
Happy reading πππ
Ternyata saat turun dari pohon, sarung Rangga tersangkut dahan. Dengan susah payah ia berusaha melepas sarungnya yang tersangkut itu. Namun naas, koloni semut menyerang tangannya. Sehingga ia pun terjatuh.
"Yaa Allah, Mas Rangga." Khanza dan Inah memekik. Gegas mereka menghampiri Rangga yang tengah mengaduh sembari mengusap punggungnya yang terasa nyeri-nyeri sedap.
"Duh Dek, demi kamu ... aku rela terjatuh dari pohon mangga. Bahkan, aku harus merelakan sarung kesayanganku robek ...," gumamnya di dalam hati.
"Mas, pasti punggungmu sakit sekali ya? Maafin aku ya, Mas. Gara-gara aku, kamu jadi jatuh dan kesakitan begini, Mas." Khanza terisak disertai raut wajahnya yang kini berubah sendu. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami. Ia juga sangat menyesal, Rangga terjatuh dari pohon karena menuruti permintaannya. Beruntung, pohon yang dipanjat oleh Rangga tidak terlalu tinggi. Bahkan sebenarnya, buah mangga yang diinginkan oleh Khanza bisa dipetik tanpa harus dengan cara memanjat.
Rangga sungguh tidak tega melihat wajah Khanza terbingkai air mata. Ia juga tidak tega menyaksikan sang istri yang teramat dicintainya itu larut dalam penyesalan.
"Sayang, jangan menangis lagi ya! Mas nggak kenapa-napa kog. Lagian, mas terjatuh karena kecerobohan mas sendiri. Sama sekali bukan karenamu Yang," tutur Rangga dengan mengulas senyum. Ia raih tubuh sang istri lantas membawanya ke dalam dekapan.
"Tapi Mas --"
"Sssttt, nggak ada kata tapi-tapian. Yang terpenting, keinginan Sayang bisa terwujud dan calon bayi kita nggak akan ngiler," ucapnya menginterupsi sembari mengusap punggung Khanza untuk mentransfer energi positif agar kekasih halalnya itu merasa tenang.
Setelah tangis Khanza mereda, Rangga melerai pelukan. Lalu ia seka jejak air mata yang membingkai wajah cantik sang bidadari hati.
"Sudah ya nangisnya! Kita masuk ke dalam yuk Yang!" ujar Rangga seraya mengajak Khanza untuk masuk ke dalam rumah.
Khanza mengangguk pelan, sebagai pertanda bahwa ia meng-iyakan ajakan suaminya.
Perlahan keduanya beranjak lantas membawa tubuh mereka masuk ke dalam rumah diikuti oleh Inah.
"Mas, aku obati dulu lukamu," ucap Khanza setelah ia dan Rangga mendaratkan bobot tubuh mereka di sofa.
"Sepertinya nggak ada yang terluka, Yang. Cuma tadi sempat nyeri-nyeri sedap. Lagi pula, pohonnya 'kan nggak tinggi."
__ADS_1
"Coba dech buka kausmu, Mas! Semoga aja, bener-bener nggak ada luka," ucapnya lagi, menimpali perkataan sang suami.
Rangga menuruti permintaan istrinya. Ia membuka kaus berwarna putih yang menutupi roti sobeknya.
Inah menelan saliva tatkala melihat roti sobek tuannya yang sukses menarik perhatian. Meski sudah berusia lima puluh tahun, tetapi setiap melihat perut six pack ... ia tidak bisa menjaga pandangan.
Khanza menyadari pandangan netra Inah yang tak biasa. Seketika, ia pun melayangkan tatapan tajam ke arah wanita paruh baya itu dan berkata dengan nada sarkasme. "Ehemm, jaga pandangan Bi! Lebih baik kupasin mangga untuk saya dari pada netra Bibi berdosa."
Inah nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal kala mendengar kalimat perintah yang dilontarkan oleh majikannya itu.
"Eh, i-iya Mbak Khanza. Maafkan kekhilafan saya. Mata saya ini tidak bisa dikendalikan ketika melihat roti sobek Tuan Muda. Maksud saya, Mas Rangga. Harap maklumi saya ya Mbak. Meski usia saya sudah lima puluh tahun, tapi belum juga diberi jodoh. Jadi, saya belum pernah melihat perut pria yang mirip roti sobek, seperti perut six pack-nya Mas Rangga," sahut Inah berterus terang.
Khanza membuang nafas sedikit kasar. Tanpa membalas ucapan Inah, wanita yang sedang hamil muda itu kembali menutupi tubuh Rangga dengan kaus yang baru saja dilepas. Kemudian ia mengajak suami handsomenya masuk ke dalam kamar.
"Yuk Mas, kita ke kamar aja! Aku nggak rela roti sobekmu dinikmati wanita lain," ujar Khanza sebal.
Rangga tergelak lirih. Ia teramat geli dengan sikap istrinya yang semakin hari bertambah posesif. "Baiklah Yang. Yuk kita ke kamar!"
Keduanya beranjak dari sofa kemudian berlalu pergi, meninggalkan Inah yang tengah dihinggapi rasa bersalah dan rasa takut. Inah takut jika Khanza akan memecatnya.
"Mas, buka kembali kausmu!" titah Khanza ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
"Hmmm, baiklah. Sepertinya Sayang sudah nggak sabar ya melihat perut mas yang mirip roti sobek?" goda Rangga, mengerlingkan netra.
"Isshhhh, apaan sih Mas. Mau diobati lukanya, atau nggak nich?"
"Diobati donk."
Setelah Rangga membuka kaus, Khanza mengamati punggung suaminya itu.
"Gimana Yang? Ada lukanya nggak?"
__ADS_1
Bibir Khanza melengkung. Ia bernafas lega sebab tidak menemukan goresan luka ataupun memar di punggung Rangga.
"Alhamdulillah, nggak ada Mas."
"Tapi, tetep diobati lho ya!"
"Diobati?"
"Heem, diobati dengan ... itutu," ujar Rangga sambil menaik turunkan kedua alis.
BLUSSS
Rona merah tercetak jelas di wajah Khanza kala mendengar ucapan Rangga. Sekelebat adegan manis yang mereka lakukan semalam, kembali menari-nari di pelupuk mata.
"Apaan sich, Mas. Semalam 'kan sudah," balas Khanza malu-malu.
Rangga merotasikan tubuhnya dengan sempurna hingga berhadapan dengan Khanza, lantas mengangkat dagu istrinya itu, mengikis jarak di antara mereka, melabuhkan kecupan untuk mengawali penyatuan raga.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mon maaf banget, si othor baru bisa UP. Semalam si kecil agak rewel. π₯Ίπ
Nantikan episode selanjutnya, Insya Allah Dylan dan Dara akan mengundang para pembaca yang masih setia mengikuti kisah 'Pernikahan Tanpa Cinta'. Yukkk yang mo ikut hadir, silahkan komen di bawah π€
Maaf jika bertebaran typo ππ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Tekan β€ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya π
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta πβ€