Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Memaafkan


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Ngga, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu Nak," tutur Nabila ragu.


"Siapa Bund?" tanya yang terucap disertai tautan kedua pangkal alis.


"Ayahmu."


Ulu hati Rangga terasa ngilu saat mendengar kata 'Ayah' yang terucap dari bibir bundanya. Terbayang olehnya, perlakuan Fairuz selama ini. Seorang ayah yang jauh dari kata bijaksana dan penuh rasa cinta.


Luka yang digores oleh Fairuz terlalu dalam, hingga sulit bagi Rangga untuk sekedar menatap wajah bahkan memaafkan seorang ayah yang sangat tega meninggalkan istri dan putranya demi wanita lain.


"Ngga, kamu mau 'kan bertemu dengan ayahmu?" tanya yang terlisan dari bibir Nabila membuyar keheningan yang sejenak tercipta.


"Ayah? Rangga tidak pernah mempunyai ayah. Selama ini, Rangga hanya mempunyai Bunda. Selama dua puluh delapan tahun hidup di dunia ini, Rangga tidak pernah mengenal ayah apalagi mendapatkan kasih sayang darinya. Jadi, jika ada seseorang yang mengaku bahwa dia ... ayah dari Rangga Adithya Fairuz, orang itu pasti hanya mengaku-aku saja, Bund." Suara Rangga terdengar bergetar. Nampak sekali ia tengah menahan amarah yang selama ini bersemayam di dalam kalbu. Jika kondisinya tidak lemah seperti saat ini, Rangga ingin sekali meluapkan amarahnya dengan melayangkan tamparan kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya setelah bertahun-tahun tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang putra.


"Ngga, seperti apapun perlakuan ayahmu dahulu, dia tetap ayahmu Nak. Karena dia, kamu ada di rahim bunda. Karena dia, bunda bisa memiliki seorang putra berparas rupawan, Rangga Adithya Fairuz," tutur Nabila berusaha meluluhkan hati putranya.


"Bukan karena dia, Rangga ada di rahim Bunda. Bukan karena dia, Bunda memiliki Rangga. Tetapi karena kasih sayang Allah, Bund. Allah tidak ingin membiarkan hamba-Nya kesepian dan menderita seorang diri, sehingga Dia mengirim Rangga ke dunia untuk menemani Bunda, menjalani kehidupan yang dipenuhi oleh dera dan air mata."


Rangga menghela nafas dalam, menghempas rasa sesak yang meraja sebelum ia kembali berucap. "Bunda, selama ini ... dia tidak pernah menganggap kita bagian dari hidupnya. Dia terlalu arogan dan semena-mena. Dia tidak pantas mengakui dirinya sebagai ayah --"


Ucapan Rangga terpangkas ketika seorang pria paruh baya membawa tubuhnya masuk ke dalam ruangan dengan menggunakan kursi roda. Wajah pria itu terbingkai air mata kesedihan dan penyesalan. Ya ... dialah Fairuz. Pria yang telah menanam benih di rahim Nabila, hanya pada saat malam pertama. Dan setelah malam itu, dia sama sekali tidak menyentuh wanita yang berstatus sebagai istrinya. Namun malah membawa wanita lain ke istana mereka.


Meski Nabila teramat sakit, tetapi karena kemuliaan hatinya ... ia mengijinkan sang suami untuk menikahi Clarisa. Nabila tidak ingin, kekasih halalnya bermandikan dosa karena zina, sehingga ia rela berbagi suami. Tapi apa yang ia dapat? Hanya penderitaan. Sebab ternyata, wanita yang dinikahi oleh Fairuz, menyimpan dendam dan rencana busuk untuk menghancurkan hidupnya.


"Rangga, ini ayah. Maafkan kesalahan dan dosa-dosa yang selama ini ayah perbuat. Ayah sungguh teramat menyesal. Ayah mohon dengan sangat, maafkan ayah ... Rangga. Maaf."

__ADS_1


Kata-kata tulus yang terlisan dari bibir Fairuz, tidak mampu meluluhkan hati yang terlanjur beku. Rangga mengalihkan wajahnya. Ia tidak ingin bersitatap dengan pria yang telah menorehkan duka di kehidupannya.


Perlahan, Fairuz meluruhkan tubuhnya ke lantai. Pria itu merangkak sebab tubuhnya sudah tak berpenyangga.


"Rangga, maafkan ayah. Ayah mohon dengan sangat, Nak. Ijinkan ayah memelukmu untuk sekali ini saja. Setelah mendapatkan maaf dan memelukmu, ayah berjanji ... ayah akan pergi dari kehidupan kalian. Ayah tidak akan merusak kebahagiaan kalian."


