Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
SEKAR


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Rangga mengepalkan tangan hingga urat-uratnya terlihat. Kentara sekali bahwa ia tengah diselimuti api amarah ....


"Bagaimana Rangga? Kamu menerima persyaratan dari saya 'kan? Jika iya, besok pagi menikahlah dengan putri saya!" Fariz kembali bersuara sumbang.


"Saya tidak bisa," jawabnya penuh penekanan. Rangga berusaha menahan emosi meski gemuruh di dalam dadanya semakin menjadi.


"Baiklah. Itu berarti, kamu tidak mencintai istri dan kedua bayi kembar kalian. Nanti malam, saya akan meledakkan rumah mertuamu. Dapat dipastikan, semua orang yang berada di rumah itu akan menjadi mayat," ancamnya.


Amarah Rangga kian membara. Seketika kepalan tangannya melayang tepat di wajah Fariz.


BUG


Bukannya mengaduh, Fariz malah tertawa lebar.


"Silahkan pukul saya sepuasmu! Saya akan meledakkan rumah mertuamu sekarang juga."


Rangga menarik tangannya yang masih terkepal. Andai nyawa orang-orang yang ia cinta tidak terancam dan membunuh bukanlah suatu dosa, ingin rasanya ... Rangga menghabisi pria paruh baya itu.


Saat ini yang Rangga butuhkan hanyalah berpikir dengan tenang agar ia bisa menyelesaikan permasalahan tanpa mencelakai orang-orang yang ia cinta.


"Jika anda berani meledakkan rumah mertua saya, jangan harap anda bisa hidup dengan tenang. Saya akan membongkar kejahatan anda, sehingga citra anda sebagai seorang pejabat akan rusak. Apakah anda tidak malu, hanya karena ingin menikahkan putri anda dengan saya, anda rela mengorbankan nama baik anda sendiri? Tuan Fariz yang terhormat, anda sebagai pengayom rakyat seharusnya bisa lebih bijaksana dalam bertindak. Bukan malah menggunakan jabatan untuk berbuat sesuka hati." Ucapan Rangga yang bernada sarkasme bukannya menyadarkan Fariz, tetapi malah membuat pria bertubuh tambun itu naik pitam.


"Saya tidak butuh ceramah darimu. Jika kamu berani melawan saya, saya pastikan bukan hanya rumah mertuamu saja yang akan saya ledakkan, tapi perusahaanmu pun akan saya hancurkan. Sehingga kamu tidak akan mempunyai apapun di dunia ini. Setelah itu, kamu akan datang kepada saya untuk memohon belas kasih. Jadi, sebelum semuanya terlambat, menikahlah dengan Nadia! Bukankah poligami itu diperbolehkan? Jadi tidak usah ragu untuk memiliki dua istri."


"Saya tidak membutuhkan istri lagi selain Saqueena Khanza Humaira. Bagi saya, satu istri sudah cukup karena saya bukan seorang biawak yang gemar menebar benih." Lagi. Rangga berujar dengan penuh penekanan dan bernada sarkasme. Fariz semakin naik pitam. Ia lantas menyuruh semua anak buahnya yang berada di ruangan itu untuk memberi pelajaran pada Rangga beserta kedua pria yang setia berada di sisi, mereka ... Idam dan Johan.


Perkelahian pun tak terelakkan. Beruntung, ketiga pria itu menguasai ilmu beladiri sehingga dapat dengan mudah menumbangkan semua anak buah Fariz.


Disaat Fariz lengah, Rangga merengkuh tubuh Nadia dari belakang dan menjadikannya sebagai tawanan.


"Tuan Fariz yang terhormat, jika anda berani meledakkan rumah mertua saya, nyawa putri anda yang akan menjadi taruhannya. Saya tidak akan segan-segan menghabisi nyawa Nadia," ancamnya.

__ADS_1


"Bang-sat. Rupanya kau berani melawan saya." Suara Fariz menggelegar, memekakkan seisi ruangan.


Rangga tersenyum miring dan kembali membuka suara. "Saya akan melawan siapapun yang telah berani bermain api dengan saya. Tak terkecuali anda."


Fariz mengepalkan tangan. Ia berniat memanggil anak buahnya yang lain. Namun sayang, Johan bertindak cepat. Ia merobohkan tubuh Fariz dengan sekali pukulan.


"Ayah ...." Nadia memekik kala tubuh ayahnya luruh ke lantai.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" tanya yang terlisan dari bibir Idam.


