Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Cemburu


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Seketika tangan Danu mengepal disertai netra yang terbingkai kabut amarah tatkala Kirana selesai bertutur. Pria paruh baya itu merasa tidak terima ... mengetahui putrinya diperlakukan seperti seorang wanita pemuas naf-su. Bukan seorang istri yang semestinya diperlakukan dengan sangat manis dan penuh kelembutan.


BRAKKK


Danu menggebrak meja, meluapkan kobaran api amarah yang menguasai jiwa ....


"Kurang ajar. Anak c-cunguk itu belum tau ... siapa Danubrata."


Meski Rossa juga teramat marah karena perlakuan sang menantu terhadap putri semata wayangnya. Namun, wanita itu terlihat lebih tenang sebab mampu mengendalikan emosinya. Ia berusaha menenangkan Danu dengan memberi usapan lembut pada punggung pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Pa, Papa harus tenang! Kita selesaikan masalah Milea dan Jordan dengan kepala dingin. Lebih baik, kita bertanya langsung pada Milea tentang semua perlakuan Jordan. Setelah itu, kita mencari bukti untuk menyeret Jordan ke meja hijau jika dia benar-benar terbukti bersalah," tutur Rossa bijak.


"Benar apa yang disampaikan oleh Mbak Rossa. Lebih baik, selesaikan permasalahan Milea dan Jordan dengan kepala dingin. Jangan hanya mengandalkan emosi yang ujung-ujungnya malah akan menciptakan masalah baru." Kirana kembali bersuara. Ia sependapat dengan Rossa.


Danu menghela nafas panjang, menghempas amarah yang masih berkobar.


"Andai dulu Milea saya nikahkan dengan Dylan, mungkin putri kami akan hidup bahagia, tidak seperti saat ini," lirih Danu mengungkap rasa sesal.


"Sudahlah, Mas Danu. Jangan menyesali apa yang telah terjadi. Lagi pula, putra kami sudah menikah. Dylan dan Milea mungkin memang tidak ditakdirkan berjodoh --"


"Saya rela menjadi istri kedua Dylan, Te." Milea memangkas ucapan Kirana. Wanita itu terlihat menuruni anak tangga dengan berpegangan pada lengan terbuka Rizqi.


"Maaf Milea, tante sama sekali tidak mengijinkan Dylan untuk menikah lagi. Cukup, hanya Dara sebagai istri sah Dylan di mata dunia dan akherat," ujar Kirana tegas.


"Bukankah, ajaran agama kita memperbolehkan poligami? Jadi tidak ada salahnya 'kan jika Dylan memiliki dua istri? Saya rela menjadi istri kedua. Saya ikhlas berbagi suami." Milea tetap bersikukuh ingin menjadi istri kedua Dylan. Tentu saja jika ia telah bercerai dengan Jordan, pria yang masih berstatus sebagai suaminya saat ini.


"Milea, poligami memang diperbolehkan dalam ajaran agama kita. Namun, banyak syarat yang mesti diperhatikan. Dengan kata lain, poligami itu tidak semudah yang diucapkan. Lebih baik, kamu selesaikan masalahmu terlebih dahulu dengan Jordan. Belum pasti 'kan, kalian bercerai. Ingat Milea, jangan memaksakan kehendak! Tante akan memasang badan, menghalau siapa saja yang berniat menjadi duri dalam rumah tangga anak-anak tante."


Milea bergeming. Kata-kata yang diucapkan oleh Kirana dengan sangat tegas, sedikit membuatnya gentar.


"Saya rasa, perbincangan kita sudah cukup. Oleh karena itu, kami mohon diri," ucap Kirana sembari beranjak dari sofa diikuti oleh Abimana dan kedua tuan rumah.

__ADS_1


"Saya sebagai mamanya Milea, meminta maaf atas kelancangan putri kami. Kami sungguh merasa tidak enak hati pada Mbak Kiran dan Mas Abim," tutur Rossa merendahkan suara. Ia benar-benar merasa tidak enak hati kepada Abimana dan Kirana karena perkataan putrinya.


Kirana menerbitkan senyum lalu membalas ucapan Rossa. "Kami memaklumi, Mbak. Mungkin, saat ini jiwa Milea sedang terguncang sehingga membutuhkan sandaran. Saya rasa, lebih baik Milea dibiasakan bersandar pada bahu kalian. Bukan malah bersandar pada bahu seorang pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri."


Ucapan Kirana terdengar halus di indra pendengaran. Namun sukses menohok segumpal daging yang bersemayam di dalam tubuh kedua orang tua Milea, Danu dan Rossa.


