Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Boncabe 1


__ADS_3


Obat Rindu ❤


Happy reading 😘😘😘


Berteman secangkir teh nasgitel (panas, legi, kentel) dan camilan berupa terong krispy, Rangga dan Khanza larut dalam kebersamaan. Keduanya bercengkrama di bawah naungan sang bidadari jingga, lembayung senja.


Sudah satu bulan, Azzam dan Humaira tinggal di pondok pesantren Al Hidayah sebab mereka ingin selalu berada dekat dengan oma serta opanya, Kirana dan Abimana. Meski berat hati, Rangga dan Khanza mengijinkan kedua buah hati mereka untuk tinggal di pondok pesantren tersebut.


Semenjak hamil anak ketiganya, Khanza selalu ingin dekat dengan sang suami. Bahkan ia bertambah posesif.


Seperti siang tadi, Rangga harus menghadiri meeting penting di perusahaan. Khanza merengek sebab ia tidak mau berpisah meski sekejap saja dengan suaminya. Karena tidak ingin membuat Khanza bersedih dan marah, Rangga pun menuruti permintaan istri comelnya itu.


Setibanya di perusahaan, Khanza memasang raut wajah tidak suka. Ia meminta agar suaminya membuat peraturan baru di perusahaan Go-Sukses.


Bagi semua karyawan wanita yang bekerja di perusahaan Go-Sukses, wajib mengenakan pakaian muslimah. Terkecuali bagi yang non muslim, mereka diperbolehkan mengenakan kemeja lengan panjang sebagai atasan dan celana panjang kain sebagai bawahan.


Intinya, tidak ada yang boleh mengenakan pakaian seksi. Titik.


Rangga menyanggupi. Ia lantas memberi perintah pada Idam untuk mengumumkan peraturan baru tersebut. Rangga berpikir, permintaan Khanza memang ada benarnya. Alangkah baiknya jika para karyawan wanita menutup aurat, bukan malah mengumbarnya yang kemungkinan besar akan mengundang syahwat.


"Pi, soal permintaan yang tadi siang mommy omongin, sudah Papi umumkan kepada seluruh karyawan, terutama karyawan wanita?" Khanza melisankan tanya disela-sela obrolan mereka.

__ADS_1


Rangga mengulas senyum lalu mengecup pelipis Khanza. "Sudah Mi. Tadi Idam yang mengumumkannya."


"Syukurlah. Mommy jadi lega. Mommy perhatikan, banyak karyawan wanita yang terpesona pada Papi. Seolah, mereka sengaja mengenakan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian Papi," ujar Khanza sambil melirik suaminya. Khanza berharap, Rangga bisa meyakinkan dirinya ... meski banyak karyawan wanita yang berpakaian minim, suaminya itu tidak bakal tertarik.


"Wajar Mi, jika mereka terpesona pada papi. Wajah papi kan handsome. Rangga tetangga sebelah yang sering nongol di TV ... kalah lho dengan ketampanan papi." Rangga menaik turunkan kedua alisnya dan memasang wajah sok tampan.


Khanza memutar bola mata malas dan melipat kedua tangan di depan dada. Ucapan Rangga tidak sesuai dengan harapannya. Bahkan suaminya itu sukses membuat dirinya kesal. "Haishhh, Papi narsisnya naudzubillah. Di atas langit masih ada langit, Pi. Di atas orang yang handsome masih ada yang lebih handsome."


"Jadi, menurut Mommy ... ada pria yang lebih tampan dari Papi?"


"Yes, you're right."


"Siapa?" Rangga kembali melisankan tanya. Terlihat raut wajahnya menyiratkan kecemburuan.


"Yusuf dan Ahmad," jawabnya mantab diikuti lengkungan bibir yang membentuk senyuman termanis. Rasa kesal karena ucapan Rangga, seketika menguap begitu saja. Berganti rasa puas karena bisa membalas suami narsisnya itu. Khanza yakin seyakin yakinnya, Rangga akan salah faham dan terbakar oleh api cemburu.


Khanza mati-matian menahan tawa yang hampir meledak saat menyaksikan ekspresi suaminya itu.


"Ya. Mommy terpesona pada kepribadian mereka, Pi. Mereka dua insan yang berparas tampan, cerdas, saleh, dan mampu menjadi teladan." Khanza menjawab dengan jujur tanpa memudar senyum yang membingkai wajah ayunya.


"Apa karena papi nggak setampan kedua pria itu, Mommy berpaling memuji mereka? Atau jangan-jangan, sebenarnya selama ini ... Mommy hanya berpura-pura membalas cinta papi karena ditolak oleh Yusuf dan Ahmad?" Raut wajah Rangga nampak sendu. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya bagai diremas-remas.


Akhirnya, jebol juga pertahanan Khanza. Ia meledakkan tawa hingga kedua sudut netranya berair.

__ADS_1


"Mommy kog malah ketawa, sih? Memangnya ada yang lucu?" Rangga merengut. Wajahnya yang tampan seketika berubah menggemaskan dan membuat Khanza ingin mencubitnya. Tapi tidak, Khanza tidak mendaratkan cubitan. Ia merasa sayang jika pipi suaminya yang putih itu memerah.


CUP


Khanza mengecup pipi Rangga lalu mengelusnya sayang.


"Tau nggak Pi, siapa yang mommy maksud dengan Yusuf dan Ahmad?"


"Siapa Mi?" tanya Rangga dipenuhi rasa ingin tau.


"Yusuf adalah nabi kita yang berparas rupawan, Pi. Sedangkan Ahmad, adalah Rasulullah Muhammad."


Rangga menerbitkan senyum kala mendengar jawaban yang terlisan dari bibir Khanza. Amarah dan kecemburuan yang memenuhi relung rasa, kini hilang tak berbekas. Rupanya yang dimaksud Yusuf dan Ahmad oleh Khanza adalah kedua Nabi yang memang berparas tampan, dan ketampanan mereka tertuang dalam kitab-Nya.


Terdengar kumandang adzan maghrib yang membuat Rangga dan Khanza seketika menghentikan perbincangan mereka.


Keduanya nampak takzim kala mendengar suara adzan yang merupakan senandung kerinduan Illahi kepada hamba-Nya.


Di dalam benak, Rangga dan Khanza melantunkan pinta, semoga kumandang adzan akan terus terdengar hingga kelak tiba saatnya gunung-gunung beterbangan seperti kapas putih dan ombak samudra menelan jiwa-jiwa yang dipenuhi oleh dosa. Kapan saat itu tiba? Tentu saja jika Illahi Robbi memerintahkan malaikat-Nya untuk meniup sangkakala ....


🌹🌹🌹🌹


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏

__ADS_1


Episode kali ini hanya untuk sekedar melepas rindu. Mohon doanya ya kakak-kakak, semoga di bulan puasa, author sudah bisa merilis karya baru 😊🙏


Salam kangen dan love love sekebon 💞


__ADS_2