Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Preeklampsia


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Mas Pandesa mengenal Paula?"


"Iya, saya mengenal Paula. Dia putri sahabat saya yang sekarang berprofesi sebagai seorang psikiater."


"Alhamdulillah jika Paula yang dimaksud mbak Kiran adalah putri sahabat Mas Pandesa. Lebih baik, kita segera menemui dokter Paula untuk berkonsultasi."


Rossa merasa sedikit lega sebab satu persatu permasalahan yang menimpa keluarganya ... terurai .....


....


Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, Dylan dan Dara tengah menikmati masa-masa indah berbulan madu. Keduanya memilih untuk berbulan madu di villa yang berada tidak jauh dari rumah Hadi dan Sari. Kedua paruh baya itu sangat senang ketika Dylan dan Dara kembali berkunjung ke rumah mereka.


"Nak Dylan, Nak Dara, selamat atas pernikahan kalian. Semoga sakinah, mawadah, warohmah. Langgeng sampai kaki nini. Mohon maaf, kemarin kami tidak bisa memenuhi undangan ananda berdua karena badan bapak kurang sehat," tutur Hadi membuka perbincangan.


"Trimakasih atas ucapan dan do'a Bapak. Semoga Allah mengijabah. Sebenarnya, saya dan Dara merasa ada yang kurang ketika Bapak dan Ibu tidak bisa menghadiri acara pernikahan kami. Namun, yang terpenting bagi kami ... Bapak segera diberikan kesehatan," ujar Dylan seraya membalas ucapan Hadi.


"Benar apa yang diucapkan oleh Bang Dylan, Pak. Yang terpenting Bapak segera sehat. Kasihan Ibu. Pasti Ibu sangat mengkhawatirkan Bapak. Ya 'kan Bu?" Dara turut bersuara sembari mengerlingkan netra dan melempar senyum ke arah wanita yang ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Sari tersenyum dan mengangguk pelan. Lantas ia menanggapi ucapan Dara dengan suaranya yang terdengar lembut. "Iya Sayang. Tentu saja ibu sangat mengkhawatirkan Bapak. Ibu tidak sanggup jika melihat Bapak merintih kesakitan karena asam lambungnya kambuh."


Perbincangan mereka terjeda ketika suara adzan berkumandang. Hadi, Sari, Dylan, dan Dara pun bersegera memenuhi panggilan Illahi, menunaikan ibadah sholat dzuhur berjamaah.


....


Hari ini merupakan hari pertama Khanza kembali bekerja. Ia merasa jenuh jika terus menerus berada di rumah. Apalagi ... ketika suaminya berangkat ke kantor. Suasana rumah terasa sepi. Di rumah, Khanza hanya ditemani oleh Inah dan Udin yang terkadang malah asik berduaan di taman belakang sembari bercengkrama, layaknya sepasang kekasih yang tengah berpacaran.


Setelah bernegosiasi dengan Rangga, pada akhirnya suami handsomenya itu mengalah. Rangga mengijinkan sang istri untuk kembali bekerja. Namun dengan satu syarat, Khanza tidak boleh bekerja hingga kelelahan.


"Selamat datang Dokter Khanza."

__ADS_1


Netra Khanza berkaca-kaca tatkala Nabila dan para rekan dokter memberi sambutan hangat disertai pelukan.


"Trimakasih Bunda dan sahabatku semua. Bagaimana kabar kalian?"


"Alhamdulillah, kabar kami baik Dokter Khanza," jawab Aisyah mewakili rekan dokter yang lain.


"Alhamdulillah."


"Bagaimana dengan kandunganmu, Za?" Aisyah berganti melontarkan kalimat tanya sambil mengusap perut sahabatnya yang sudah terlihat buncit.


"Alhamdulillah, kandunganku baik-baik saja Sya," jawabnya diikuti lengkungan bibir yang membentuk bulan sabit.


"Syukur Alhamdulillah, semoga kamu dan dedek bayi selalu diberi perlindungan dan kesehatan hingga tiba saatnya melahirkan," doa tulus Aisyah ... diamini oleh Khanza, Nabila, dan rekan dokter yang lain.


Percakapan mereka terpangkas ketika tiba-tiba seorang perawat yang bernama Rizma masuk ke dalam ruangan dengan nafas terengah-engah.


"Dok-dokter. Pasien atas nama nyonya Atikah, nyonya Meri, dan nyonya Anjani su-sudah waktunya melahirkan," ucapnya dengan terbata.


