
Happy reading 😘😘😘
Setelah hampir satu jam berbincang dengan kedua orang tua Khanza, Albirru mohon diri. Ia ingin segera pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Rangga dan Khanza. Pria berlensa hijau itu berniat mencoba metode yang disarankan oleh Zahra untuk membangunkan Rangga.
Albirru ingin mengembalikan kebahagiaan Khanza. Meski masih terselip setitik rasa cinta untuk wanita yang pernah menjadikannya raja di hati, tetapi ... cukup membuat wanita itu bahagia, Birru pun juga akan ikut bahagia. Bukankah, cinta tidak harus memiliki???
"Assalamu'alaikum Za." Albirru mengucap salam sebelum membuka pintu ruangan tempat Rangga dirawat inap.
Tidak ada sahutan dari Khanza. Hanya suara gemericik air yang terdengar dari dalam kamar mandi. Dapat dipastikan, wanita yang berstatus sebagai istri Rangga itu sedang membersihkan diri dengan air shower.
Tanpa ragu, Albirru membawa tubuhnya ke sisi ranjang. Ia menyapa Rangga yang masih setia memejamkan netra. Albirru merasa teramat sedih melihat tubuh Rangga yang semakin hari kian kurus dan pucat.
"Hai Ngga. Apa kabarmu di alam sana? Kamu dengar 'kan suaraku? Suara pria yang dulu sangat dicintai oleh istrimu."
Albirru mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Lantas ia membisikkan kata-kata tepat di telinga Rangga dengan tujuan untuk menstimulasi otak pria yang tengah koma itu.
"Bro, kenapa kamu selemah ini, hmmm? Bagaimana bisa kamu menjaga Khanza bila terus-menerus terbaring tak berdaya? Jika kamu ingin pergi ... pergilah segera! Setelah kepergianmu, aku akan menikahi Khanza dan menjadikannya istri kedua."
Birru menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Bro, kamu tau 'kan, aku dan Khanza saling mencintai. Jadi, relakanlah istrimu untukku! Tidak usah bangun, tetaplah berada di duniamu. Aku berjanji, akan menjaga Khanza dan buah hati kalian."
Kata-kata yang diucapkan oleh Albirru terdengar sangat jahat. Tapi percayalah, ucapannya itu tidak selaras dengan kesedihan yang ia rasa.
CEKLEK
Khanza membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Ia terkesiap kala mendapati Albirru yang tengah berbisik di telinga Rangga.
Terlintas tanya di dalam hati, kata-kata apa yang dibisikkan oleh Albirru di telinga suaminya itu.
"Kak Birru. Apa yang sedang Kakak lakukan? Dan apa yang sebenarnya Kak Birru bisikkan di telinga mas Rangga?" Khanza melisankan tanya sembari membawa tubuhnya mendekat ke sisi ranjang.
"Aku menyuruhnya untuk merelakanmu Za. Lagi pula, bukankah kita masih saling mencintai? Jadi, biarkanlah dia pergi Za! Pria lemah seperti ini, tidak patut untuk kamu tangisi. Dia hanya seonggok daging yang tak berdaya dan tidak berguna sama sekali."
"Tapi Kak --"
__ADS_1
"Za, ceraikanlah suamimu dan menikahlah denganku! Aku yang akan mengurus surat perceraian kalian. Setelah masa idahmu selesai, kita akan segera menikah."
"Kak --" Khanza meninggikan intonasi suara, meng-ekspresikan amarahnya. Ia mengira, Albirru serius dengan kata-katanya.
Albirru mengerlingkan netra. Sebagai kode bahwa apa yang diucapkannya hanya untuk merangsang Rangga.
"Jadi, bagaimana Za? Kamu bersedia menjadi istriku 'kan?"
Khanza yang kini mengerti maksud Albirru, berusaha mengimbangi ucapan pria blonde itu.
"A-aku bersedia, Kak. Sangat bersedia," jawabnya dengan bibir gemetar. Ia meremas tangan Rangga, berharap pria itu akan meresponnya.
"Alhamdulillah. Lepaskanlah Rangga, Za! Aku berjanji akan memberi kebahagiaan untukmu dan si kecil."
"I-iya Kak. Aku akan melepasnya ...."
Khanza dan Albirru menoleh ke layar monitor. Tidak ada perubahan sama sekali. Hampir saja mereka putus asa. Namun ....
Titt ... tittt ... tiittt
Tanpa membuang waktu lama, Albirru menekan tombol yang berada di atas ranjang pasien untuk memanggil perawat atau dokter yang berjaga agar segera memeriksa keadaan Rangga.
Aku sangat mencintaimu Khanza. Apapun yang terjadi, aku nggak akan melepasmu, meski kamu yang memintanya sekalipun.
"Khan-za," lirih Rangga. Perlahan ia membuka netranya dan menatap wajah cantik yang menyambutnya dengan senyuman.
"Mas Rangga." Khanza menghambur ke pelukan suaminya. Air mata bahagia tertumpah membasahi dada bidang pria yang baru tersadar dari komanya itu.
"Sa-sayang." Rangga membalas pelukan Khanza dan mengusap jilbab sang kekasih hati diikuti lelehan air bening yang keluar dari kedua sudut netranya.
Keduanya melerai pelukan ketika dokter Arka memasuki ruangan.
Setelah mengucap salam dan memberi sapaan, dokter muda itu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dimulai dari melakukan CT Scan, MRI, dan EEg untuk memeriksa kondisi otak dan tubuh Rangga.
__ADS_1
Dokter Arka juga melakukan tets scala glasglow coma untuk memeriksa tingkat kesadaran Rangga. Alhamdulillah, tidak ada kerusakan otak. Bahkan, respon terhadap rangsang suara, cahaya, nyeri juga sangat aktif. Lukanya pun tidak ada infeksi.
"Alhamdulillah, hasil pemeriksaannya sempurna, Za. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," tutur Arka seusai memeriksa Rangga.
"Alhamdulillah. Trimakasih Ka." Khanza mengulas senyum diikuti manik mata yang memancarkan binar bahagia.
"Sama-sama Za. Aku permisi dulu ya. Masih ada beberapa pasien yang harus aku periksa."
"Iya Ka."
Arka memutar tumit lantas keluar dari ruangan.
"Rangga, welcome back Bro," ujar Albirru disertai lengkungan bibir dan manik mata yang mengembun.
"Kak Bir-ru. Kau jahat sekali."
Albirru tergelak mendengar ucapan Rangga. Ia sudah menduga, Rangga bakal marah mendengar kata-kata yang dilisankannya tadi. Tepatnya, ketika pria yang berstatus sebagai suami Khanza itu masih dalam kondisi koma.
Keharuan menyelimuti seisi ruangan. Tangis kesedihan kini berganti tangis bahagia.
"Khanza, sampai kapan pun aku nggak akan melepasmu. Apalagi merelakanmu bersanding dengan pria lain ...."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo ☺
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