Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Seperti Adam Dan Hawa


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Di bawah naungan langit yang terhias senyum sang mentari pagi, Rangga mewujudkan keinginannya. Ia membagi seratus sepeda motor kepada para driver yang telah berjasa memajukan perusahaan yang didirikan serta dipimpinnya 'Go Sukses'.


Para driver menyambut antusias. Mereka sangat berterima kasih kepada owner Go Sukses yang telah memberikan sepeda motor baru secara cuma-cuma.


Selain itu, Rangga juga membagi sembako yang berisi beras, gula, teh, telur, kentang, buah, sayur, dan mentega sebagai pengganti minyak goreng karena keberadaan minyak goreng yang sedang sangat langka.


Abimana sebagai ayah mertua dari owner Go Sukses pun turut memberikan bantuan. Pria bermata teduh itu memberi bantuan berupa sepeda motor listrik keluaran terbaru sejumlah dua ratus biji sebagai pengganti bantuan yang pernah dijanjikan oleh Fariz.


Takbir dan hamdalah terlantun sebagai ungkapan rasa syukur atas rejeki yang telah diberi. Tidak sedikit dari mereka (para driver) melakukan sujud syukur disertai tetesan air mata bahagia.


Jika para driver Go Sukses tengah berbahagia karena mendapat rejeki yang berlimpah, berbanding terbalik dengan penulis kisah ini yang tengah merenungi nasibnya sebagai penulis ... Noveltoon / Mangatoon. Lanjut atau berhenti di titik lelah. Setelah merenung sejenak, si penulis memutuskan untuk terus lanjut hingga kisah Pernikahan Tanpa Cinta end. Kapan end nya? Entahlah, penulis juga tidak bisa memastikan. Setelah end lanjut atau menggantungkan pena? Tergantung, banyak pembaca yang kangen atau nggak sama si penulis remahan kacang kulit ini. 🥺


Okey abaikan. Lanjut ke cerita 😉


Seusai memberi bantuan, Rangga dan keluarga menikmati makan siang bersama para driver serta seluruh karyawan Go Sukses.


Suasana hangat dan harmonis begitu kentara. Seolah tidak ada strata yang menjadi penyebab kesenjangan.


Sayup-sayup terdengar kumandang adzan yang sangat merdu hingga menyentuh kalbu setiap insan yang merindu. Bukan hanya insan yang berkeyakinan sama. Namun, insan yang berbeda keyakinan pun kalbunya turut tersentuh. Karena sesungguhnya, kumandang suara adzan merupakan seruan Illahi. Nada-nada cinta yang berasal dari surga dan tidak bisa diibaratkan dengan suara binatang atau nyanyian yang memekakkan telinga.


Rangga meminta keluarga dan seluruh karyawan supaya menghentikan sejenak ritual makan mereka untuk mendengarkan serta meresapi seruan Illahi melalui adzan yang dikumandangkan oleh hamba-Nya.


Setelah adzan selesai dikumandangkan, mereka menengadahkan kedua telapak tangan seraya memanjatkan doa.


"Allaahumma robba haadzihid da'watit taammah, washsholaatil qoo-imah, aati muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasysyarofa, wad darajatal, 'aaliyatar rofii'ah, wab'atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa'adtah, innaka laa tukhliful mii'aadz.


Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan ini, berikanlah dengan limpah karuniaMu kepada Nabi Muhammad kedudukan dan keutamaan (paling tinggi) dan limpahkanlah kepadanya tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan."

__ADS_1


Rangga beranjak dari posisi duduk, diikuti oleh keluarga dan seluruh karyawannya. Mereka bergegas melangkahkan kaki menuju Masjid Fathul Jihad untuk memenuhi seruan Illahi, menjalankan sholat dzuhur berjamaah.


Masjid Fathul Jihad merupakan masjid berkubah perak yang dibangun oleh Rangga beserta para sahabat. Dinamakan Fathul Jihad, karena dahulu lingkungan masjid tersebut sering kali digunakan untuk berlaku maksiat. Bukan tanpa sebab. Masjid tersebut berdiri di perkampungan yang terkenal preman serta kupu-kupu malamnya. Namun setelah masjid tersebut sering dikunjungi oleh para ustadz dan kyai yang berdakwah dengan cara merangkul bukan dengan cara memaksa, maka hati para preman dan kupu-kupu malam tersentuh. Mereka berhijrah dan berjihad melawan kebiasaan yang tercela.