"Baiklah, kami akan segera menangani mereka. Siapkan tempat dan peralatan medisnya!" titah Nabila. Suaranya terdengar tegas.


Khanza dan Nabila bergegas menuju ruang operasi. Mereka akan menangani pasien yang bernama Anjani. Ibu muda itu mengalami preeklampsia selama masa kehamilannya karena tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.


"Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab nyonya Anjani mengalami preeklampsia, Sus?" tanya yang terlontar dari bibir Khanza. Ia sungguh merasa prihatin ketika melihat keadaan pasien yang akan ditangani olehnya dan Nabila.


"Begini Dok, nyonya Anjani sering mengalami stres karena suami yang sangat ia cintai bukannya siaga (siap, antar, jaga) tetapi malah sering menghabiskan waktu bersama sekretaris pribadinya," ujar Meri menjelaskan.


"Dari mana kamu tau, Sus? Jangan asal bicara, karena bisa menimbulkan fitnah," tandas Khanza. Ia sangat tidak suka mendengar seseorang asal bicara, apalagi jika yang diucapkan itu bukan suatu kebenaran.


"Saya tidak asal bicara, Dok. Karena, saya mengetahuinya sendiri."


"Benarkah?" tanya Khanza, meragu.


"Benar, Dok. Nyonya Anjani adalah majikan ibu saya. Jadi, saya dan ibu tau betul bagaimana kisah hidup nyonya Anjani yang teramat pelik." Meri menjawab pertanyaan Khanza tanpa ragu.

__ADS_1


"Sebenarnya, nyonya Anjani dan suaminya yang bernama tuan Rudi, sudah memiliki dua anak perempuan. Besar keinginan tuan Rudi, memiliki anak laki-laki. Namun kehendak Allah berkata lain. Hasil USG menunjukkan bahwa calon buah hatinya yang ketiga berjenis kelamin perempuan. Sejak mengetahui jenis kelamin calon buah hatinya yang ketiga, pribadi tuan Rudi berubah. Ia teramat marah. Hatinya tidak bisa ikhlas menerima kenyataan. Setiap malam tuan Rudi menghabiskan waktu dengan sekretaris pribadinya sembari meneguk minuman memabukkan. Keduanya melakukan zina di kantor. Seolah mereka tidak mengenal dosa," sambungnya diikuti hembusan nafas kasar.


Khanza dan Nabila menghela nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kedua wanita itu berusaha menghalau rasa nyeri di ulu hati tatkala mendengar cerita tentang Anjani.


Pada kenyataannya, sosok Anjani bukan hanya ada di dunia halu. Di real life pun si othor pernah mendapati seorang wanita yang kisah hidupnya hampir sama dengan Anjani. Naudzubillah.


"Sudah ya Sus, yang cerita! Kita mulai operasinya. Bismillah, semoga ibu dan bayinya diberi keselamatan dan kesehatan, serta tidak kurang suatu apapun," tutur Nabila menginterupsi.


"Iya Dok. Maafkan saya!"


"Hemm."


Nabila, Khanza, dan tiga orang perawat yang mendampingi mereka mulai melakukan operasi Caesar.


Mesin waktu seolah berputar lambat. Seseorang yang menanti di luar ruang operasi berjalan mondar-mandir karena merasa tidak tenang. Ia teramat mengkhawatirkan kondisi Anjani dan calon bayi yang akan dilahirkan oleh wanita itu.


"Jani, kamu dan bayimu harus selamat. Aku tidak akan membiarkan Rudi menyakitimu lagi. Berjuanglah demi anak-anakmu Jani ...," monolognya yang hanya terlisan di dalam batin.


Khanza, Nabila, dan ketiga perawat bernafas lega setelah dua jam berjuang dengan menggunakan alat-alat medis. Ikhtiyar dan perjuangan mereka tidaklah sia-sia.


"Alhamdulillah." Kata yang terlantun disertai senyuman yang menyiratkan makna, setelah mereka berhasil menyelamatkan nyawa ibu dan sang buah hati ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Maafffff seribu maaf, karena si othor terlambat UP lagi sebab kambuh lemotnya πŸ₯ΊπŸ™


Mon maaf juga jika bertebaran typo πŸ˜‰πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like πŸ‘


Tekan ❀ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya. Mumpung hari Senin, hayukkk kasih vote πŸ˜‰


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❀


__ADS_2