Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Istikharah


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Hati Dylan menghangat tatkala menyaksikan adegan yang tersuguh di hadapannya. Ia teramat kagum pada Dara, sahabat yang ia buang hanya demi mengejar cinta Milea, wanita yang sama sekali tidak pantas ia cintai.


Di dalam benaknya Dylan berjanji, akan menghempas perasaan cintanya terhadap Milea, dan membuka hati untuk gadis pilihan kedua orang tuanya, Dara Larasati.


Setelah melerai pelukan, Sari mengantar Dara ke kamar yang dahulu ditempati oleh almarhumah Nilam. Karena rumah Hadi hanya memiliki satu kamar kosong, pria paruh baya itu mempersilahkan Dylan untuk memilih tidur di kamarnya atau tidur di ruang tamu. Dylan merasa tidak enak hati jika tidur di kamar tuan rumah. Oleh karena itu, ia memilih tidur di ruang tamu beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Hadi memberikan bantal dan selimut tebal pada Dylan, agar pemuda berparas rupawan itu tidak terlalu kedinginan.


"Trimakasih Pak," ucapnya setelah menerima bantal dan selimut dari Hadi.


Hadi membalas ucapan Dylan dengan mengulas senyum dan mengangguk samar. "Sama-sama, Nak Dylan. Malam sudah semakin larut, lebih baik Nak Dylan segera beristirahat! Bapak minta maaf, karena tidak memiliki kamar kosong lagi sehingga Nak Dylan tidur di ruang tamu."


"Tidak apa-apa, Pak. Saya malah sangat berterimakasih karena Bapak sudah mengijinkan kami untuk bermalam di rumah ini."


"Kalau begitu, bapak ke kamar dulu, Nak Dylan."


"Injih, Pak. Monggo."


Hadi memutar tumit lantas membawa langkahnya menuju kamar, menemui sang kekasih halal yang sudah menantinya.


....


Dylan terbangun di sepertiga malam. Ia berniat menjalankan sholat istikharah untuk meminta petunjuk pada Illahi agar diberi pilihan terbaik dan dimantapkan hatinya supaya tidak salah melangkah.


Dengan perlahan, ia beranjak dari atas tikar. Kemudian ia bawa tubuhnya ke kamar mandi untuk bersuci.

__ADS_1


Setelah bersuci, Dylan membentangkan sajadah lalu memulai ritual ibadah sholat istikharah.


"Allahu Akbar." Dengan suara merdunya, Dylan melantunkan takbiratul ihram.


Di dalam kamar, Dara pun tengah memulai ritual sholat istikharah. Gadis itu terlihat khusyuk dalam ibadahnya.


Usai mengakhiri ritual sholat istikharah, mereka menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta kepada Illahi.


....


Di tempat yang berbeda, Abimana dan Kirana nampak gelisah. Meski rasa kantuk menyerang, akan tetapi netra mereka enggan terpejam. Sepasang suami istri itu sangat mengkhawatirkan sang putra dan Dara.


Puluhan kali keduanya berusaha menghubungi Dylan. Namun, puluhan kali itu juga mereka harus menelan kekecewaan dan semakin dihinggapi oleh rasa khawatir.


"Yah, sebenarnya ... di mana Dylan dan Dara berada? Apa yang mereka lakukan? Mengapa nomer handphone Dylan tidak aktif? Bunda sangat khawatir, Yah." Kirana menghujani suaminya dengan kalimat tanya.


Abimana mengulas senyum dan membawa istrinya ke dalam dekapan. Ia kecup lama kening Kirana seraya mentransfer energi positif agar wanita yang sangat dicintainya itu bisa merasa tenang.


"Aamiin yaa Allah," lirih Kirana seraya meng-amini ucapan suaminya.


Kirana merasa lebih tenang kala mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Abimana. Rasa khawatir yang berlebihan, kini mulai terkikis. Ia yakin dan percaya, Johan akan segera menemukan keberadaan Dylan dan Dara.


Tangan yang semula menjuntai, ia lingkarkan di pinggang sang suami lantas menenggelamkan kepalanya di dada bidang yang selalu mampu memberi rasa nyaman.


....


Arunika kembali menyapa berkawan kicauan burung-burung kecil. Tetesan air hujan semalam menebarkan bau basah, menyejukkan jiwa yang merindu sentuhan hangat sang mentari pagi.


Usai menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah, Dara membantu Sari menyiapkan sarapan. Keduanya memasak lauk pauk yang teramat sederhana. Sayur bayam, sambal terasi, tempe, dan tahu goreng.

__ADS_1


Sari dan Hadi tidak menyangka, ternyata kedua tamunya itu sangat menikmati lauk pauk tersebut. Bahkan, keduanya menghabiskan sarapan mereka hingga tandas.


Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kota, Dylan dan Dara berkunjung terlebih dahulu ke makam Nilam atas permintaan Sari. Mereka melangitkan pinta pada Illahi untuk kebahagiaan almarhumah Nilam di alam keabadian.


"Bu, kami mohon diri. Insya Allah, lain waktu kami akan mengunjungi Bapak dan Ibu lagi," pamit Dara sembari mencium punggung tangan Sari dan Hadi secara bergantian. Begitu juga Dylan. Pemuda bertubuh gagah itu melakukan hal yang sama dengan Dara.


"Hati-hati di jalan, Nak. Kami akan selalu menunggu kedatangan kalian. Salam untuk kedua orang tua Nak Dylan. Ibu titip Nak Dara, ya Nak! Jangan sampai kejadian serupa yang pernah dialami oleh putri ibu juga menimpa Nak Dara."


Dylan mengulas senyum. Lalu ia berucap dengan penuh kesungguhan, "saya berjanji akan selalu menjaga Dara, Bu. Insya Allah jika kami berjodoh, Bapak dan Ibu merupakan tamu pertama yang akan kami undang di hari pernikahan saya dan Dara."


DEG


Dara terkesiap kala mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Dylan. Lidahnya serasa kelu dan degup jantungnya terdengar bertalu-talu.


Di dalam hati Dara melangitkan pinta, semoga Illahi meng-ijabah ucapan Dylan, sahabat sekaligus pria yang selama ini mampu membuatnya jatuh cinta.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Huwaaaa maaf baru bisa UP. Because kerjaan di RL baru selesai πŸ₯ΊπŸ™


Maaf jika bertebaran typo πŸ˜‰πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like πŸ‘


Tekan ❀ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya πŸ˜‰

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❀


__ADS_2