Setelah mengucap salam, Abimana dan Kirana membawa tubuh mereka keluar dari kediaman Danubrata.


....


Mobil yang ditumpangi oleh Abimana dan Kirana, seolah melesat dengan cepat. Keduanya sampai di hotel ketika mesin waktu menunjuk angka dua belas malam.


Drtt ... drtttt


Gawai Kirana bergetar ketika mereka telah berada di dalam kamar. Gegas, Kirana meraih gawai yang ia simpan di dalam tas lalu menggeser layar benda berbentuk pipih itu.


"Assalamu'alaikum, Sayang." Kirana melisankan ucapan salam dengan sangat manis. Hingga tanpa ia sadari, ucapannya itu menciptakan sensasi panas di hati Abimana. Entah, sebenarnya siapa yang menghubungi Kirana di tengah malam.


"Bund, siapa yang menelepon Bunda malam-malam?" bisik Abimana tepat di telinga istri comelnya seraya melontarkan tanya.


"Cowgan, Yah. Cowgan yang sudah sangat bunda rindukan sejak lama."


Hati Abimana bagai dihujam ribuan tombak yang tak kasat mata kala mendengar jawaban dari istrinya. Sakit tetapi tak berdarah.


Pria bermata teduh itu beranggapan bahwa istrinya mempunyai pria idaman lain.


Seketika ia mengambil dengan paksa gawai yang berada dalam genggaman tangan Kirana. Lalu memutus panggilan telepon tanpa membaca nama si penelepon.


"Loh Ayah, kenapa malah gawaiku diambil sih?" protes Kirana saat gawai di tangannya telah berpindah tangan.


"Sebab, Ayah tidak suka, Bunda memanggil cowgan lain dengan sebutan Sayang," tandas Abimana meluapkan apa yang ada di pikirannya.


"Bund, kenapa Bunda tega mengkhianati cinta kita? Apa mungkin, ayah sudah tidak lagi handsome hingga Bunda mencari cowgan lain?"


Bukannya menjawab kalimat tanya yang terlisan dari bibir Abimana, Kirana malah tergelak karena merasa geli dengan ekspresi kecemburuan suaminya itu yang terkesan berlebihan.

__ADS_1


"Pffftttt ... hhahhaha, yaa Allah ... Ayah ... Ayah."


Abimana mengernyitkan dahi, hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Lantas ia melisankan tanya karena merasa heran. "Kenapa, Bunda malah tertawa?"


"Ya jelas tertawa, Yah. Karena, yang bunda panggil sayang itu ... Alif. Putra angkat kita."


Hati yang semula panas karena terbakar oleh api cemburu, seolah bagai tersiram air langit tatkala Kirana menyebut nama Alif, putra almarhum Kevin (salah satu anak buah Abimana yang telah tiada karena kecelakaan pesawat, kisahnya ada di episode Mantan Jadi Besan) yang sudah mereka anggap sebagai putra sendiri.


"Astaghfirullah, jadi ... tadi yang menelepon Bunda si Alif, putra kita?"


Kirana mengangguk dan tersenyum. "Iya Yah."


"Kalau begitu, lebih baik ... Bunda segera menelepon Alif! Ayah sangat merindukannya."


"Hmmmm, Ayah sendiri saja yang menelepon Alif. Takutnya, jika bunda memanggil Alif dengan sebutan sayang, ada seseorang yang cemburu," ujar Kirana menyindir suami handsomenya.


"Maafkan ayah, Bund. Ayah sungguh merasa bersalah sebab telah salah sangka pada Bunda. Karena terbakar oleh api cemburu, ayah malah menuduh Bunda telah mengkhianati cinta kita," tutur Abimana penuh rasa sesal.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yah. Kecemburuan Ayah menandakan rasa cinta yang tidak terkikis oleh waktu. Sama besarnya ketika rasa itu mulai tumbuh. Bahkan mungkin, lebih besar."


Abimana meraih tubuh istrinya, lantas memeluknya erat.


Tangan yang semula menjuntai, ia angkat untuk membalas pelukan sang kekasih yang selamanya tidak akan pernah terganti. Meski kelak, kedua insan itu akan dipisahkan oleh maut yang mungkin saja bersiap menjemput salah satu di antara mereka .....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Mon maaf, kemarin othor belum bisa UP. Nggak ada alasan lain selain karena pekerjaan di RL yang nggak kelar-kelar. πŸ₯ΊπŸ™


Maaf jika bertebaran typo πŸ˜‰πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like πŸ‘


Tekan ❀ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya πŸ˜‰


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❀


__ADS_2