....


Rasa lelah setelah seharian beraktivitas, luruh bersama derasnya air yang memancar dari shower. Wajah yang semula kusut dan tubuh yang terasa lunglai kini segar kembali.


Dengan penuh semangat, Rangga memutar handle pintu kamar mandi. Senyumnya terbit saat pandangan netranya menatap sosok cantik yang sudah berdiri menunggu. Siapa lagi jika bukan Khanza, si penakluk hati Rangga Aditya Fairuz.


Rangga mengayun tungkai, menghampiri Khanza yang menyambutnya dengan senyuman.


"Mommy sayang, malam ini kita jadikan malam yang teramat indah. Mumpung baby Azzam dan baby Humaira bersama oma dan opanya, kita nikmati malam panjang dengan melakukan ritual yang beberapa hari ini tertunda," bisik Rangga sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang belahan jiwa.


Khanza kembali mengulas senyum. Ia kalungkan tangannya di leher sang suami dan menatap lekat iris mata yang telah membuatnya jatuh cinta.


"Iya Pi. Untuk malam ini, panggil aku Khanza! Aku rindu masa-masa awal kita menikah. Meski aku selalu bertindak sesuka hati, kamu nggak pernah sakit hati. Kamu terus berusaha meluluhkan hatiku." Khanza menjeda sejenak ucapannya dan melabuhkan kecupan singkat di bibir Rangga.


Rangga melengkungkan bibir hingga terbitlah senyuman khasnya yang menawan. Ia usap pipi Khanza dan berganti melabuhkan bibir.


"Baiklah, Khanza. Malam ini, kita akan melakukannya seperti ketika malam pertama. Trimakasih telah menerimaku sebagai imammu. Trimakasih telah membalas perasaan cintaku."


"Justru aku yang seharusnya berterima kasih, Ngga. Karena kamu telah sabar menanti balasan cintaku," ujar Khanza dengan tertawa kecil.


"Haruskah aku menjawab, sama-sama?"


"Nggak lah. Cukup menjawabnya dengan senyuman manismu."


"Hmmm baiklah, Khanza comel. Sebelum kita melakukannya, berarti ... aku harus memakai kumis dan jenggot palsu donk," ucap Rangga sambil terkekeh.


"Why?"

__ADS_1


"Karena ketika malam pertama, aku masih berkumis dan berjenggot lebat. Jangan-jangan, kamu merindukan sosok Aditya ya?" Rangga menoel hidung mancung istrinya.


"Iya, aku merindukan sosok Aditya. Rangga Aditya Fairuz."


"Tapi, sosok yang kamu maksud itu sekarang ada di sini, Za. Aku selalu ada di sisimu."


"Meski kamu ada di sisi, tapi aku selalu merindu. Aku selalu rindu senyumanmu, kasih sayangmu, dan sentuhanmu, Ngga. Cintamu ... candu bagiku."


CUP


Rangga menyatukan bibirnya dengan bibir Khanza. Bibir keduanya saling berpagut, menyelami rasa manis yang selalu menjadi candu.


Usai melepas pagutan, Rangga memegang pucuk kepala Khanza dan membaca doa sebelum bersenggama.


Keduanya memulai ritual penyatuan raga berteman cahaya sang dewi malam yang menyelusup melalui celah-celah jendela kamar.


Alunan nada-nada cinta terdengar bersahutan ketika sepasang insan yang saling mencinta itu mengarungi samudra asmara, merengkuh kenikmatan surga dunia yang tak mampu terlukiskan dengan rangkaian kata-kata sang pujangga cinta.


Rangga ditakdirkan untuk Khanza, pun sebaliknya. Khanza ditakdirkan untuk Rangga.


Seperti Adam dan Hawa, keduanya merengkuh cinta atas ridho dan halal dari-Nya.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah bisa double UP, karena si bocil libur sekolah dan lagi asik main bersama sohib-sohibnya. 😙


Mon maaf, bab ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun ya. Murni curahan hati si author 😉🙏


Yuk tampol author dengan like, komen, dan vote, supaya lebih bersemangat UP nya 😘

__ADS_1


Trimakasih dan love love sekebon 😘😘😘


__ADS_2