Rasa iba memenuhi ruang batin Abimana, Nabila, Kirana, dan Khanza tatkala melihat Fairuz merangkak serta memohon pengampunan dari Rangga. Mereka tidak tega melihat Fairuz kepayahan.


"Mas, maafkan segala kesalahan dan dosa-dosa yang pernah diperbuat oleh Ayah. Bagaimana pun juga, dia adalah ayahmu. Di dalam tubuhmu mengalir darahnya," ucap Khanza sembari mengusap punggung tangan Rangga dan menatap manik mata yang terbingkai embun dengan tatapan mengiba.


"Mas, pandanglah Ayahmu! Dia bukanlah seorang pria yang dahulu terlihat gagah. Dia, meluruhkan tubuhnya dan berjalan dengan cara merangkak, demi mendapatkan pengampunan darimu, putra yang sebenarnya sangat ia cintai. Aku mohon, pandanglah Ayahmu sekali saja! Demi aku dan buah cinta kita yang berada di dalam rahim ini, kabulkan permintaan beliau! Kita tidak pernah tau, kapan kita mendapat giliran untuk menghadap-Nya. Jangan sampai kita menyesal karena terlambat memaafkan. Jangan sampai kita terbebani oleh hati yang membenci. Hati yang tidak ikhlas menerima ketentuan dari-Nya. Karena sesungguhnya, apa yang terjadi pada diri kita di masa lalu, merupakan jalan takdir yang mesti dilalui."


Ucapan Khanza menyentuh relung hati. Wajah yang semula enggan menatap, kini dirotasikannya ke arah pria yang tengah menangis tergugu.


Kebencian dan amarah seorang Rangga Adithya Fairuz menguap begitu saja kala pandangan netranya tertuju pada tubuh yang tidak lagi berpenopang.


Perlahan, Rangga beranjak dari ranjang. Dengan dibantu oleh Khanza, ia membawa tubuhnya mendekat ke arah Fairuz.


"Ayah. Kaki Ayah --"


Fairuz mengangguk samar. "Iya Nak. Ayah sudah tidak memiliki kaki. Clarisa dan kekasihnya yang bernama Douglass, telah menjadikan ayah ... seorang pria cacat. Mereka memotong kaki ayah."


Mendengar pengakuan yang dilisankan oleh Fairuz, amarah Rangga meletup-letup. Ingin rasanya, ia menghukum dua manusia keji yang telah menjadikan ayahnya seorang pria cacat.


"Biada*. Di mana mereka? Aku akan membalas perbuatan keji yang mereka lakukan terhadap Ayah."


"Rangga, mereka sudah menerima hukuman yang setimpal. Clarisa meninggal dengan cara yang sangat tragis. Wanita itu menjadi santapan buaya-buaya peliharaannya. Sedangkan Douglass, pria itu sudah mendekam di penjara. Bisa dipastikan, Douglass akan mendekam di penjara seumur hidup karena kejahatan yang telah dilakukannya bersama Clarisa," tutur Abimana mewakili sang besan yang terlihat tak kuasa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rangga.

__ADS_1


"Maha kuasa Allah atas segala kehendak-Nya." Rangga berucap lirih.


"Nak, maafkan ayah. Ayah rela dihukum seberat-beratnya, asal mendapatkan pengampunan dan pelukanmu."


Hati yang telah luluh, kembali tersentuh oleh kata-kata yang terdengar tulus.


"Ayah." Rangga meraih tubuh sang ayah dan membawanya ke dalam pelukan. Menumpahkan tangis yang semula bermuara di telaga bening.


Air mata haru membasahi wajah Abimana, Kirana, Nabila, dan Khanza tatkala menyaksikan kedua pria berbeda generasi itu saling berpeluk. Mereka ikut larut ke dalam suasana yang tengah tercipta ....


"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa, (133) (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan, (134)"– (Q.S Ali Imran: 133-134)


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


R: Thor, kenape kagak pernah bisa crazy UP?


O: Because, otak othornya lemot. 🤧


R: Kenape lemot, Thor?


O: Karena kebanyakan micin. 🙄


Harap maklum ya Sob, otak othornya ini sering lemot. Kadang mau UP satu bab aja, mikirnya lebih dari satu hari. Meski alur sudah tergambar, tapi untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan, susahnya naudzubillah. 🤧🤧🤧


Jadi, beri semangat author dengan tetap stay on hingga novel ini end. 😉

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2