Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Duka


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Usai melangitkan pinta dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Annisa kembali mengayun kaki. Namun sebelum ia memasuki area rumah sakit, seseorang menyekap mulutnya dari belakang ....


Entah apa yang akan terjadi. Mungkinkah firasat Annisa menjadi nyata? Jika benar, semoga akan datang malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan wanita saleha itu.


Dengan sekuat tenaga, Annisa berusaha melepaskan diri dari tangan kekar pria yang tiba-tiba menyekapnya. Namun sayang, usaha Annisa sia-sia. Bahkan, ia mulai kehilangan kesadaran akibat pengaruh obat bius.


Pria berbadan besar yang merupakan orang suruhan Farhan, segera membawa Annisa ke dalam mobil. Dengan sangat hati-hati, ia merebahkan tubuh dokter saleha itu di jok mobil bagian belakang.


Sebelum melajukan mobil, pria berbadan besar yang tak lain adalah Yudi, segera mengirim pesan ke nomor Farhan. Senyum menyeringai ia tampilkan ketika sang tuan membalas pesannya seraya memberi titah.


Segera bawa calon istriku ke villa


....


Angkasa berselimut awan hitam, berkawan tangisan penduduk langit, diikuti gelegar suara petir yang menyambar bumi, mengiringi kidung kedukaan seorang gadis yang terdengar pilu dan menyayat hati. Gadis itu ... Reni. Gadis malang yang pengorbanannya seolah sia-sia, sebab sang nenek menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan penyakit kangker hati. Ya, seusai menjalani operasi semalam, ternyata kondisi nenek Reni drop. Beliau menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa menit Reni, Dara, dan Dylan tiba di rumah sakit.


Reni sungguh teramat menyesal, sebab semalam tidak bisa menemani neneknya. Bukan tanpa alasan, tapi ... semalam Reni menjemput kehancurannya dengan menyerahkan kesucian yang selama ini ia jaga demi sang nenek.


"Nenek ...." Reni memeluk erat tubuh renta yang sudah tidak bernyawa, seolah tak rela melepas kepergian sang nenek ke alam keabadian.


"Nenek, jangan pergi! Jangan tinggalkan Reni seorang diri, Nek! Reni sudah tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Nenek ... bawa Reni Nek! Bawa Reni pergi bersama Nenek!" Suara Reni bergetar diiringi isak tangis yang semakin memilukan.

__ADS_1


Dara tak mampu lagi membendung air mata yang jatuh dari telaga bening. Dadanya serasa sesak ketika menyaksikan Reni yang tengah berselimut duka. Tangan diulurkannya untuk merengkuh tubuh gadis malang itu lantas membawanya ke dalam pelukan.


Diusapnya punggung Reni, seraya memberi kekuatan agar gadis itu mampu untuk tetap tegar dan tabah menghadapi ujian berat yang menyapa.


"Ren, kamu tidak sendiri. Masih ada kak Dara, Bang Dylan, dan keluarga kami yang akan senantiasa menemanimu. Ikhlaskan kepergian nenekmu karena Allah lebih menyayangi beliau. Kini, nenekmu sudah tidak merasakan sakit lagi," tutur Dara dengan suaranya yang terdengar lembut.


"Sekarang, kita bawa jenazah nenek ke kediaman mertua kak Dara. Kak Dara sudah meminta Bang Dylan untuk menghubungi ayah Abi dan bunda Kiran. Kedua mertua kak Dara, berkenan untuk mengurus pemakaman nenekmu Ren," sambungnya tanpa melepas pelukan.


Reni tak mampu berkata-kata. Suaranya tercekat karena rasa yang menyesakkan dada. Untuk sekedar membalas ucapan yang dilisankan oleh Dara, ia sungguh tak kuasa.


"Sayang, ayah dan bunda sudah tiba." Suara Dylan mengalihkan atensi Dara. Perlahan, ia melepas pelukan, lalu mengusap jejak air mata yang membingkai wajah.


"Ayah, Bunda." Dara menyambut Abimana dan Kirana dengan seutas senyum diikuti uluran tangan. Lantas diciumnya punggung tangan kedua paruh baya itu dengan takzim.


Kirana mengedar pandangan ke arah Reni dan jasad renta yang terbujur kaku di atas ranjang. Hatinya yang lembut memaksa titik-titik air berkumpul di pelupuk mata. Ia merasa teramat berempati pada gadis malang yang kini tengah duduk bersimpuh sambil menangis pilu.


"Sayang, ikhlaskan kepergian nenek! Beliau pasti teramat sedih jika melihat cucunya ini meratapi kepergiannya. Sekarang, kita bawa jenazah nenek ke rumah kami. Kita antarkan beliau untuk menghadap Robb Yang Maha Kasih," tutur Kirana ... lembut.


Reni menghela nafas dalam, menghempas rasa yang membenamkannya ke lembah duka.


"Iya Te," lirih Reni diikuti anggukan pelan.


"Panggil tante ... bunda! Mulai saat ini, Ayah Abi dan Bunda Kiran adalah kedua orang tuamu, Sayang."


"Bu-bunda," ucap Reni terbata dan sedikit ragu.

__ADS_1


Kirana menerbitkan senyum lalu membawa tubuh Reni ke dalam pelukan. Ia usap punggung gadis malang itu dengan sayang.


Hati Reni menghangat. Kerinduan yang selama ini ia rasa terhadap sosok bunda, kini terobati karena kehadiran Kirana di hidupnya.


Yakinlah, bahwa langit tak selalu mendung dan malam tak selalu gelap sebab ada cahaya ribuan bintang yang menyinari seisi bumi ...


....


Rupanya, ketika Annisa dimasukkan ke dalam mobil, Rudi baru tiba di area parkir rumah sakit. Ia berniat menyusul wanita yang dicintainya itu karena merasakan firasat yang sama. Hati Rudi tidak tenang dan sekelebat bayangan wajah Annisa menari-nari di pelupuk mata.


Rudi mencari Annisa ke seluruh ruangan rumah sakit. Namun hasilnya nihil. Dokter saleha itu ternyata tidak berada di rumah sakit.


"Di mana kamu, dek Nissa? Mengapa, perasaanku semakin tidak tenang?" Rudi bermonolog sambil mengacak rambutnya frustasi. Ketakutan dan kekhawatirannya semakin meraja ... hingga otaknya tak mampu berpikir dengan jernih ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2