Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Seorang Pendosa


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Helaan nafas lega terdengar, ketika Annisa tidak menemukan luka yang teramat serius pada tubuh Rudi.


"Bagaimana keadaannya, Sayang?" tanya yang terlisan dari bibir Ilham setelah putrinya selesai memeriksa Rudi.


"Alhamdulillah, tidak ada luka yang perlu dikhawatirkan, Bi. Namun jika Abi kurang yakin, besok pagi ... Abi bisa membawa pria ini ke rumah sakit."


"Baiklah Sayang."


"Bi, Nisa kembali ke kamar ya? Abi segeralah beristirahat! Jaga kesehatan Abi! Karena kesehatan itu terkadang tidak bisa ditebus dengan uang atau harta lainnya."


"Iya Sayang. Sebentar lagi, Abi akan kembali ke kamar untuk beristirahat. Abi takut kena omelan Dokter Nabila Annisa Chairanie, putri kesayangan Abi dan Ummi," tutur Ilham disertai lengkungan bibir dan uluran tangan untuk mengusap jilbab sang putri.


Annisa tersenyum dan mengecup punggung tangan abinya dengan takzim lantas ia mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Abi."


"Wa'alaikumsalam, putrinya Abi."


Setelah mendapat balasan salam dari abinya, Annisa memutar tumit lantas mengayun kaki menuju kamarnya.


....


Sinar mentari pagi menyelusup melalui celah-celah jendela. Memberikan cahaya terang pada ruangan yang semula temaram. Memaksa netra yang masih setia terpejam agar segera terbuka.


Rudi menggerak-gerakkan kelopak netranya yang terasa begitu berat karena sensasi rasa pening di kepalanya belum juga mereda, diikuti suara perut yang meronta-ronta karena sedari kemarin siang menahan lapar dan dahaga.


Netra Rudi memicing menyesuaikan cahaya mentari yang memenuhi ruangan. Lantas, ia mengedar pandangan ke segala arah.


Seketika Rudi mengernyitkan dahi saat menyadari bahwa ia berada di tempat yang sangat asing. Bukan di apartemen Dahlia ataupun di jalanan.


Di dalam benak terlisan tanya, "aku berada di mana?"


"Assalamu'alaikum, Mas. Alhamdulillah, Mase sudah bangun tho." Arum menyapa Rudi dengan gayanya yang kemayu.


Rudi bergeming. Ia semakin dibuat bertanya-tanya dengan kedatangan sesosok wanita yang sama sekali tidak dikenalnya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Rudi disertai tatapan menyelidik. Perlahan, ia bangkit dari posisinya berbaring lalu menyandarkan punggungnya pada heard board.


"Ealah, pemuda jaman sekarang. Bukannya membalas salam, malah langsung bertanya siapa saya. Mbothen sabar ingin mengenal Arum lebih dekat ya Mas?" ujarnya diikuti kerlingan mata.


"Maaf, saya benar-benar serius bertanya. Siapa anda dan saya ... berada di mana? Bukankah, kemarin saya tergeletak di jalanan?"


Arum mengulas senyum lalu duduk di kursi yang berada di sisi ranjang. Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rudi, Arum malah memperkenalkan diri dengan suara dan gayanya yang menyerupai princes Syahrinieee.


"Perkenalkan, nama saya Arum. Nama panjang saya, Arum similikiti nemplok'i demiti. Alias ... Arum Nur Cahyaningtyas Kesuma Wati Princes Syahrinieee. Kalau boleh dek Arum tau, siapa nama Mas ganteng? Kata orang, kalau belum kenal maka ta'aruf, Mas. Dengan ikhlas hati, dek Arum bersedia jika Mas ganteng mau ta'aruf. Supaya kita bisa saling mengenal. Terus ... sah."


Rudi bergidik. Di dalam batin ia mengucap mantra "Mit amit jabang bayi". Tak terbayang olehnya jika mempunyai seorang istri seperti Arum.


Dengan terpaksa Rudi menerbitkan seutas senyum dan berganti memperkenalkan diri. "Nama saya Rudi, Mbak. Rudi Hardiansyah."


"Wahhhh nama yang keren, Mas. Nama Mas ganteng mengingatkan saya pada seseorang yang pernah singgah di hati. Namun, dia tiba-tiba menghilang entah ke mana. Meninggalkan calon istrinya ini yang selalu merindu. Hahhh, tapi yowes lah. Mungkin dia bukan jodoh saya. Siapa tau, jodoh saya Mas Rudi Worwor. Eh ralat ... Mas Rudi Hardiansyah yang gantengnya seperti malaikat --"


"Ehemmm." Celotehan Arum terpangkas saat terdengar suara deheman yang berasal dari seseorang yang sangat familiar.


Seketika, Rudi dan Arum merotasikan kepala ke arah sumber suara.


