Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Tertunda


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Kebelet apa Humaira?"


"Buang air kecil." Annisa mendorong tubuh Dhava lalu membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Gegas, ia pun beranjak dari ranjang dan mengayun tungkai menuju kamar mandi.


Seketika, Dhava mengusap bagian tubuhnya yang tiba-tiba layu. Raut kecewa terlukis jelas di wajahnya karena Annisa memangkas ritual penyatuan raga.


....


Sudah lebih dari setengah jam, Annisa belum juga keluar dari kamar mandi. Dhava menunggu dengan perasaan khawatir.


Dibawanya langkah untuk menjangkau pintu kamar mandi, memastikan sang kekasih halal dalam keadaan baik-baik saja.


"Humaira, kenapa lama sekali? Sebenarnya kamu sedang apa hmmm?" Dhava mengetuk pintu. Berharap Annisa akan mendengar ketukan dan kalimat tanya yang terlisan dari bibirnya.


"Humaira, Sayang, jawab donk!" Dhava semakin diselimuti oleh perasaan khawatir sebab tak juga mendapat respon.


"Mas ...." lirih Annisa, mengikis rasa yang tengah mengganggu pikiran Dhava.


"Mas, minta tolong ambilkan roti! Perutku sangat sakit!" pinta Annisa dengan sedikit mengeraskan suara.


Dhava menautkan kedua pangkal alis. Otak cerdasnya tiba-tiba lamban untuk berpikir.


"Humaira, keluarlah! Mas Dhava akan segera membawakan roti untukmu."


Dhava bergegas mengayun tungkai menuju dapur. Ia berharap, segera menemukan roti untuk Annisa.


"Loh, Mas Dhava. Cari apa Mas? Kog ke dapur sendiri? Nggak minta tolong mbak Nisa saja po?" Dhava memasang senyum ala iklan pasta gigi, menanggapi pertanyaan Arum yang sambung menyambung seperti kereta api.


"Saya sedang mencari roti untuk Annisa, Mbak. Sepertinya Annisa merasa lapar, jadi ... Nisa meminta saya untuk mengambilkan roti."


Arum manggut-manggut. "Owh. Tumben jam segini mbak Nisa merasa laper. Pasti gara-gara serangan Mas Dhava yang luar biasa. Ya 'kan?" Arum menaik turunkan kedua alisnya dan memasang senyum menyebalkan.


Dhava menggaruk tengkuk dan mengacuhkan celotehan Arum dengan menarik kedua sudut bibirnya hingga menampilkan seutas senyum.


Ia berpikir, ucapan Arum ada benarnya. Mungkin gara-gara serangannya, energi Annisa terkuras sehingga wanita yang telah sah menjadi istrinya itu merasa sangat lapar. Tapi, bukankah tadi baru pemanasan? Ia juga belum berhasil mencetak goals.


"Mas Dhava, ini rotinya!" Arum menyerahkan sepiring roti yang telah diolesi mentega dan ditaburi meses.


"Trimakasih, Mbak Arum," ucap Dhava sambil menerima sepiring roti dari tangan Arum.


"Sami-sami Mas ganteng. Kalau perlu susu hangat, bilang saja ke Arum! Arum akan membuatkan STMJ, susu telur madu jahe yang sudah terbukti khasiatnya," ujar Arum dengan lagaknya yang kemayu.

__ADS_1


"Hah Mbak Arum, kemayunya naudzubillah, mengalahkan princess Saharani," timpal Dhava. Tentu saja hanya terlisan di dalam hati.


"Memangnya, khasiat STMJ itu apa Mbak Arum?" tanya yang terlisan, hanya sekedar berbasa-basi. Yang sebenarnya, Dhava sudah mengetahui manfaat STMJ. Minuman tersebut dapat menambah stamina pria dan tentunya sangat ampuh untuk meningkatkan vitalitas saat bercinta.


Rupanya sebelum menikah, Dhava sering membaca artikel yang berkaitan dengan tata cara bercinta, sebab ia tidak ingin mengecewakan istrinya di atas ranjang.


"Khasiatnya, membuat tubuh Mas Dhava semakin strong dan kuat sampai pagi," jawabnya dengan lagak yang sama, kemayu.


"Benarkah?"


"Ya benar tho Mas. Kalau nggak percaya, dibuktikan dulu --"


"Saya percaya kog Mbak." Dhava tersenyum lantas segera melangkah pergi.


