Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Sentilan Kecil


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Awan hitam bergulung-gulung meredupkan kilauan warna jingga di langit senja. Sejenak angkasa merenung, sebelum tangisan penduduk langit tertumpah.


Khanza menatap sendu dedaunan yang gugur karena sapuan sang bayu, dari balik jendela kamar. Hatinya resah menanti kedatangan suami tercinta, Rangga Aditya Fairuz.


Apa yang terjadi pada Rangga? Kenapa segumpal daging yang bersemayam di dalam dada sang belahan jiwa masih saja berdenyut nyeri?


Semoga apa yang dirasa bukanlah suatu isyarat ....


"Nyahmud ...." Suara Inah mengalihkan atensi Khanza. Seketika wanita yang tengah resah itu merotasikan kepala.


"Nyahmud, den Rangga --" Inah menggantung ucapannya. Suaranya tetiba tercekat karena sesuatu yang menyumbat tenggorokan.


"Mas Rangga kenapa, Bi?" Khanza beranjak dari posisi duduk lantas membawa tubuhnya berhadapan dengan Inah.


"I-itu. Mas Rangga i-tu." Ucapan Inah yang ambigu menambah keresahan jiwa, mendorong embun yang sedari tadi bergelayut manja di kelopak mata, terjatuh menimpa wajah ayu nan sendu. Khanza mengira, Inah akan menyampaikan kabar pahit tentang suaminya.


"Bi, mas Rangga kenapa? Apa yang terjadi pada suamiku?" Khanza kembali melisankan tanya sambil mengguncang-guncang tubuh Inah.


"Nyah-mud. Jangan seperti ini! Den Rangga ada di --"


Ucapan Inah terpangkas saat suara seseorang mengalihkan atensi. Rasa resah yang semula membuncah kini terkikis.


"Mom --"


Speechless


Khanza mematung. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar mengucap sepatah kata.


"Mommy sayang." Rangga menerbitkan senyum yang dirindukan oleh Khanza. Ia pun merentangkan tangan, berharap sang belahan jiwa menghambur ke pelukan.


"Pa-pi," lirih Khanza. Kaki yang serasa lunglai dipaksanya terayun untuk menghampiri sang Adam.


"Pi, ini benar kamu?" tanya yang terlisan setelah jarak keduanya terkikis. Khanza mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyentuh pipi Rangga. Memastikan yang terlihat oleh netranya bukanlah suatu fatamorgana melainkan pahatan nyata Sang Pencipta.


"Tentu saja, Mi. Ini aku, Rangga Aditya Fairuz, suamimu." Tangan yang semula merentang, diangkatnya perlahan untuk meraih kedua tangan Khanza yang masih menempel pada pipinya, lantas ia hujani buku-buku jari kekasih hatinya itu dengan kecupan mesra.


"Mommy, papi rindu," bisik Rangga. Ia rengkuh tubuh Khanza dan membawanya ke dalam pelukan. Khanza membalas pelukan suaminya. Hingga kedua pasang Adam dan Hawa itu berpeluk erat. Menumpahkan kerinduan, menghempas rasa yang sempat menyiksa jiwa.


Inah tak kuasa menyaksikan adegan yang tersaji di hadapannya. Ia pun bergegas memutar tumit dan mengayun tungkai untuk menemui sang pujangga cinta, Udin Fakhrudin.

__ADS_1


"Pi, mommy juga rindu. Mommy sangat mengkhawatirkan Papi. Mommy takut kehilangan Papi." Khanza menangis tersedu. Meluapkan apa yang dirasa.


"Mommy, maaf. Maaf karena papi telah membuat Mommy khawatir. Papi janji, nggak akan lagi meninggalkan Mommy dan kedua buah hati kita. Papi sungguh-sungguh berjanji Mi."


Rangga mencium lama pucuk kepala Khanza, mencurahkan dalamnya rasa cinta.


Perlahan, keduanya melerai pelukan lantas saling menatap dengan intens.


"Pi, sebenarnya apa yang terjadi di perjalanan tadi? Kenapa, nomor hand phone Papi, Idam, dan om Jo nggak ada yang bisa dihubungi?" tanya yang terlisan tanpa mengalihkan tatapan.


"Maaf Mi. Tadi hand phone kami sempat nggak ada sinyal," jawabnya sambil menyeka jejak air mata yang membingkai wajah cantik Khanza.


"Hanya itu?" tanya Khanza menyelidik.


Rangga menghembus nafas berat. Terbayang olehnya kecelakaan yang hampir merenggut nyawa.


"Tadi, mobil yang membawa kami hampir terlibat kecelakaan beruntun, Mi. Berkat kasih sayang Allah, kami bisa terhindar dari musibah itu. Empat mobil di depan kami, ringsek. Beruntung, Idam bertindak cepat. Ia membanting stir ke kiri. Alhasil ... papi, Idam, dan om Jo selamat meski mobil yang membawa kami masuk ke sawah," terang Rangga.


"Lalu, bagaimana kondisi korban yang mobilnya terlibat tabrakan beruntun itu, Pi?" Khanza kembali melisankan tanya.


Rangga tertunduk lesu. Raut wajahnya berubah sendu.


