
Happy reading 😘😘😘
"Baiklah Za. Jika itu mau mu, aku kembalikan tasbih biru ini. Jujur, setiap melihat tasbih ini, aku teringat padamu," tutur Birru sembari menyerahkan tasbih berwarna biru pemberian Khanza.
"Khanza berharap, setelah ini ... kita bisa lebih ikhlas menjalani takdir cinta yang telah digoreskan Illahi, Kak. Insya Allah, kita akan merengkuh sakinah, mawadah, warahmah bersama pasangan kita masing-masing ...."
Birru bergeming. Rasa sesak di dalam dada yang semakin menjadi membuat lidahnya serasa kelu untuk berucap ....
"Maaf sayang, agak lama ya nunggunya?" ujar Rangga sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Khanza dan Birru terkesiap karena kedatangan Rangga yang tiba-tiba.
Sebenarnya sudah sedari tadi pria itu keluar dari toilet. Namun demi mendengar percakapan istrinya dengan sang mantan pria pujaan, Rangga bersembunyi di balik dinding.
"Kenapa sih lama banget Mas? Berendem ya di toilet?" sindirnya dengan memasang raut wajah cemberut.
Rangga tertawa geli melihat raut wajah Khanza yang nampak menggemaskan. Meski sempat cemburu, Rangga menepisnya karena ia percaya bahwa Khanza adalah seorang istri yang setia. Bukan setia yang berarti setiap tikungan ada. Namun setia dalam arti yang sebenarnya. Kesetiaan Khanza terbukti dengan mengembalikan liontin pemberian Albirru dan meminta pria blonde itu mengembalikan tasbih pemberiannya, agar setitik rasa yang mungkin masih ada akan terhempas dan terhapus oleh butiran pasir waktu.
"Nggak jawab, ehhhh malah ngetawain," sungutnya, berpura-pura ngambek.
"Maaf Yang, tadi toiletnya antri. Jangan ngambek, kalau ngambek tak cium lho!" Rangga menjapit hidung istrinya, gemas.
Menyaksikan chemistry sepasang suami istri itu, semakin menyadarkan Birru bahwa kehadirannya sudah tidak berarti apa-apa bagi Khanza. Kini, wanita yang pernah menjadikannya raja di hati, telah berbahagia dengan imam pengganti yang lebih baik dari dirinya.
"Rangga, Khanza, maaf ... aku permisi dulu ya?" pamitnya. Albirru ingin segera berlalu pergi dan menghempas rasa sesak di dalam dada. Meski perasaan cintanya terhadap Khanza tidak sebesar dulu. Namun kenyataannya, ulu hati Birru terasa ngilu menyaksikan keromantisan dua sejoli itu, Rangga dan Khanza.
"Loh, kog buru-buru Kak? Nggak makan siang bareng dulu?"
"Maaf Ngga, insya Allah lain kali saja kita makan siang bareng. Aku harus kembali ke kantor. Ada meeting satu jam lagi," kilahnya.
"It's okay. Sebelum kami pulang ke Jogja, Kak Birru harus mentraktir kami makan siang!"
__ADS_1
"Baiklah, Ngga. Memangnya, kapan kalian akan pulang ke Jogja?"
"Insya Allah satu minggu lagi, Kak."
"Loh kog cuma sebentar di Inggris? Tidak satu bulan atau dua bulan lagi yang pulang ke Jogja?"
"Nggak Kak. Masih banyak yang harus kami kerjakan di Jogja."
"Okey, Ngga. Lusa, berkunjung lah ke restorang milik Zahra! Kita makan siang bareng di sana."
"Siap Kak."
"Assalamu'alaikum Rangga, Khanza," ucapnya sebelum memutar tumit.
"Wa'alaikumsalam ...." Rangga dan Khanza menjawab kompak salam yang terucap dari bibir pria blonde itu.
"Yuk Yang, kita berangkat ke London Eye! Sudah nggak sabar sayang-sayangan sama kamu di dalam capsul." Rangga berujar sambil mengedipkan netra.
....
Selama di perjalanan menuju London Eye, Rangga dan Khanza saling berbincang diselingi canda tawa. Hingga tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di tempat tujuan.
Rangga sengaja memesan capsul privat untuk naik ke London Eye, sebab ia tidak ingin menyia-nyiakan momen romantis bersama Khanza, kekasih halalnya.
"Sayang, lihatlah pemandangan yang sangat menakjubkan di sana!" ujar Rangga sembari menunjuk ke arah Istana Buckingham. Nampak matahari yang hampir tenggelam dari arah Istana tersebut. Selain itu, terlihat puncak Big Ben yang sangat sempurna. Warna emas menyala dari pantulan cahaya di ujung utara Istana Westminster tempat Big Ben berada.
"Apa itu Mas?" tanya yang terlisan disertai lengkungan bibir dan binar di manik mata.
Rangga melingkarkan tangannya di pinggang Khanza. Ia kecup lama pucuk kepala wanita yang sangat dicintai sebelum menjawab pertanyaan yang terlisan.
__ADS_1
"Itu Big Ben, sayang. Menara jam terbesar kedua di dunia setelah Royal Clock Tower di Mekkah. Big Ben adalah nama untuk lonceng besar yang ada di dalam menara jam. Beratnya lebih dari 13 ton lho. Menara itu juga dinamai The Tower of Big Ben atau Menara Santo Stephen. Namun sudah berganti nama menjadi Menara Elizabeth."
"Owhhh ...." Khanza manggut-manggut, sebagai tanda bahwa ia mengerti dengan penjelasan yang dituturkan oleh suaminya.
Rangga memutar tubuh Khanza hingga keduanya kini saling berhadapan.
"Sayang, trimakasih," ucapnya sembari mengangkat dagu sang kekasih. Ia tatap lekat-lekat manik mata yang terbingkai binar cinta.
"Untuk?"
"Untuk balasan cinta dan kesetiaanmu."
"Mas, sudah puluhan kali kamu mengucap kata terimakasih untuk alasan yang sama." Khanza membalas tatapan suaminya. Intens. Keduanya saling menatap intens.
"Meski ratusan atau ribuan kali pun, aku nggak akan pernah lelah ataupun bosan mengucapkannya, Yang --"
CUP
Rangga melabuhkan bibir. Kedua bibir yang bertemu saling berpagut. Seolah ingin merasakan sensasi lebih, Rangga mendorong tengkuk istrinya, menyesap rasa manis yang selalu menjadi candu.
Langit senja di kota London menjadi saksi cinta Rangga dan Khanza yang semakin dalam ....
Setelah naik The London Eye, Rangga dan Khanza melanjutkan menonton pertunjukan 4D secara gratis. Layaknya wahana 4D yang dibuat seolah nyata, mereka diibaratkan seperti burung yang terbang mengelilingi kota London. Pertunjukan semakin seru dan nyata karena efek-efeknya direalisasikan. Dalam adegan turun salju, di studio ditebarkan busa sabun seolah serpihan salju benar-benar turun.
Binar bahagia menghiasi raut wajah Khanza. Ia merasa dejavu, sebab pernah berada di tempat yang sama. Namun dengan perasaan dan suasana yang berbeda ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
__ADS_1
Mumpung masih hari selasa, sumbangkan vote seikhlasnya untuk menyemangati author kulit bawang ini kak say 🥰🙏
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