Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Menangisi Rangga


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Khansa teramat sedih setelah mengetahui bahwa pria yang pernah mengejar-ngejar cintanya ternyata sudah menikah. Ia kehilangan semangat. Ingin sekali ia meluapkan rasa sesak dengan menangis dan mencurahkannya pada seseorang atau Illahi. Namun saat ini, bukanlah waktu yang tepat sebab ia masih berada di rumah sakit. Khanza tidak ingin semua orang tau ... ia tengah dirundung kesedihan, terutama Nabila. Ibunda Rangga.


Dengan beralasan tidak enak badan, Khanza berpamitan pada Nabila. Ia ingin pulang sebelum senja menyapa.


Adithya segera menggeber sepeda motornya menuju Rumah Sakit ICPA setelah menerima pesan singkat dari istrinya.


Begitu sampai di depan pintu rumah sakit tersebut, Adithya menghentikan laju sepeda motornya. Ia merasa heran ketika mendapati wajah istrinya terlihat muram.


Tanpa menunggu dipersilahkan oleh Adithya, Khanza mendaratkan tubuhnya di jok sepeda motor bagian belakang. Lantas ia meminta suaminya untuk segera menghidupkan mesin sepeda motor dan membawanya pergi ke suatu tempat.


....


"Sudah sampai," ucap Adithya sembari menghentikan laju sepeda motornya.


Tanpa membalas ucapan Adithya, Khanza segera membawa tubuhnya beranjak dari jok sepeda motor. Lantas berjalan di atas hamparan pasir pantai dengan bertelanjang kaki.


Khanza meraup udara sedalam-dalamnya untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Lara hati setelah mendengar kenyataan bahwa Rangga sudah menikah, terasa lebih sakit dibanding ketika menyaksikan pernikahan Albirru dengan Zahra.


"Ya Robb, kenapa sesakit ini?" Khanza menepuk-nepuk dadanya yang terasa semakin sesak. Bulir-bulir kesedihan yang sedari tadi ia tahan, kini jatuh membasahi wajah cantiknya.


Khanza terus berjalan tanpa memperhatikan arah. Hingga ia tidak menyadari gelombang air laut tengah mengintai.


"Khanza, awasssss!!!" Adithya meraih tubuh Khanza lantas membawanya menjauh dari bibir pantai.


"Za, sebenarnya apa yang sedang kamu lamunkan? Sampai-sampai, kamu terus berjalan ke arah tengah laut dan nggak memperhatikan gelombang yang siap menerjang tubuhmu --" Adithya melisankan tanya. Ia peluk tubuh istrinya dengan erat seraya mentransfer energi positif untuk memberi ketenangan.


"Dia ... dia sudah menikah, Dith --" Suara Khanza tercekat karena rasa sesak yang tidak juga menghilang, malah semakin bertambah.


Ulu hati Adithya terasa nyeri kala mendengar ucapan istrinya. Ia mengira, yang dimaksud oleh Khanza bukanlah Rangga, melainkan Albirru. "Di-dia? Dia siapa, Za?"


"Rangga. Rangga sudah menikah." Khanza membalas pelukan Adithya dengan tak kalah erat. Ia menenggelamkan wajahnya yang semakin basah di dada bidang Adithya.


Ada kelegaan menyelinap di relung rasa setelah mengetahui bahwa yang ditangisi oleh Khanza bukanlah Albirru, tetapi dirinya, Rangga Adithya Fairuz.


Di dalam benak, Adithya mengucap syukur. Ia teramat bahagia karena Khanza menangisinya. Menangisi Rangga Adithya Fairuz, pria yang tanpa letih mengejar cinta Saqueena Khanza Humaira.


Adithya mencium pucuk kepala istrinya sebagai ungkapan rasa cinta yang semakin mendalam.


"Dith, maaf --"


"Maaf? Untuk apa meminta maaf, Za?"


"Maaf karena aku menangisi pria lain --"


Senyuman terlukis di wajah Adithya saat mendengar jawaban yang terucap dari bibir istrinya. Ingin rasanya Adithya mengaku bahwa ia adalah Rangga, pria yang ditangisi oleh Khanza. Namun segera ia tepis. Adithya merasa, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Ia takut, Khanza malah membencinya dan memintanya untuk pergi menjauh. Adithya tidak siap dengan prasangka Khanza tentang dirinya.


"Dith --"


"Hemmm ...."


"Kamu nggak marah 'kan?"


"Aku nggak marah, Za. Aku selalu berusaha memaklumi mu"


"Trimakasih."


"Iya Sayang." Adithya kembali mendaratkan ciuman di pucuk kepala istrinya.


Khanza merasa damai berada dalam pelukan Adithya. Aroma tubuh pria yang berstatus sebagai suaminya itu sama persis dengan aroma tubuh Rangga.


"Za, lihatlah ... langit terlihat sangat indah," ucap Adithya sembari melerai pelukan. Kemudian ia seka jejak air mata yang membasahi wajah istrinya dengan jemari tangan.


Bibir Khanza melengkung ketika pandangan netranya tertuju pada keindahan langit yang tertoreh warna jingga.

__ADS_1


"Iya Dith. Sangat indah."


"Jangan bersedih lagi ya! Sekarang, ada aku yang akan selalu berada di sisimu, dikala suka maupun duka --"


"Heem. Trimakasih, Dith."


"Za, kamu suka jagung bakar?"


"Suka-lah. Kamu mau mentraktir ku?"


"Iya. Alhamdulillah, rejeki hari ini berlimpah. Kamu mau makan apa aja pasti aku turuti."


"Alhamdulillah. Pasti banyak customer ciwi yang nge-tips 'kan?"


"Iyalah, aku 'kan ganteng --"


"Isshhh, kumis mirip Pak Raden aja dibilang ganteng."


"Jangan salah. Justru kumis Pak Raden ini-lah, yang menjadi daya tarik --"


"Daya tarik?"


"Heem, daya tarik untuk segera melempar ku ke selokan ...."


Khanza tergelak mendengar celotehan suaminya. Raut wajah yang tadinya muram, kini tampak bercahaya.


Adithya menggenggam erat tangan Khanza lalu membawa wanita yang teramat ia cintai itu ke sebuah warung lesehan yang menyediakan jagung bakar dan wedang ronde.


Adithya memesan dua mangkuk wedang ronde dan dua buah jagung bakar rasa pedas manis.


Sembari menunggu pesanannya tersaji, Adithya meminjam gitar milik penjual jagung bakar. Ia pun memetik dawai gitar dan melantunkan lagu teruntuk kekasih hatinya, Saqueena Khanza Humaira ....


Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti

__ADS_1


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia, ha-ha


Ha-ah, ha-ha


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Khanza terpana melihat wajah Adithya ketika pria itu melantunkan lagu untuknya. Terbesit tanya di dalam hati, saat pandangan netranya menatap manik mata pria berkumis dan berjenggot lebat itu. Ia merasa sorot netra Adithya sangat mirip dengan Rangga. Namun Khanza segera menepis sebab takut jika saat ini ia tengah berhalusinasi ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Author mengucapkan ribuan trimakasih pada para pembaca yang telah memberikan gift berupa poin, koin, dan vote. Sungguh, author merasa terharu ... karya yang masih banyak kekurangannya ini mendapat apresiasi dari para pembaca. Othor berharap, semoga alur cerita Khanza tidak membosankan. 🤧🤧🤧🤧


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Komentar


Klik fav ❤


Beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat untuk author agar tetap berkarya 😇


Trimakasih dan banyakkkk cinta ❤😘

__ADS_1


__ADS_2