
Happy reading 😘😘😘
Tanpa terasa, enam purnama telah terlewati. Tiba saatnya bayi kembar pasangan Dylan dan Dara terlahir ke dunia.
Dylan teramat gugup dan panik, saat menemani istrinya yang tengah merintih kesakitan di ruang bersalin. Di dalam benak, ia merutuki dirinya sendiri. Karena terlalu panik, Dylan membawa sang istri bukan ke rumah sakit ICPA, melainkan ke rumah sakit kecil yang berada tidak jauh dari rumah utama.
Sangat disayangkan, kinerja para medis di rumah sakit itu kurang memuaskan.
Tubuh Dara gemetar saat indra pendengarannya terusik oleh suara gaduh di sebelah disertai bau yang tidak sedap, sebab ruang bersalin di rumah sakit itu ditempati oleh beberapa pasien. Tiap ranjang hanya berpenyekat gorden berwarna putih.
Dara terus bersholawat dan menggenggam tangan Dylan dengan erat untuk menghalau rasa sakit yang kian mendera.
"Sa-sayang, abang panggilkan dokter ya?" Suara Dylan bergetar. Kentara sekali ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.
Dara menggeleng. "Jangan tinggalin aku, Bang!" ucap Dara dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Tapi Yang --"
"Urghhh ...." Dara kembali merintih dan menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit yang ia rasa semakin menjadi. Namun para medis yang akan membantu proses kelahiran bayi kembarnya masih saja disibukkan dengan pasien yang berada di sebelah.
Para medis panik, sebab tabung oksigen yang digunakan oleh pasien yang bersebelahan dengan Dara ... bocor. Bahkan, pasien yang bernama Intan itu mengalami kejang.
Derai tangis suami Intan tak terbendung. Tubuhnya lunglai saat menyaksikan istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan malah mengalami kejang.
Salah seorang perawat menghampiri Dylan. Ia meminta Dylan untuk membantu para medis, mengangkat tubuh Intan.
Dylan dilema. Ia tidak tega meninggalkan Dara yang tengah berjuang melawan rasa sakit seorang diri.
"Bang, jangan tinggalin aku! Sebentar lagi buah hati kita akan terlahir!" pinta Dara mengiba dan menatap lekat iris mata pria yang dicinta.
Dylan menghembus nafas berat. Ia pun memutuskan untuk menolak permintaan perawat itu.
"Maaf, istri saya sebentar lagi juga akan melahirkan, Sus. Alangkah baiknya jika rekan anda saja yang membantu --"
"Tapi, rekan saya juga tengah menangani pasien lain," sahut si perawat dengan memasang wajah sendu.
"Kalau begitu, minta keluarganya saja yang turut membantu. Saya tidak bisa meninggalkan istri saya seorang diri. Istri saya sebentar lagi juga akan melahirkan. Lebih baik, anda panggilkan dokter untuk istri saya. Jika tidak, saya terpaksa menghubungi bunda dan kakak saya. Mereka pasti bisa membantu. Karena keduanya bekerja sebagai dokter obgyn di rumah sakit ICPA," tutur Dylan dengan nada tegas dan terkesan mengancam.
"Tolong, jangan panggil kedua dokter itu,Tuan! Saya akan segera memanggil dokter setelah menangani pasien sebelah," pintanya seraya bernegosiasi.
"Memangnya, ada berapa dokter obgyn di rumah sakit ini?"
"Ada tiga Tuan. Tapi semuanya sedang menangani pasien."
Dylan menghembus nafas kasar. Ingin rasanya membawa Dara ... pindah ke rumah sakit ICPA. Namun itu tidak mungkin. Sebab jarak rumah sakit ICPA cukup jauh. Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke sana.
__ADS_1
Dylan menatap sendu wajah istrinya yang terbingkai peluh. Ia usap peluh itu dengan tisu. Sesekali ia mengucap kata maaf dan menyalahkan diri.
"Bang, urghhhh ...."
Dara kembali merintih saat merasakan dorongan dari dalam. Seolah si kembar sudah tidak sabar untuk keluar dan ingin segera bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Dylan semakin panik. Ia tidak tau harus berbuat apa untuk membantu istrinya.
"Suster, tolong istri saya! Please!"
Teriakan Dylan mengalihkan atensi para medis yang baru saja selesai menangani Intan. Mereka pun bergegas melakukan tindakan untuk membantu proses kelahiran si kembar.
"Bund, kancing bajunya dilepas semua ya!" titah salah seorang perawat yang bernama Maimunah.
Dara hanya bisa mengangguk pasrah. Padahal ia teramat malu, sebab salah satu para medis yang akan membantunya ... seorang pria. Namun Dara tidak mempunyai pilihan selain menuruti semua perintah atau instruksi yang dititahkan.
