
Happy reading 😘😘😘
Binar bahagia menghiasi raut wajah Khanza. Ia merasa dejavu, sebab pernah berada di tempat yang sama. Namun dengan perasaan dan suasana yang berbeda ....
Setelah puas menikmati langit malam kota London, Rangga membawa istrinya kembali ke hotel. Rencananya, esok pagi pria berambut gondrong itu ingin membawa istrinya pergi ke beberapa tempat wisata romantis lainnya di Inggris.
Setelah membersihkan diri dengan air shower, Khanza dan Rangga merebahkan tubuh mereka di atas ranjang. Menghalau rasa lelah yang sedikit terasa setelah seharian mereka berkunjung ke Masjid Hijau dan London Eye.
Keduanya berbaring miring, saling menatap dan tersenyum.
"Sayang, kamu bahagia nggak hari ini?" Rangga melisankan tanya sambil menyelipkan anak rambut di belakang telinga yang menghalangi wajah ayu istrinya.
"Aku bahagia banget Mas. Trimakasih untuk kebahagiaan yang selalu kamu berikan Mas," sahutnya tanpa memudar senyum.
"Jika sayang benar-benar bahagia, beri suamimu ini imbalan, dong!"
"Imbalan apa Mas?" Dahi Khanza mengerut hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Ia tidak mengerti maksud ucapan suaminya mengenai 'imbalan'.
Tanpa menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Khanza, Rangga menyambar bibir istrinya yang ranum.
Meski sedikit terkejut, Khanza membalas sentuhan bibir suaminya.
Perlahan, Rangga melepas pagutan bibir lalu meninggalkan tanda kepemilikan di leher putih kekasih halalnya.
"Sayang, beri aku imbalan ini ... ini ... dan ini!" ujarnya sembari menunjuk ke tiga harta terindah yang masih tertutup kain.
Bibir Khanza mencebik. Namun wajahnya bersemu merah karena ucapan suami o-mesnya. "Issshhh, kamu selalu o-mes Mas. Masa imbalannya minta ini ... ini ... dan ini."
"Kan o-mesnya hanya sama kamu Yang. Nggak sama yang lain."
"Awas aja kalau berani o-mes sama yang lain. Aku langsung minta pisah, Mas."
"Jangan sekali-kali mengucap kata pisah, Yang! Sumpah demi apapun, aku nggak akan berpaling bahkan o-mes sama yang lain." Rangga mencium lama kening istrinya, mencurahkan rasa cinta tulus dari dalam hati.
"Aku hanya mencintaimu, Saqueena Khanza Humaira istriku," ucapnya sembari menatap netra sang istri lekat-lekat.
"Aku juga Mas. Aku mencintaimu Rangga Adithya Fairuz suamiku." Khanza membalas ucapan dan tatapan Rangga disertai lengkungan bibir.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu ya!" pamitnya.
__ADS_1
"Mau ngapain, Yang?"
"Ada dech."
"Hemmmm, tapi jangan lama-lama ya!"
"Iya Mas." Khanza melebarkan senyum. Ia beranjak dari ranjang kemudian membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.
Di saat Khanza berada di dalam kamar mandi, Rangga beranjak dari ranjang lalu mengenakan piyama yang sudah disiapkan di atas nakas oleh istri comelnya itu.
"Mas ...." Rangga yang hampir saja mendaratkan bobot tubuhnya kembali di atas ranjang, dibuat terkesiap karena penampilan sang istri yang sungguh menggoda.
Khanza membalut tubuhnya dengan lingerie transparan berwarna pink muda yang membentuk lekuk tubuh dan membiarkan surai hitamnya tergerai. Lingerie yang saat ini dikenakannya adalah kado pernikahan dari Zahra. Selain memberikan lingerie sebagai kado pernikahan, Zahra juga memberi mantel yang terbuat dari wol berkualitas.
Rangga menelan saliva tatkala tersuguh pemandangan yang teramat indah di depan mata. Tangan yang menjuntai kini terulur untuk meraih tubuh wanita yang halal untuk disentuhnya.
"Sayang, kamu --"
Khanza mengulas senyum lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"Mas, aku akan memberimu imbalan yang kamu inginkan. Kita hiasi malam ini dengan mereguk kenikmatan surga dunia yang bernilai ibadah," tutur Khanza disertai tatapan penuh cinta.
Senyuman terlukis di wajah rupawan kala mendengar kata-kata yang terucap dari bibir sang kekasih. Ia daratkan kecupan di kening dan membaca doa sebelum memulai ritual penyatuan raga.
Khanza terkikik geli saat Rangga salah membaca doa. Bukan doa sebelum bersenggama, tetapi malah doa sebelum tidur.
"Astaghfirullah. Mas, kamu mau langsung tidur ya? Kog bacanya malah doa sebelum tidur. Yasudah, kita langsung tidur aja ya?" ujarnya seraya menggoda sang suami.
"Ya Allah, aku salah membaca doa gara-gara melihat penampilan sayang yang begitu wow. Sampai-sampai otakku jadi blank --" Rangga menertawai kekonyolannya sendiri lantas melanjutkan ucapannya yang terjeda.
"Sumpah, aku nggak bakal bisa tidur sebelum sayang memberiku imbalan --"
"Oya?"
"Heem."
Rangga menghela nafas dalam sebelum membaca doa yang benar.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
__ADS_1
Setelah membaca doa tersebut, Rangga merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Lantas memulai penyatuan raga yang bernilai ibadah.
Perasaan aneh membuat keduanya mengerang lembut. Irama mulai teratur dan mengalun indah ketika raga mereka bersatu.
"Trimakasih, sayang ...," ucap Rangga sembari memeluk erat tubuh istrinya yang bermandikan peluh.
Khanza mengangguk dan menghiasi bibirnya dengan senyuman yang merekah lalu membalas pelukan Rangga.
"Semoga benih cinta kita segera tumbuh di rahimmu, Yang."
"Aamiin yaa Allah, semoga Mas."
"Sayang ingin anak pertama kita laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki atau perempuan sama aja, Mas. Yang terpenting anak-anak kita kelak tumbuh dengan sehat, soleh ataupun salehah."
"Aamiin yaa Robb. Semoga para malaikat beserta penduduk langit ikut mengamini Yang, sehingga doa kita segera diijabah oleh-Nya."
"Heem, aamiin paling kenceng Mas."
Khanza merenggang pelukan lantas berkata, "Mas ... aku ingin mandi."
"Kita mandi bareng ya sayang."
"Heem ...." Khanza mengangguk pasrah, mengiyakan ucapan suaminya.
Rangga mengurai pelukan. Lalu beranjak dari ranjang. Ia raih tubuh sang istri tercinta lantas menggendongnya ala bridal style.
Khanza melengkungkan bibir dan mengalungkan tangan di leher pria tampan yang kini sangat dicintainya.
Di bathroom, Rangga memulai kembali ritual yang kini menjadi candu. Seolah, ia ingin terus menyesap madu kekasih halalnya.
Irama yang mengalun indah kembali terdengar. Bersamaan dengan derasnya air yang terpancar dari shower, membasahi tubuh keduanya.
Setelah hampir satu jam Rangga dan Khanza memadu kasih di bawah guyuran air shower, mereka keluar dari dalam kamar mandi dengan senyuman yang merekah. Wajah mereka terbingkai binar bahagia, meski tubuh serasa lelah ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
__ADS_1
Like, komen, beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat othor remahan kulit bawang 🥰
Trimakasih dan banyak cinta 😘😘😘