....


Dhava masuk ke dalam kamar dengan membawa satu piring roti di tangannya. Bibirnya melengkung kala melihat sang istri sudah keluar dari kamar mandi dan berbaring di atas ranjang.


"Humaira, ini rotinya!" Dhava meletakkan satu piring roti yang ia bawa di atas nakas. Lalu mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang.


"Mas, kenapa Mas Dhava lama sekali?" Annisa beranjak dari posisi berbaring. Kemudian ia sandarkan punggungnya pada headboard.


"Maaf Humaira, tadi ada Mbak Arum di dapur. Tahu sendiri 'kan bagaimana cerewetnya dia?" Dhava meraih tangan Annisa lantas menghujani buku-buku jari istrinya itu dengan kecupan lembut.


"Loh, Humaira 'kan meminta Mas Dhava untuk mengambilkan roti. Karena di kamar tidak ada roti, Mas Dhava langsung mencarinya ke dapur. Alhamdulillah, rotinya ada," jawabnya berterus terang.


Ucapan Dhava sukses menggelitik indra pendengaran. Sehingga Annisa pun tergelak lirih.


"Loh, kog Humaira malah ketawa sih? Memangnya, ada yang lucu dengan ucapan mas Dhava?" Dhava mengerutkan dahi. Ia teramat heran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya.


Annisa mengangguk. "Iya Mas. Ucapan Mas Dhava sukses menggelitik telinga Annisa. Sehingga Nisa tidak bisa menahan tawa."


"Why?"


"Karena, maksud Annisa bukan roti yang terbuat dari tepung atau bahan makanan lain. Tapi --" Annisa menggantung ucapannya dan menatap lekat wajah Dhava yang teramat menggemaskan.


"Tapi, apa Humaira?"


"Tapi, roti yang biasa Nisa pakai setiap kedatangan tamu bulanan, laurieree."


Jeglerrrrr


Kata-kata yang terlisan dari bibir Annisa bagai petir yang menghantam. Dhava seketika lemas. Keinginannya untuk segera merasakan kenikmatan surga dunia, tertunda. Bukan hanya sehari atau dua hari. Tetapi selama satu minggu.


"Hahay, kasihan amat si Dhava. Sabar Va, cuma satu minggu kog. Bukan satu abad," othor said.

__ADS_1


Annisa mengusap lembut pipi Dhava. Ia faham, bahkan sangat faham dengan apa yang tengah dirasakan oleh suaminya itu.


"Mas, maaf ya. Annisa tidak bisa melayani Mas Dhava selama satu minggu. Nisa kedatangan tamu bulanan," ucap Annisa dengan memasang wajah sendu.


Dhava mengulas senyum. Diraihnya tangan lembut yang masih menempel di pipi lantas dikecupnya dalam.


"Humaira tidak perlu meminta maaf. Insya Allah Mas Dhava sanggup kog menahannya selama satu minggu."


"Trimakasih, Mas."


"Iya Humaira." Dhava merengkuh tubuh istrinya lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Tadi, selain kebelet buang air kecil, perut Annisa juga sakit, seperti diremas-remas. Selang lima belas menit, tamu bulanan Nisa datang, Mas. Nisa merasa teramat bersalah, karena tidak bisa melayani Mas Dhava di malam pertama kita," sesal Annisa.


Dhava mengeratkan pelukan dan mengecup pucuk kepala Annisa.


"Sudah larut malam. Lebih baik, kita segera beristirahat, Humaira."


"Iya Mas."


Perlahan, Dhava melepas pelukan. Ia menuntun Annisa untuk merebahkan tubuh yang lelah di atas ranjang. Dengan saling berpeluk, keduanya mulai berlayar ke pulau mimpi ....


....


Seusai menjalankan ibadah sembahyang subuh, Reni merasa badannya kurang sehat. Kepalanya pening dan perutnya serasa mual.


Dengan langkah lebar, Reni berjalan menuju kamar mandi yang berada di samping mushola untuk memuntahkan semua makanan yang berada di dalam perutnya.


Tubuh Reni seketika lemas seolah tanpa daya yang tersisa.


"Reni ...." Suara teriakan seseorang yang berdiri tidak jauh dari kamar mandi mengiringi tubuh Reni yang terhuyung dan hampir luruh ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2