Dara semakin merasa malu, saat sarung yang dikenakan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya disingkap. Sehingga hampir seluruh tubuh Dara terekspose.
"Kenapa sarungnya disingkap, Sus?" protes Dylan.
"Jika tidak disingkap, bagaimana kami bisa membantu proses kelahiran bayi anda?" jawab Maimunah dengan entengnya.
"Bund, dengarkan instruksi saya ya!" titah Maimunah setelah mengenakan sarung tangan medis. Dara menanggapi ucapan perawat senior itu dengan anggukan lemah.
"Sekarang, mulai mengejan ya Bund, tarik nafas perlahan dan dorong!" Maimunah mulai memberikan instruksi.
"Urggghhhhhh ...." Dara berusaha mengejan. Wajahnya memerah dan mengernyit. Rasa sakit yang dirasakan terlampau hebat hingga tangannya semakin erat menggenggam tangan Dylan.
Dara melepas genggaman tangannya. Ia pun menuruti ucapan Dylan, menjambak rambut suaminya itu.
"Dorong lagi Bund, kepala si kecil sudah mulai nampak!" Maimunah kembali memberi instruksi.
"Urgggghhhhh ...."
"Atur nafas lagi dan dorong, anda pasti bisa Bund!"
"Argghhhhhh ...."
"Sekali lagi Bund, dorong!"
"Erghhhh ...."
"Arghhhhh ...."
Terdengar lengkingan tangis bayi memenuhi ruang bersalin. Setelah salah satu bayi kembarnya terlahir, Dara kembali berjuang melahirkan satu bayinya lagi.
Hampir sepuluh menit berjuang, Dara berhasil melahirkan bayinya yang kedua.
__ADS_1
"Oe ... oe ... oe ...." Terdengar suara tangisan kedua bayi. Netra Dylan dan Dara berkaca-kaca saat menatap wajah bayi kembar mereka.
"Alhamdulillah, trimakasih Ya Allah," ucap Dylan. Seketika ia duduk bersimpuh di lantai lalu melakukan sujud syukur.
Usai beranjak dari sujud, Dylan mencium kening Dara sebagai curahan rasa cinta dan ungkapan rasa terima kasih.
"Trimakasih Sayang. Kamu wanita yang teramat hebat. Berjuang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan kedua buah hati kita dalam keadaan sehat dan tak kurang suatu apapun. Aku mencintaimu Dara Larasati," bisik Dylan lantas mendaratkan kecupan di pipi istrinya itu.
"Iya Bang. Aku pun mencintaimu. Bahkan teramat sangat mencintaimu," balas Dara disertai seutas senyum yang membingkai wajah lelahnya.
Maimunah segera memotong tali pusar lalu membersihkan tubuh kedua bayi kembar, buah hati Dylan dan Dara.
Seperti Rangga dan Khanza, pasangan Dylan dan Dara pun dikarunia sepasang bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Selesai membersihkan kedua bayi, Maimunah dibantu oleh salah satu rekannya, mulai melakukan beberapa langkah pemeriksaan untuk memastikan kondisi kedua bayi kembar dalam keadaan sehat.
Setelah memastikan bahwa kedua bayi dalam keadaan sehat, Maimunah memerintahkan agar ayah si bayi mengumandangkan adzan dan iqomah.
Dylan mengusap kepala kedua buah hatinya lantas mengumandangkan adzan dan iqomah.
"Sayang, buah hati kita laki-laki dan perempuan," ucap Dylan dengan netra yang masih terbingkai embun.
"Alhamdulillah, trimakasih yaa Allah. Bang, Abang sudah menyiapkan nama 'kan untuk mereka?"
Dylan tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Belum Yang," sahutnya lirih.
"Astaghfirullah. Terus kita beri nama siapa kedua bayi kita, Bang?" Dara merengut. Kentara sekali bahwa ia tengah sebal bin kesal pada suaminya.
"Mmmm ... coba nanti Abang cari Ilham atau Wangsit dulu ya Sayang," jawabnya jauh dari kata serius.
Perbincangan sepasang suami istri itu terpangkas kala Maimunah menginterupsi dan meminta agar Dara melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini).
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Alhamdulillah si kembar buah hati pasangan Dylan dan Dara sudah terlahir. Adakah readers yang ingin menyumbangkan nama???? Cussss dech, langsung komen di bawah 😉
Mon maaf jika bertebaran typo
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Rate 5 ⭐
Tabok ❤ untuk fav karya
__ADS_1
Mumpung hari Senin, yukkkk semangati author dengan Vote 😗
Trimakasih dan lope lope sekebon salak 💗💗💗