantas membawa tubuhnya untuk duduk di pangkuan Rangga yang masih fokus menatap layar datar. Akhir-akhir ini Rangga teramat sibuk karena ia berencana untuk membuka cabang perusahaan Go-Sukses di Jakarta. Selain itu, kafe yang dikelolanya bertambah ramai. Sehingga mau tidak mau, Rangga harus bekerja ekstra.
Khanza mengalungkan tangannya di leher Rangga. Lalu ia tatap netra yang terbingkai kaca mata dengan tatapan intens. "Pi, mommy lapar," cicit Khanza dengan nada suara yang terdengar manja.
Rangga menerbitkan senyum lalu menutup laptopnya demi mengacuhkan sang istri tercinta, Saqueena Khanza Humaira. Ia pun menanggalkan kaca mata kemudian menaruhnya di atas meja.
"Mommy ingin makan apa? Mau papi masakin nasi goreng?"
Khanza menggeleng diikuti gerakan bibirnya yang membentuk kerucut.
"Mommy nggak mau makan nasi goreng, Pi?"
"Terus, Mommy ingin makan apa, hmm?" Rangga melingkarkan tangannya di pinggang Khanza. Lantas ia hujani pipi dan ceruk leher kekasih halalnya itu dengan kecupan mesra. Tubuh Khanza seketika meremang saat bibir Rangga menyentuh ceruk lehernya.
"Pi, mommy ingin makan buah pisang," jawabnya.
"Kan di kulkas ada, Mi. Kalau nggak mau yang di kulkas, bagaimana jika pisang spesialnya papi? Dijamin enak dan pastinya membuat Mommy ketagihan," ujarnya sambil menaik turunkan kedua alis seraya menggoda Khanza.
"Dasar suami o-mes." Bibir Khanza mencebik diikuti gerakan manik matanya yang berotasi dengan malas.
"Meski o-mes, Mommy cinta banget 'kan?" Rangga mengerlingkan netra lalu mengecup singkat bibir ranum istrinya.
"Hmmm, iya. Cinta banget banget banget bangettttt," jawabnya dengan memasang wajah datar, tanpa menyungging seutas senyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah, papi juga cinta banget banget banget bangettttt. Nggak ada wanita yang mampu membuat papi jatuh cinta selain Mommy, Dokter Saqueena Khanza Humaira."
"Gombal amoh, Pi." Rangga tergelak mendengar ucapan Khanza yang sukses menggelitik telinga.
"Bukan gombal Mukiyo, Mi?"
"Bukan. Mukiyo sudah diganti oleh Mukidi karena pergi nggak balik-balik." Jawaban Khanza yang terkesan asal membuat Rangga kembali tergelak.
"Pi, mommy benar-benar ingin makan buah pisang malam ini.Tapi, mommy inginnya buah pisang yang langsung dipetik dari pohonnya Pi," lanjutnya.
"Harus malam ini ya Mi? Kalau besok pagi, bagaimana?"
"Iya Pi, harus malam ini. Nggak mau jika harus menunggu sampai besok pagi. Apalagi besok lusa."
Rangga menghela nafas berat dan sejenak berpikir. Baginya, tidak masalah jika harus menuruti permintaan istrinya. Apalagi hanya memetik buah pisang. Namun, hari sudah gelap. Rangga teringat ucapan seseorang sewaktu dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kata orang itu, pohon pisang ada penunggunya, sesosok makhluk tak kasat mata yang biasa disebut 'Mas Poci'. Andai penunggunya bukanlah sesosok makhluk gaib, Rangga akan mentraktir secangkir kopi sebagai ucapan terima kasih. Tapi, bagaimana jika benar penunggunya sesosok makhluk berbalut kain putih? Bukannya kata terima kasih yang terucap dari bibir Rangga. Melainkan ayat pengusir setan.
Rangga pun bergidik ngeri kala membayangkan bertemu dengan mas poci. Ingin menolak permintaan Khanza, tetapi ia sangat faham bahwa permintaan istrinya yang tengah hamil itu, bagaikan titah seorang ratu. Tidak boleh ditolak dan wajib ain dilaksanakan.
"Nggak pa-pa, Mi. Baiklah, papi akan petikkan buah pisangnya sekarang juga. Tapi, Mommy di rumah saja ya! Papi akan minta pak Udin untuk menemani."
Khanza mengangguk dan menerbitkan senyum disertai binar bahagia yang terlukis jelas di wajahnya. "Trimakasih, Pi. Mommy senennggg banget. Mommy akan setia menunggu di rumah," sahutnya. Khanza lantas menghadiahi kecupan di bibir Rangga sebagai ungkapan terima kasih.
....
Setelah meminta ijin pada pemilik kebun, Rangga dan Udin mulai memetik buah pisang. Mereka memetik buah pisang dengan cara menebang batang pohon pisang dengan menggunakan golok.
Rangga mengerutkan dahi ketika mendapati wajah Udin tiba-tiba berubah pias. Bahkan tubuh pria itu berguncang hebat, seolah ia sedang melihat sesuatu yang menakutkan.
"Ada apa, Pak Udin? Kenapa sepertinya, Bapak sangat ketakutan?"
Dengan bibir bergetar, Udin menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh sang majikan. "I-itu Den. A-ada dua mas poci. Mereka berjalan mendekat." Udin menunjuk objek yang dimaksud dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Rangga menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Udin. Dan benar saja. Dua sosok berpakaian serba putih tengah berjalan mendekat. Seketika, Rangga membaca ayat kursi dengan memejamkan mata.
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.
Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih.Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa. Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim."
Usai membaca ayat kursi, Rangga membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia sungguh terkejut, makhluk berpakaian serba putih itu bukannya menghilang, tetapi malah berjalan mendekat.
Detik berikutnya, dua makhluk yang disangka mas poci itu pun tersenyum dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum Mas Rangga, Bang Udin," sapa keduanya.
"Wa-wa'alaikumsalam." Rangga dan Udin menjawab dengan kompak. Keduanya saling berpandangan dan menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal. Rupanya, objek yang mereka sangka penampakkan mas poci adalah Halimah dan Aisya yang mengenakan pakaian serba putih. Kedua wanita itu baru saja menghadiri pengajian rutin setiap malam selasa kliwon di masjid Fathul Ikhsan.
"Mas Rangga dan Bang Udin, kenapa malam-malam begini berada di kebun kyai Hamid?" tanya Halimah heran.
"Mmm ... istri saya ngidam buah pisang, Bu. Jadi mau tidak mau, saya harus memetiknya malam ini juga," jawab Rangga dengan mengulas senyum ramah.
Halimah dan Aisya manggut-manggut. Lantas mereka kembali mengucap salam sebelum beranjak pergi dari hadapan Rangga dan Udin.
Sepeninggal Halimah dan Aisya, kedua pria berbeda generasi itu tertawa terpingkal-pingkal menertawakan kekonyolan mereka sendiri, yang menyangka Halimah dan Aisya ... 'mas poci'.
Namun tawa mereka seketika terhenti, saat terdengar suara yang mirip dengan tawa mbak Kunkun.
"Kaboorrrrrr," teriak keduanya sebelum berlari meninggalkan kebun kyai Hamid.
🌹🌹🌹🌹
Mon maaf jika bertebaran typo yang meresahkan 😉🙏
Salam rindu dan banyak cinta teruntuk kakak-kakak ter love 😘😘😘😘
__ADS_1