"Eh, Ustadz. Monggo Tadz. Kog mboten ngucap salam, lho? Yasudah, kalau begitu ... saya saja yang mengucap salam. Assalamu'alaikum, Ustadz Ilham."


Arum cengar-cengir saat mendengar kalimat sindiran yang terlontar dari bibir sang ustadz.


"Sudah, Tadz." Arum sedikit merendahkan suara. Namun tidak mengurangi kesan kemayu.


"Rum, jika laki-laki dan perempuan berada di dalam satu ruangan, maka akan ada --"


"Ada syaiton sebagai pihak ke tiga, Tadz," ujarnya menginterupsi, diikuti pandangan netranya yang tertuju pada Ilham.


Ilham mengelus dada. Ia berusaha bersabar menghadapi santriwatinya yang sangat unik itu. Selain comel, Arum juga kurang sopan. Jauh berbeda dengan santriwan dan santriwatinya yang lain.


Sedangkan Rudi, pria itu nampak mati-matian menahan tawa yang hampir meledak karena mendengar celotehan Arum, yang sukses menggelitik indra pendengaran. Secara tidak langsung, Arum menyebut sang ustadz ... 'syaiton'.


Astaghfirullah, Rum. Untung Ustadz Ilham mempunyai stock sabar yang banyakkkkk. πŸ€¦β€β™€οΈ


"Rum, lebih baik ... kamu ke dapur membantu mbak Nisa dan ummi!" titah Ilham seraya ber-alibi, agar Arum segera meninggalkan ruangan.


"Njih Ustadz. Sendiko dawuh. Saya akan segera ke dapur membantu mbak Nisa dan ummi. Kalau begitu, saya titip Mas ganteng sebentar ya, Tadz."

__ADS_1


"Hemm."


"Assalamu'alaikum, Ustadz. Pay ... pay ... Mas Rudi ganteng calon imam Arum." Arum mengucap salam dan melambai-lambaikan tangannya.


"Wa'alaikumsalam." Ilham dan Rudi membalas ucapan salam Arum dengan kompak.


Setelah Arum keluar dari kamar, Ilham mendaratkan bobot tubuhnya di kursi. Lalu, ia memulai perbincangannya dengan Rudi.


"Nak Mas, perkenalkan ... nama saya Ilham. Jika boleh saya tau, siapa nama Nak Mas? Dan ... di mana tempat tinggal Nak Mas?"


"Nama saya Rudi, Ustadz. Rudi Hardiansyah. Saat ini, saya tidak mempunyai tempat tinggal," jawabnya diikuti helaan nafas berat.


Ilham menautkan kedua pangkal alisnya. Ia berusaha menelaah jawaban yang diberikan oleh Rudi.


Seolah mampu membaca pikiran sang ustadz, Rudi pun melanjutkan ucapannya.


"Dulu, saya tinggal di jalanan. Dan sekarang ... saya kembali ke jalanan, Tadz."


"Astaghfirullah hal'adzim. Coba Nak Rudi ceritakan kepada saya, mengenai apa yang sebenarnya terjadi! Dan apa maksud perkataan Nak Rudi ... 'kembali ke jalanan'?"


Rudi menghela nafas dalam, menghempas rasa sesak yang memenuhi ruang batin sebelum ia kembali bersuara. Rudi tidak lantas menjawab pertanyaan sang ustadz. Namun, ia mengaku bahwa dirinya seorang pendosa.


"Sebenarnya saya seorang pendosa, Ustadz. Selama ini, saya sering kali berbuat dosa besar. Terutama kepada almarhumah istri saya, Anjani. Seumur-umur, saya tidak pernah menjalankan ibadah selayaknya seorang muslim. Meski almarhumah istri saya selalu taat beribadah semasa hidupnya, hati saya sama sekali tidak tergerak. Saya tidak pantas mendapat ampunan dari-Nya. Saya juga tidak patut untuk dikasihani --" Rudi menjeda sejenak ucapannya dan kembali menghela nafas dalam. Kemudian, ia mulai menceritakan kisah hidupnya yang sangat kelam ....


"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab, kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan." (QS az-Zumar [39]:53-54).


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Masih tentang Rudi ya kakak-kakak. Insya Allah, kita kembali bertemu dengan Rangga dan Khanza di episode selanjutnya πŸ˜‰πŸ™


Mon maaf jika bertebaran typo πŸ˜‰πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like πŸ‘


Tekan ❀ untuk favoritkan karya


Kakak-kakak ter love, jangan lupa mendukung author remahan kulit bawang ini dengan memberikan Vote. Author berharap, dengan perantara Vote yang diberikan oleh kakak-kakak, level karya Pernikahan Tanpa Cinta akan naik dan tentunya semangat author yang sempat down, bisa bangkit lagi hingga kisah ini end. β˜ΊπŸ™

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❀


__ADS_2