
Happy reading 😘😘😘
Mohon maaf, atas permintaan pembaca setia Pernikahan Tanpa Cinta, visual Dara Larasati yang awalnya tidak berhijab, author ganti dengan visual berhijab 😊🙏
Dara Larasati, seorang gadis yang bernasib malang. Ayah dan bundanya meninggal sejak ia masih kecil. Dara diangkat anak oleh Mira, wanita yang sangat membenci almarhumah sang bunda.
Ketika Dara menginjak usia 21 tahun, ia dijadikan penebus hutang oleh ibu angkatnya lalu dibawa ke Inggris oleh Clarisa.
Beruntung, Dara bertemu dengan Abimana. Setelah bertemu dengan Abimana, kehidupan Dara mulai berubah. Dara yang semula tidak berhijab, kini berhijab. Dara yang semula bernasib malang, kini merengkuh kebahagiaannya sebab dinikahkan dengan putra bungsu pasangan Abimana dan Kirana, Dylan Putra Abimanyu.
Oke, lanjut ke cerita 😉
"Maafkan ayah, Bund. Ayah sungguh merasa bersalah sebab telah salah sangka pada Bunda. Karena terbakar oleh api cemburu, ayah malah menuduh Bunda telah mengkhianati cinta kita," tutur Abimana penuh rasa sesal.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yah. Kecemburuan Ayah menandakan rasa cinta yang tidak terkikis oleh waktu. Sama besarnya ketika rasa itu mulai tumbuh. Bahkan mungkin, lebih besar."
Abimana meraih tubuh istrinya, lantas memeluknya erat.
Tangan yang semula menjuntai, ia angkat untuk membalas pelukan sang kekasih yang selamanya tidak akan pernah terganti. Meski kelak, kedua insan itu akan dipisahkan oleh maut yang mungkin saja bersiap menjemput salah satu di antara mereka .....
"Bunda, ayah kedinginan. Bisakah, malam ini Bunda memberi kehangatan?" bisiknya, membuat tubuh Kirana seketika meremang.
"Tapi Yah, bunda sedang kepanasan. Jadi, kapan-kapan saja ya?"
Abimana sedikit merenggang pelukan lalu menatap netra sang kekasih hati dengan tatapan penuh damba.
"Bunda sayang, di kamar ini 'kan ada AC nya. Jadi, Bunda tidak mungkin kepanasan," ucap Abimana merayu.
Kirana membalas tatapan Abimana dan berkata sembari mengusap lembut pipi suaminya itu. "Ayah cinta, jika Ayah kedinginan ... Ayah bisa mematikan AC nya. Jadi, Ayah tidak perlu lagi meminta kehangatan dari --"
__ADS_1
CUP
Abimana memangkas ucapan istrinya dengan menyentuhkan bibir. Kirana sama sekali tidak kuasa menolak sentuhan bibir sang kekasih halal yang menjadikannya candu. Bahkan, kedua bibir yang saling bersentuhan ... kini berpagut.
Gelora asmara kian membara kala pagutan bibir semakin mendalam, menuntut kedua insan tenggelam ke dalam asmaraloka.
Perlahan, Abimana mengakhiri pagutan bibir. Pria bermata teduh itu menerbitkan senyum ketika menatap manik mata sang istri yang kini telah berkabut.
Seusai membaca do'a sebelum bersenggama, Abimana melancarkan aksinya tanpa meminta ijin lagi dari Kirana, istri comel pilihannya.
Alunan nada-nada cinta terdengar bersahutan ketika sepasang insan yang saling mencinta itu mengarungi samudra asmara, merengkuh kenikmatan surga dunia yang tak mampu terlukiskan dengan rangkaian kata-kata.
Drrrttt ... drttt ....
Tatkala ujung tombak masih berada di dalam tempat ternyaman, tiba-tiba terdengar getaran gawai menginterupsi. Rupanya ada panggilan vidio call.
Refleks, tangan Kirana terulur untuk menggapai gawai yang berada di atas nakas. Mau tidak mau, rela tidak rela, Abimana mencabut ujung tombak yang masih ingin terbenam dengan perasaan tak karuan.
"Assalamu'alaikum, Alif sayang." Abimana dan Kirana mengucap salam secara bersamaan disertai seutas senyum yang membingkai wajah.
"Wa'alaikumsalam, Ayah, Bunda." Alif menerbitkan senyum, membalas ucapan salam kedua orang tua angkatnya.
"Lif, maaf ya. Tadi ayah memutus telepon darimu. Ayah kira, yang menelepon Bunda Kiran bukan kamu, Nak. Tetapi cowgan lain."
"Tidak apa-apa, Ayah. Justru Alif yang seharusnya meminta maaf, karena malam-malam menelepon Bunda Kiran. Alif kangen pada Ayah dan Bunda. Insya Allah, minggu depan ... Alif ke Jogja."
"Ayah dan Bunda juga kangen, Nak. Bunda sangat berharap, kakek dan nenekmu memberi ijin, supaya Alif bisa tinggal bersama Ayah dan Bunda. Rumah kami terasa sepi karena ketiga kakakmu sudah menikah, Lif."
"Iya Bund. Besok, Alif akan berbicara dengan kakek dan nenek. Alif juga sangat berharap, kakek dan nenek berkenan memberi ijin."
"Jika kakek dan nenek tidak mengijinkan, bunda yang akan berbicara langsung dengan mereka. Bunda akan meminta kakek dan nenekmu untuk turut serta. Jadi, mereka bisa tetap tinggal bersamamu, Lif. Lebih tepatnya, tinggal bersama kita."
Netra Alif nampak berbinar. "Benarkah, Bunda?"
__ADS_1
"Iya Sayang. Sekarang, Alif istirahat dulu ya! Insya Allah, minggu depan ... Ayah dan Bunda akan berkunjung ke rumah kakek dan nenek untuk bersilaturahim sekaligus menjemput kalian."
Alif bersorak senang. Setelah mengucap salam, Alif mengakhiri vidio callnya.
"Kita lanjutkan, Bund? Nanggung, nich." Abimana berujar sambil menaik turunkan alisnya.
"Hmmm, memangnya ... Ayah nggak takut encok?" sindirnya sembari menahan tawa.
"Nggak, Bundddd." Abimana mencubit hidung istri comelnya, gemas.
"Yoweslah. Karena nanggung, hayukkkk kita lanjut lagi."
"Hayuuuukkk, Bund." Abimana terlihat sangat bersemangat.
Dan terjadilah apa yang semestinya terjadi. Kedua insan yang tak lagi muda itu kembali menyatukan raga, mereguk kenikmatan surga dunia bernilai ibadah.
Meski usia Abimana dan Kirana tak lagi muda. Namun rasa cinta yang keduanya rasa, selalu bersemi bahkan akan terus bersemi.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf, segini dulu ya kakak-kakak UP nya. Insya Allah, lanjut nanti atau besok ☺
Yang kangen dengan pasangan Rangga dan Khanza, insya Allah ... kita akan bertemu mereka di episode yang akan datang. 😉
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤
__ADS_1