"Segera hubungi ayah Abim! Minta beliau untuk membawa Khanza dan yang lain ke tempat yang lebih aman!" titah Rangga seraya menjawab pertanyaan asisten pribadinya, Idam.


"Baik Tuan." Idam bergegas melaksanakan perintah tuannya, menghubungi Abimana.


"Om Jo, hubungi Sammy dan polisi agar mereka segera datang membantu kita! Untuk sementara waktu, kita bertahan di ruangan ini sampai mereka datang. Anak buah om Fariz yang berjaga di luar, jumlahnya sangat banyak. Kita tidak bisa gegabah melawan mereka," titahnya lagi.


"Baik Tuan. Saya akan segera menghubungi Sammy dan polisi," sahut Johan sembari sedikit membungkukkan tubuh.


"Rangga lepaskan aku! Kamu menyakitiku." Nadia memberontak. Namun tak diacuhkan oleh Rangga.


....


Kedua pria paruh baya itu tak kalah terkejutnya kala melihat alat peledak yang ditunjukkan oleh Kirana. Sebagai seorang polisi, Tama bertindak cepat. Ia memanggil ahli penjinak bom dan kembali memeriksa seluruh ruangan yang berada di rumah itu.


Setelah memastikan kediaman Abimana aman, Tama mulai mencari pelaku yang telah berani memasang alat peledak.


Atas petunjuk dari Kirana, Tama memastikan bahwa pelakunya adalah Juminten, salah satu anak buah yang dikirim oleh Fariz untuk melancarkan rencana liciknya.


Abimana dan Kirana sengaja tidak memberitahu anak-anak mereka dan para menantu agar suasana rumah tetap kondusif. Keduanya berencana memberitahu, setelah Tama beserta anak buahnya berhasil membekuk dan menggiring pelaku ke penjara.


....


Rangga bernafas lega saat Idam memberitahu bahwa rumah mertuanya dalam keadaan kondusif. Kelegaan Rangga semakin bertambah, ketika Tama beserta anak buahnya memasuki ruangan.


Para polisi itu berhasil membekuk seluruh anak buah Fariz tak terkecuali Juminten, atas bantuan boys squad yang terdiri dari Sammy, Jeffry, dan Alvin.

__ADS_1


Sebelum menyerahkan semua pelaku kepada penegak hukum di kota itu, Tama menggeledah seluruh ruangan mansion tersebut.


Tama terkesiap saat mendapati seorang gadis kecil berada di dalam kamar sendirian. Gadis kecil itu adalah putri Nadia. Tubuhnya kurus dan pakaiannya lusuh. Seolah tidak pernah mendapat perhatian dari sang bunda.


"Sayang, siapa namamu, hmmm?" Tama melisankan tanya dan mengusap lembut kepala si gadis kecil.


SEKAR


Tulis si gadis kecil pada secarik kertas berwarna putih, seraya menjawab pertanyaan Tama.


Tama merasa iba. Ia tidak menyangka, gadis kecil nan cantik itu ternyata tuna wicara.


"Nama yang cantik sekali seperti wajahnya. Oya, kalau boleh om tau, siapa nama ayah dan bunda Sekar?" Tama kembali melisankan tanya.


NADIA DAN FENDI. TAPI AYAH DAN BUNDA TIDAK MENGINGINKAN SEKAR. MEREKA MALU MEMILIKI ANAK YANG CACAT. SEKAR BISU, OM.


Jleb. Tulisan tangan Sekar bagai sebilah pisau yang menyayat ulu hati. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dada Tama itu terasa nyeri kala ia mengetahui kenyataan tentang Sekar. Seorang gadis kecil yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya karena tuna wicara.


"Sekar, sekarang ikut om dulu ya! Bunda dan kakek sedang ada urusan penting. Sekar mau 'kan, tinggal di rumah om?"


Sekar mengangguk sebagai pertanda bahwa ia bersedia.


Tama menerbitkan senyum. Lantas ia merengkuh tubuh gadis kecil nan malang itu dan membawanya ke luar dari mansion ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika bertebaran typo


Jangan lupa meninggalkan jejak like 👍


Beri rate 5 ⭐


Klik ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri dukungan author dengan memberi gift atau vote seikhlasnya (geratis kog) 😉


Trimakasih dan lope lope sekebon 💗


__ADS_2