Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Duka


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Langit di kota London pagi ini begitu cerah. Secerah raut wajah dua insan yang tengah berbahagia, Rangga dan Khanza. Saat ini keduanya sedang menikmati keindahan yang tersuguh di Taman Hyde dengan bersepeda. Taman Hyde atau Hyde Park merupakan salah satu taman terbesar yang berada di pusat kota London. Taman tersebut mempunyai luas sebesar 142 hektar.


Pepohonan yang menghijau, sebuah danau besar, padang rumput, serta berbagai bunga hias yang sangat indah tersaji di taman itu. Terlihat beberapa pengunjung yang tengah asik bersepeda, bermain sky board, dan berenang.


Setelah lelah bersepeda, Rangga dan Khanza beristirahat di restoran yang terletak di tepi danau. Mereka menikmati olahan fish and chips dan orange juice sambil berbincang.


Puas menikmati hidangan yang tersaji di restoran itu, Rangga membawa Khanza ke taman bunga. Keduanya duduk santai di bangku taman yang menghadap ke danau.


"Sayang, tunggu Mas di sini ya! Ada sesuatu yang ingin Mas beri untukmu," ujarnya sambil mengusap lembut pipi Khanza.


"Mas mau ke mana? Aku ikut ya?" pinta Khanza, memohon.


"Sayang di sini aja! Mas cuma sebentar kog."


"Tapi Mas, Khanza takut." Entah mengapa tiba-tiba firasat Khanza tidak enak. Ia merasa ada sosok yang selalu mengawasi mereka. Khanza berharap, firasatnya itu tidak benar.


"Baiklah jika sayang ingin ikut. Tapi ada syaratnya --" Rangga menggantung ucapannya dan mengerlingkan mata.


"Ishhh, kenapa cuma mau ikut aja harus ada syaratnya sich Mas?" protesnya dengan mencebikkan bibir dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Karena, Mas ingin memberimu kejutan, Khanza sayang."


Mendengar kata 'kejutan', netra Khanza seketika berbinar. "Kejutan?"


"Heem. Makanya, sayang harus menutup mata dengan kain terlebih dahulu, sebagai syarat jika ingin ikut Mas."


Setelah sejenak berpikir, Khanza mengiyakan syarat yang diberikan oleh suaminya. "Hmmm, baiklah Mas. Tapi aku digandeng lho! Jangan sampai dilepas. Aku takut diculik," ujarnya dengan suara yang terdengar manja.


Rangga tergelak lirih mendengar ucapan Khanza yang sangat menggelikan. Bagaimana bisa istri comelnya itu diculik, sedangkan ia berada di sisi.


"Mas, kog malah ketawa sich? Memangnya ada yang lucu?" sungut Khanza, memasang raut wajah cemberut.

__ADS_1


"Nggak ada, cuma pingin ketawa aja, Yang. Aku tutup mata sayang sekarang ya?"


"Iya Mas."


Rangga mengambil syal dari dalam tas Khanza untuk menutup mata istri comelnya itu sebelum mereka mengayunkan kaki. Kemudian ia menggenggam erat tangan Khanza yang menjuntai.


"Nah sekarang, ikuti Mas terus ya! Jangan sampai genggaman tangan kita terlepas!" titahnya.


"Iya Mas."


Tanpa keduanya sadari, seseorang tengah mengawasi mereka. Seorang pria bertopi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


Rangga tidak merasa curiga saat pria itu berjalan mendekat. Dalam sekejap mata, pria itu memepet dan mengeluarkan sebilah pisau lalu menusuk perut Rangga berkali-kali.


Jlebbb Jlebbbb


"Arggghhhhhh." Teriakan Rangga mengejutkan Khanza. Gegas ia membuka penutup matanya.


"Masssss."


Jleb


Pelaku penusukan itu berlari sekuat tenaga. Lantas menggeber kuda besinya dan segera meninggalkan tempat kejadian.


"Masssss Rangga!" Khanza menopang tubuh Rangga yang hampir rubuh.


"Mas, Mas Ranggaaaa." Teriakan Khanza terdengar semakin keras saat tangannya meraba perut yang sudah bermandikan darah segar.


"Mas, bertahanlah. Aku mohon!"


Khanza mencari sumber pendarahan. Ia tidak berani mengambil pisau yang masih menancap di perut suaminya sebab takut jika malah berakibat fatal.


Dengan tangan gemetar, Khanza menyobek baju yang dikenakan oleh suaminya untuk membebat luka yang terus saja mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Khanza mengambil gawainya lalu menyalakan senter untuk menyorot netra Rangga. Ia berharap, Rangga merespon rangsangan yang dilakukannya. Khanza menekan-nekan tubuh Rangga dan mencubitnya dengan sangat kuat. Namun semua usaha yang dilakukannya tetap tidak mendapatkan respon. Rangga tak sadarkan diri.


"Tolong, tolong kami!" Khanza berteriak meminta pertolongan di sisa-sisa ketegaran menghadapi suaminya yang kini tengah terbaring tak berdaya dengan bersimbah darah. Meski teramat syok, Khanza berusaha untuk tetap kuat. Ia sungguh tidak ingin kehilangan sosok yang teramat dicintainya.


"Nona, maaf saya lengah," ucap Johan penuh penyesalan. Pria paruh baya itu bersimpuh di hadapan nonanya. Ia sangat menyesal sebab ia lengah menjaga menantu tuannya.


"Pa-paman Jo?"


"Iya Nona. Saya akan menghubungi ambulan agar tuan muda Rangga segera mendapat pertolongan."


"Trimakasih Paman," lirih Khanza.


Johan membalas ucapan Khanza dengan anggukan lalu segera menghubungi ambulan.


Khanza tak kuasa menahan bulir-bulir bening yang jatuh dari kedua sudut netranya. Tangannya semakin gemetar saat usaha yang ia lakukan untuk membebat perut Rangga yang terus saja mengeluarkan darah tidak berhasil.


"Paman, tolong carikan handuk atau apa saja untuk membebat perut suami saya!" pinta Khanza, frustasi.


"Ba-baik Nona." Johan segera menuruti permintaan nonanya. Ia meminta handuk atau kain apa saja dari semua pengunjung yang berdiri mengerubungi mereka. Para pengunjung itu dengan suka rela memberikan handuk kecil dan kain pada Johan. Mereka teramat empati. Bahkan beberapa wanita ikut menitikan air mata.


Tanpa menunggu waktu lama, mobil ambulan tiba di tempat kejadian. Para medis memeriksa kondisi Rangga sebelum memasukannya ke dalam mobil ambulan.


Tangis Khanza pecah. Ketegarannya runtuh saat menyaksikan para medis membawa tubuh suaminya dan memberitahu bahwa harapan Rangga untuk selamat sangat tipis ....


Entah apa yang akan terjadi pada Rangga? Langit yang semula cerah, kini berubah muram. Seolah ikut merasakan duka ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏


Like, komen, beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat othor remahan kulit bawang 🥰

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta 😘😘😘


__ADS_2