
Happy reading 😘😘😘
Clarisa tertawa lebar. Seolah, ia tidak merasa takut dengan ucapan yang dilisankan oleh Abimana.
"Asal kamu tau, aku sama sekali tidak takut dengan yang namanya polisi. Hari ini, akan ku tuntaskan dendamku terhadap Nabila. Aku akan membunuh kalian. Aku sangat yakin, Nabila pasti meratapi kematian sang mantan suami dan besannya. Dan ... aku pastikan ia akan gila lalu bunuh diri. Poor Nabila ...."
DOORRR
Sebelum memuntahkan timah panas tepat di kepala Fairuz, seseorang tiba-tiba datang lantas menembak tangan Clarisa.
"Argghhhh ...." Clarisa memekik diikuti terlepasnya senjata api dari tangannya.
"Berani-beraninya kau menembak ku, Syaira." Suara Clarisa meninggi. Amarahnya meletup-letup ketika salah seorang gadis yang ia jual pada sugar daddy berani menembak tangannya.
Syaira menanggapi ucapan Clarisa dengan tersenyum miring. Netranya dipenuhi oleh kabut dendam. Ia tidak puas jika hanya menembak tangan wanita yang telah berperan menghancurkan masa depan dan merenggut kebahagiaan para gadis yang bernasib sama dengannya.
"Sudah lama, aku menantikan saat ini tiba Nyonya Clarisa yang terhormat. Karena mu, masa depan kami hancur. Karena mu, kebahagiaan kami terenggut. Karena mu, sahabatku Jasmine merusak wajahnya demi menyelamatkan kesucian yang akan direnggut paksa. Engkau dengan tega menyiksa Jasmine hingga ia meninggal. Bukannya mengubur jasad Jasmine dengan layak, tapi kau menjadikan jasad gadis tak berdosa itu santapan buaya peliharaanmu."
Clarisa menggeleng kepala. Ia terus berjalan mundur menghindari Syaira yang mengacungkan pistol tepat di kepalanya.
"Kak Syaira, biarkan polisi yang menghukum wanita iblis itu! Jangan biarkan tanganmu ternoda oleh darahnya yang kotor!" pinta Dara seraya membujuk Syaira.
Syaira tak acuh. Ia tetap mengacungkan pistol di kepala Clarisa.
"Tunggu, biar kami yang menangkapnya!" Suara bariton Tama sukses mengalihkan perhatian Syaira. Tanpa ia sadari, Clarisa merebut pistol dari tangannya.
"Inilah akibatnya jika kau berani padaku, Syaira," ujarnya dengan pongah. Ia bersiap menembak Syaira ....
DOOR
Tangan Clarisa kembali terkena tembakan. Darah yang keluar dari tangannya semakin mengalir deras.
"Arghhhh ...." Clarisa memekik. Kali ini ia sudah tidak mampu menahan rasa sakit karena luka tembakan yang dihadiahkan oleh Syaira dan Tama.
Tama memberi perintah kepada anak buahnya untuk segera menangkap wanita iblis itu.
__ADS_1
"Menyerahlah Nyonya!"
Clarisa berjalan mundur, menghindari dua anak buah Tama yang sudah bersiap untuk menangkapnya.
"Cla, jangan berjalan mundur terus! Kamu bisa terjatuh!"
Teriakan Fairuz tidak diindahkan oleh Clarisa. Hingga akhirnya, ia salah berpijak dan terjatuh. Wanita berhati iblis itu terjatuh tepat di kolam buaya peliharaannya.
"Arggghhhhh ...."
Lima ekor buaya menyambut tubuh Clarisa dengan suka cita. Mereka berebut memangsa tubuh yang sudah tergolek bersimbah darah. Sungguh akhir yang sangat mengenaskan.
Poor Clarisa ....
Abimana tak kuasa melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Meski ia berniat untuk menghukum wanita yang telah menghancurkan keluarganya. Namun hatinya yang lembut menaruh rasa iba tatkala menyaksikan tubuh Clarisa terkoyak dan menjadi santapan buaya lapar.
Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin. Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.
Johan dan ketiga anak buahnya berhasil meringkus Douglass. Pria itu berusaha melarikan diri melalui pintu rahasia. Namun sial baginya. Ketika berhasil keluar dari pintu rahasia, ia disambut oleh Johan serta ketiga anak buahnya, Jeffry, Sammy, dan Alvin.
Tidak puas menelanja-ngi Douglass, Sammy yang memang sangat jahil bin usil, menyulap wajah pria itu hingga terlihat seperti badut. Ia juga mengalungkan kertas yang bertuliskan 'throw me with trash' (Lempar Aku Dengan Sampah) di leher Douglass, pria blonde berlensa biru.
....
Abimana membawa Dara dan Fairuz ke hotel untuk bertemu dengan Kirana. Pria bermata teduh itu meminta agar istrinya mengganti pakaian Dara dengan pakaian yang menutup aurat.
Setelah Dara berganti pakaian, Abimana dan Kirana mengajak gadis malang itu dan sang besan untuk makan malam bersama di rooftop hotel. Keduanya memperlakukan Dara seperti putri mereka sendiri.
Buliran bening lolos begitu saja membasahi wajah ayu Kirana, saat Dara menceritakan perjalanan hidupnya yang sangat pelik. Selama dua puluh dua tahun hidup di dunia, Dara tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, meski pun dari ibu angkatnya sendiri. Dara juga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, sebab sedari bayi ... ia sudah yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan.
Sungguh malang nasib Dara, karena ia diangkat anak oleh wanita yang sangat membenci almarhumah ibunya. Mira sangat membenci Aida karena sahabatnya itu menikah dengan Agung. Pria yang sangat didambakan Mira menjadi seorang imam.
"Yah, bagaimana jika kita jadikan Dara sebagai menantu? Bunda yakin, Dylan tidak akan keberatan menerima perjodohan ini," tutur Kirana setelah ia dan Abimana kembali ke kamar seusai makan malam.
"Ayah juga berpikiran seperti itu Bund. Menjodohkan putra kita dengan Dara. Ayah sangat berharap, Dylan bisa menerima Dara sebagai calon istrinya. Meski --" Abimana menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Meski apa Yah?" tanya yang terlisan disertai kernyitan dahi.
"Meski, yang dicintai Dylan bukanlah Dara. Tetapi Milea."
Kirana menghembus nafas sedikit kasar. Ia baru ingat, Dylan menaruh hati pada gadis yang bernama Milea. Meski gadis itu tidak pernah membalas perasaan putra bungsunya.
"Iya Yah. Bunda baru ingat. Dylan menaruh hati pada Milea. Meski Milea tidak pernah membalas perasaan putra kita. Bahkan, sebentar lagi Milea akan menikah dengan Jordan."
"Loh, kog Bunda bisa tau ... Milea akan menikah dengan Jordan?"
"Dylan yang memberitahu bunda, Yah. Meski sudah berusia dewasa, anak-anak kita sering curhat pada bunda," jawabnya disertai seutas senyum.
"Mmm, kalau ayah yang curhat, boleh tidak Bund?"
"Boleh banget Yah. Memangnya, Ayah ingin curhat apa?"
Abimana mengulas senyum. Ia pun membisikkan kata-kata di telinga istri comelnya yang tak lagi muda itu. "Ayah merindukan Bunda. Ayah ingin melepas kerinduan ini dengan menyatukan raga kita ...."
Kirana tersipu malu. Terbayang olehnya penyatuan raga bernilai ibadah. Meski keduanya tak lagi muda. Namun rasa cinta yang mereka miliki tidak pernah terkikis oleh waktu, malah semakin besar .....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Insya Allah di episode berikutnya, kita akan bertemu lagi dengan Khanza dan Rangga. Tetap stay on hingga end. 😉
Mohon maaf jika bertebaran typo ☺
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤
__ADS_1