"Empat orang meninggal di tempat kejadian dan lima orang dilarikan ke rumah sakit, Mi. Papi merinding jika teringat kejadian itu. Salah seorang korban terlempar dari mobil dan nyawanya --" Rangga tak mampu melanjutkan kata-kata saat sekelebat bayangan mengerikan nampak jelas di pelupuk mata. Sekejap, Rangga mengatupkan kelopak mata, mengusir bayangan yang membuat tubuhnya serasa lunglai.


Hati Rangga menghangat kala mendapat perlakuan yang sangat manis dari Khanza. Tubuh yang semula terasa lunglai, teraliri energi positif. Sehingga jiwanya pun kembali merasa tenang.


"Iya Mi. Papi akan membersihkan badan dulu. Tapi --" Rangga menggantung ucapannya dan menatap lekat manik mata Khanza.


"Tapi apa, Pi?" tanya yang terlisan diikuti tautan kedua pangkal alis.


"Tapi, bantuin papi membersihkan badan Mi. Papi lemes. Nggak bisa mandi sendiri," ujar Rangga seraya menggoda istri comelnya.


"Dasar modus." Khanza mencebik. Ia daratkan cubitan sayang di pinggang suami o-mesnya itu.


Bukannya mengaduh atau merintih kesakitan, Rangga malah tergelak hingga membangunkan kedua buah hati mereka, Azzam dan Humaira.


"Issshhhhh Papi. Baby Azzam dan baby Humaira terbangun 'kan."


"Upsss maaf." Rangga tersenyum nyengir dan mengangkat kedua jari, membentuk huruf V. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi sebelum terkena omelan emak beranak dua.


Dengan mulut komat-kamit, Khanza meraih tubuh baby Azzam dan baby Humaira. Lalu ia pindahkan kedua bayi itu ke ranjang berukuran 200x200 sebelum memberikan asi.


Tidak mudah bagi seorang ibu yang memiliki bayi kembar menyusui kedua buah hatinya secara bersamaan. Namun tidak bagi Khanza. Selain sudah terbiasa, Khanza juga mengetahui tata caranya.

__ADS_1


Khanza terbiasa menyusui baby Azzam dan baby Humaira dengan posisi seperti mengimpit dua tas di ketiak atau biasa disebut double-clutch.


Caranya yaitu dengan menempatkan bantal di kedua sisi tubuh, lalu meletakkan si kembar di bantal dengan posisi kepala di depan payudara, sementara kaki si kembar berada di pinggang dan melewati ketiak mommynya.


Kemudian, Khanza mengimpit lembut badan si kembar menggunakan siku seperti sedang mengimpit tas pesta di ketiak. Lalu menempatkan telapak tangan di belakang kepala masing-masing bayi untuk menyokong dan menjaga kepala mereka sejajar dengan pu-ting.


Untuk mempermudah, Khanza menggunakan bantal khusus untuk menyusui bayi kembarnya. Terkadang, Khanza menggunakan handuk atau selimut yang digulung sebagai penopang.


Rangga yang sudah tidak sabar menumpahkan kerinduan pada kedua buah hatinya, menuntaskan ritual bersih-bersih badan secepat kilat. Dalam istilah Jawa biasa disebut 'mandi bebek'.


Usai membersihkan badan, Rangga berganti pakaian di hadapan sang istri yang masih fokus memberikan asi pada kedua buah hati mereka.


Menit berikutnya, baby Azzam dan baby Humaira kembali terlelap setelah dahaga mereka terobati.


Dengan sangat hati-hati, Rangga naik ke atas ranjang. Ia ulurkan tangan untuk mengusap lembut kepala baby Azzam dan baby Humaira.


Manik mata yang semula nampak bening kini terbingkai embun. Tak terbayang olehnya jika ancaman Fariz menjadi nyata. Sebagai seorang suami sekaligus ayah, Rangga sungguh tak mampu jika harus kehilangan istri dan dua buah hatinya.


Rangga meraba setiap ujian yang menyapa. Ia pun tersadar, bahwa ujian yang diberikan Illahi sebagai bentuk sentilan kecil untuk menyadarkan dirinya yang telah lalai memperhatikan nasib para driver yang bekerja di bawah naungan Go Sukses ....


"Mom ...."


"Ada apa, Pi?"


"Bolehkah, papi menggunakan sebagian tabungan kita untuk membeli seratus sepeda motor baru? Papi ingin memberikan bantuan sekaligus reward untuk seratus driver yang bekerja di bawah naungan Go Sukses," ujar Rangga menyuarakan keinginan.


Khanza mengulas senyum lalu ia membalas ucapan suaminya, "tentu saja boleh, Pi. Bahkan, mommy sangat mendukung keinginan Papi. Insya Allah, berkah untuk kita dan mereka."


"Aamiin yaa Robb. Makasih Mi." Rangga merengkuh tubuh Khanza dan mendekapnya erat. Ia teramat bersyukur memiliki seorang istri yang berparas cantik dan berhati mulia, Saqueena Khanza Humaira ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika bertebaran typo


Jangan lupa meninggalkan jejak like 👍


Beri rate 5 ⭐


Klik ❤ untuk favoritkan karya


Beri dukungan author dengan memberi gift atau vote seikhlasnya 😉

__ADS_1


Trimakasih dan lope lope sekebon 💞


__ADS_2