
Happy reading 😘😘😘
Flashback On
Surti bergeming. Nampak sekali ia tengah berpikir sebelum memberi keputusan. Menolak perintah Sherin atau menyanggupinya. Jika menyanggupi perintah sang kepala maid, maka ... ia harus bersiap menerima hukuman apabila tuannya murka.
"Bagaimana Surti? Cepat berikan keputusan! Jika kamu tidak bersedia, maka saya yang akan menggantikan posisi nona ini."
Ucapan Sherin yang terdengar tegas, memecahkan kaca-kaca lamunan.
Surti menghela nafas dalam, lantas menghembuskannya perlahan. Dengan ragu ia berucap, "jika ini memang yang terbaik, saya bersedia untuk menggantikan posisi nona cantik. Semoga, tuan Farhan tidak murka. Namun jika tuan Farhan murka, bagaimana nasib saya Nyonya?"
"Kamu tidak perlu takut. Saya yang akan bertanggung jawab," ujar Sherin meyakinkan.
"Baiklah, Nyonya. Saya percaya pada anda. Semoga rencana anda untuk menyelamatkan nona cantik, diberi kemudahan oleh Tuhan, dan kita bisa terselamatkan dari kemurkaan tuan Farhan," doa tulus Surti.
"Aamiin, trimakasih Surti." Sherin menerbitkan senyum dan mengusap pundak Surti.
Dengan jemarinya yang lincah, Sherin mulai me-makeup wajah Surti. Tanpa membutuhkan waktu lama, ia sukses menyulap wajah Surti yang semula B aja menjadi cantik mempesona.
"Sempurna," ucap Sherin setelah ia selesai me-makeup Surti.
Seketika, Surti mematut wajahnya di depan cermin. Cantik dan jika ditatap sekilas, wajahnya hampir mirip dengan Annisa.
__ADS_1
"Amazing, cantik sekali." Surti memuji wajahnya yang kini nampak sangat cantik. Ia sungguh tidak percaya, ternyata wajahnya yang B aja bisa berubah menjadi cantik jelita seperti bidadari surga, berkat tangan lentik sang kepala maid.
Setelah memastikan keadaan cukup aman, Sherin dan Lisa membawa Annisa ke ruang bawah tanah melalui lift yang berada di dalam kamar itu. Sherin berniat untuk menyembunyikan Annisa sampai polisi datang. Ya, Sherin menghubungi polisi sebab ia sudah muak menyaksikan kelakuan Farhan yang kian menyesakkan dada.
Hampir setiap hari, Farhan membawa seorang gadis untuk direguk madunya tanpa mau bertanggung jawab. Pria be-jat itu ber-alibi, karena dia sudah membayar dengan harga yang sangat mahal dan mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.
Annisa membuka kelopak netranya dengan perlahan, lalu ia memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Nona, anda baik-baik saja 'kan?" Sherin melisankan tanya diikuti lengkungan bibir yang membentuk bulan sabit.
"Sa-saya baik-baik saja. Hanya, sedikit pening." Annisa menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Sherin dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Ma-maaf, saya berada di mana? Mengapa, ruangan ini sangat gelap?" Annisa menyapu seluruh ruangan dengan pandangan netranya. Terselip rasa takut sebab ruangan itu sangat gelap, tanpa ada pencahayaan sedikitpun.
Bibir Sherin kembali melengkung, lantas ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Annisa. "Nona berada di villa milik tuan Farhan. Tepatnya, di ruang bawah tanah yang berada di dalam villa --"
"Iya nona, anda benar. Tuan Farhan putra Kyai Abdullah."
Annisa terkesiap kala mendengar jawaban yang diberikan oleh Sherin. Ia sungguh tidak menyangka, Farhan bertindak nekat. Menyuruh orang untuk menyekap dan membawanya ke villa.
"Sebenarnya, apa tujuan mas Farhan membawa saya ke villa ini?" Annisa kembali melisankan tanya. Ia sangat ingin mengetahui alasan yang melatar belakangi Farhan melakukan tindakan nekat.
"Tuan Farhan berniat ... menodai kesucian nona. Tuan Farhan berpikir, dengan cara itulah ... nona akan menerimanya sebagai suami," jawabnya diikuti hembusan nafas berat.
Jawaban Sherin bagai petir yang menyambar. Annisa sungguh tidak percaya, Farhan yang ia kenal ... ternyata seorang pria licik dan be-jat. Menghalalkan segala cara untuk merengkuh apa yang diinginkan.
__ADS_1
"Yaa Allah, ternyata mas Farhan --" Suara Annisa tercekat. Ia tak kuasa menahan titik-titik air yang jatuh dari kedua sudut netranya karena rasa yang tetiba hadir dan menyesakkan dada.
"Nona, mulai dari sekarang ... jangan melihat seseorang dari cangkangnya saja. Tapi, lihatlah kepribadiannya. Tidak mesti putra seorang tokoh agama ... memiliki akhlak yang baik seperti orang tuanya. Begitu pun sebaliknya, putra seorang preman, tidak mesti menuruni sifat orang tuanya," tutur Sherin disertai tatapan menerawang. Karena sebenarnya, ia pun pernah melakukan dosa besar yang mencoreng nama baik kedua orang tuanya.
"Perkataan anda memang benar. Seperti kisah Nabi Nuh dan putra beliau, Kan'an." Annisa menjeda sejenak ucapannya dan mengusap jejak air mata yang membasahi wajah sebelum ia kembali bersuara.
"Saya jadi teringat pesan Abi agar kami menjauhi sifat ujub atau takabur. Terlalu percaya diri bahwa diri kita lebih baik dari pada orang lain tanpa menyadari bahwa kita hanyalah seorang insan biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Sekarang berakhlak baik, entah esok --"
Perbincangan kedua wanita itu pun terpangkas saat terdengar langkah kaki mendekat .....
Nabi bersabda: "Tiga perkara yang membinasakan yaitu rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Alhamdulillah, bisa double UP untuk hari ini. Mon maaf, jika kisah yang author tulis ini kurang menarik dan membosankan, tapi percayalah ... author sudah memaksimalkan kemampuan. Author sedih setiap menengok statistik. Viewnya masih di atas seribu, tapi yang meninggalkan jejak like tidak lebih dari seratus jempol. Apa mungkin, karya ini kurang patut mendapat apresiasi? Jika iya, semoga ke depannya author bisa berbenah diri 😌
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