
Happy reading 😘😘😘
Seperti yang telah dinadzarkan oleh Annisa, dokter cantik itu menjadikan para malaikat tak bersayap yang telah menolongnya sebagai saudara. Mereka adalah Sherin, Lisa, Ina, dan Surti. Keempat wanita itu kini tinggal di pondok pesantren Al Hidayah. Dengan senang hati, mereka pun bersedia menjadi saudara angkat Annisa dan tinggal di pondok pesantren tersebut.
Seusai pulang dari pemakaman, Sherin menemui sahabat lamanya. Dia ... Raina. Istri putra sulung pasangan Abimana dan Kirana yang bernama Keanu Putra Abimanyu.
Setelah melepas rindu dengan saling berpeluk, Raina membawa sahabatnya ke kafe K & R untuk berbincang. Raina teramat penasaran dengan kisah hidup Sherin setelah keduanya berpisah. Tepatnya, usai kejadian yang merusak jalinan persahabatan mereka.
Ditemani kesegaran orange juice dan kerenyahan French fries, Sherin mulai menceritakan kisah hidupnya setelah berpisah dengan Raina ....
"Setelah kamu membebaskan aku dari penjara, aku kembali ke Indonesia, Rain. Kedua orang tuaku teramat syok ketika mengetahui putri yang dibanggakan oleh mereka ... hamil di luar nikah. Papa dan mama terkena penyakit jantung. Mereka menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Seolah, Tuhan belum cukup menghukumku dengan kepergian papa dan mama. Bayiku pun ikut menyusul --" suara Sherin tercekat, seolah rasa sesak di dalam dada menjalar hingga ke kerongkongan kala mengingat masa lalunya.
Raina menggenggam tangan Sherin seraya menguatkan sahabat lamanya itu. Ia sangat memahami apa yang tengah dirasakan oleh Sherin ketika mengingat masa lalu yang teramat pelik. Pasti tidak mudah bagi Sherin untuk menghadapi ujian yang menyapa seorang diri.
Steven, pria yang seharusnya bertanggung jawab karena telah menanam benih di rahim Sherin, memilih menghabisi nyawanya sendiri dengan cara menggantung diri di dalam sel tahanan. Sherin teramat berduka, karena rasa cintanya terhadap Steven melebihi rasa benci pada kekasihnya itu. Kedukaan masih setia menemani perjalanan hidup Sherin. Ia harus rela kehilangan kedua orang tua dan buah hatinya.
Sherin menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah merasa kembali tenang, ia pun melanjutkan cerita ....
"Karena stres yang berlebihan, aku mengalami preeklampsia yang menyebabkan bayiku meninggal sesaat setelah terlahir ke dunia ini --"
__ADS_1
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un. Semoga, kelak ... dedek bayi menjadi penolongmu di negeri akherat, Sher. Aku salut padamu. Kamu begitu tegar dan tabah menghadapi ujian hidup seorang diri. Yakinlah Sher, setelah ujian menyapa, insya Allah ...Tuhan Yang Maha Pengasih akan mengangkat derajadmu," tutur Raina sembari mengusap punggung tangan Sherin.
"Aamiin, Insya Allah Rain. Setelah berkali-kali menghadapi ujian yang hampir saja membuatku rapuh, aku dipertemukan dengan orang-orang baik. Salah satunya ... Laely. Dia menawariku bekerja sebagai MUA. Berbekal ilmu yang pernah aku peroleh ketika kuliah di LN, aku pun menerima tawaran wanita itu. Belum genap dua tahun bekerja sebagai seorang MUA, aku bertemu dengan nenek Dijah. Beliau memintaku untuk bekerja di villa yang dimiliki oleh tuan Farhan. Menggantikan posisi beliau sebagai kepala maid. Karena merasa kasihan ketika melihat tubuh renta nenek Dijah, aku pun menyanggupi permintaan beliau. Selama bekerja di villa itu, aku mengetahui sisi rapuh tuan Farhan. Ternyata tuan Farhan mengidap penyakit mental. Berulang kali, aku berusaha membujuknya untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater. Namun tuan Farhan enggan. Dia tidak ingin dianggap sebagai orang gila --"
Perbincangan kedua wanita itu pun terpangkas ketika Keanu dan Chayra datang menghampiri. Rupanya, mereka ingin mengajak Raina dan Sherin untuk makan malam bersama.
....
Seperti yang di amanahkan oleh Rudi, Annisa bersilaturahim ke rumah Herman dan Dewi. Ia ditemani oleh Ilham dan Dhava.
Setelah sejenak berbasa-basi, Annisa mengutarakan maksud dan tujuannya bersilaturahim ke rumah itu. Ia menceritakan semua tentang almarhum Rudi, tak terkecuali ... pesan yang disampaikan oleh pria itu sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Herman dan Dewi tak kuasa menahan air mata duka. Mereka teramat menyesal sebab telah menghukum Rudi tanpa memberi kesempatan untuk berbenah diri.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Pak, Bu! Semua yang terjadi pada Rudi sudah menjadi kehendak sang penulis skenario. Kita sebagai pemeran, hanya bisa menerima dan berlapang dada. Yang terpenting saat ini, menjalankan amanah almarhum Rudi. Almarhum menitipkan ketiga putrinya pada Annisa. Jika diperbolehkan, setelah ketiga putri almarhum berusia lima tahun, kami ingin membawa mereka ke pondok pesantren Al Hidayah dan membekali mereka dengan ilmu agama," tutur Ilham seraya menenangkan kedua orang tua angkat Rudi.
Herman dan Dewi menghembus nafas berat lantas mereka menyeka jejak air mata yang membingkai wajah.
Setelah sejenak berdiskusi, Herman dan Dewi berkenan mengabulkan permintaan almarhum anak angkat mereka.
Dengan suaranya yang terdengar serak karena menahan himpitan rasa sesak di dalam dada, Herman pun kembali melisankan kata-kata untuk membalas ucapan Ilham.
__ADS_1
"Kami sebagai orang tua angkat Rudi sama sekali tidak keberatan jika Mawar, Melati, dan Jingga dibawa ke pondok pesantren. Kami yakin, Ustadz Ilham dan Mbak Nisa ... insya Allah akan mampu mendidik ketiga cucu kami sehingga mereka akan tumbuh menjadi seorang wanita saleha seperti Mbak Nisa."
Annisa dan Ilham merasa lega setelah mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Herman.
Keduanya melangitkan pinta di dalam kalbu, semoga Illahi memberi keridhoan, supaya mereka mampu menjalankan semua amanah almarhum Rudi ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika episode kali ini kurang dapet feel nya, karena si othor sedang diberi kenikmatan, meriang 🤒🙏
Insya Allah, next episode kita bertemu lagi dengan Rangga & Khanza 😉
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