
Happy reading 😘😘😘
"Lan, pasti dugaanku benar 'kan? Kamu menerima perjodohan kita karena putus asa. Di lubuk hatimu yang terdalam ... kamu masih mengharapkan Milea. Lebih baik, kamu jernihkan pikiranmu terlebih dahulu. Obati hatimu dengan dzikir dan membaca lantunan kalam cinta. Jangan terburu-buru mengambil suatu keputusan yang kelak mungkin akan membuatmu menyesal sebelum meminta petunjuk-Nya dengan menjalankan shalat istikharah ...."
Hening
Tiada sahutan dari Dylan. Di dalam lubuk hatinya, ia membenarkan semua kata-kata yang terucap dari bibir Dara. Memang benar, Dylan ingin menerima perjodohannya dengan Dara, sebab ia telah berputus asa. Kisah cinta yang selama ini diimpikannya akan terangkai indah bersama Milea, kini telah pupus karena wanita itu memilih Jordan sebagai pendamping hidup.
JEGLER
Suara guntur bersahut-sahutan memekakkan telinga. Menyadarkan jiwa yang semula larut dalam lamunan.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Dylan menarik tangan Dara lalu membawa gadis itu menuju ke mobil.
"Lan, sepertinya akan ada hujan badai," ujar Dara memecah keheningan.
"Jangan ngomong seperti itu, kalau hujan badai beneran ... malam ini kita nggak bisa pulang lho," sahutnya sembari tetap fokus memainkan stir mobil.
"Iya sich. Semoga kata-kata yang barusan aku ucapkan nggak terjadi."
"Aamiin."
"Lan ...."
"Hemmm ...."
"Udah menghubungi ayah dan bundamu belum? Takutnya, mereka ... khawatir."
"Belum, Ra. Nich, kamu aja yang menghubungi ayah dan bunda!" titah Dylan sambil melempar benda pipih kesayangannya ke pangkuan Dara.
Dara menyungging seutas senyum lalu segera menggeser layar benda pipih yang telah berpindah di tangannya.
Terlihat raut kecewa di wajah Dara saat ia gagal menghubungi kedua orang tua Dylan sebab sama sekali tidak ada sinyal.
"Lan, nggak ada sinyal. Gimana donk?"
"Masa sich?"
"Beneran, Lan."
__ADS_1
"Duhhh gimana ya? Pasti ayah dan bunda akan berpikiran macam-macam tentang kita," ujar Dylan khawatir.
Dylan menghentikan laju mobilnya saat ia melihat kemacetan di depan. Nampak beberapa mobil dan sepeda motor berhenti, bahkan ada juga yang berbalik arah. Setelah menurunkan kaca mobil, Dylan lantas bertanya kepada salah seorang pengendara sepeda motor mengenai penyebab kemacetan.
Dylan dan Dara menghembus nafas kasar kala mereka mengetahui penyebab kemacetan. Ternyata terjadi tanah longsor, sehingga akses jalan menuju kota tertutup. Mau tidak mau, mereka harus bermalam di tempat itu.
"Lan, bagaimana ini? Masa kita bermalam di dalam mobil."
"Ya gimana lagi, Ra. Akses jalannya aja tertutup."
"Nggak ada alternatif jalan lain 'kah?"
Dylan menggeleng samar. "Nggak ada, Ra."
"Duh, gimana donk?"
"Mmmm ... bagaimana kalau kita menginap di rumah salah satu warga? Paginya, kita lanjutkan lagi perjalanan," usul Dylan ... sukses menghapus kekhawatiran yang terlukis jelas di wajah Dara.
"Idemu nggak terlalu buruk, Lan. Cusss dech, kita cari rumah warga yang berada tidak jauh dari tempat ini," sahutnya menyetujui usul Dylan.
....
"Assalamu'alaikum." Dylan mengetuk pintu dan mengucap salam. Namun sayang, tidak ada sahutan.
Dylan tidak berputus asa. Setelah tiga kali mengucap salam, terdengar sahutan dari dalam rumah disertai pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam. Maaf, ananda siapa?" tanya yang terlisan dari tuan rumah.
"Saya Dylan dan gadis yang bersama saya ini ... Dara, Pak. Sebelumnya kami memohon maaf karena telah mengganggu istirahat Bapak," tutur Dylan sopan.
"Ahhh, tidak apa-apa, Nak. Oya, perkenalkan nama bapak ... Hadi. Dan istri bapak bernama Sari. Sebenarnya, ada perlu apa ananda berdua datang ke gubug kami?"
"Sebenarnya kami bermaksud meminta ijin untuk bermalam di rumah Bapak. Akses jalan menuju kota terjebak longsor. Sehingga malam ini kami tidak bisa pulang ke rumah, Pak."
Hadi manggut-manggut sambil mengusap jenggotnya yang tidak terlalu panjang.
Setelah sejenak berpikir, Hadi mempersilahkan Dylan dan Dara untuk masuk ke dalam rumah serta mengijinkan mereka bermalam di gubugnya.
Sebelum mengantar kedua tamunya ke kamar, Hadi memperkenalkan Dylan dan Dara kepada istrinya, Sari.
__ADS_1
Sari teramat senang sebab rumah mereka kedatangan tamu tak diundang. Ketika melihat wajah Dara, Sari teringat almarhumah putrinya yang baru satu tahun meninggal. Putri Sari yang bernama Nilam meninggal karena terjatuh ke jurang saat melarikan diri dari kejaran seorang pemuda yang ingin merenggut kehormatannya. Kematian putrinya yang tragis, merubah sifat Sari yang semula supel dan ceria, menjadi seorang wanita yang tidak banyak bicara dan sering melamun. Bahkan, terkadang ia menangis tanpa sebab. Dengan penuh kesabaran, Hadi selalu berusaha menguatkan dan menghibur istrinya. Meski pada kenyataannya, jiwa Hadi pun rapuh. Ia menumpahkan duka dan kesedihannya pada Robbi di saat banyak pasang mata terpejam dan terbuai mimpi.
"Nak, bolehkah ibu memelukmu?" tanya yang terlisan seusai Sari menceritakan kisah Nilam kepada Dylan dan Dara.
Dara mengangguk dan mengulas senyum. Ia mengijinkan Sari untuk memeluk tubuhnya.
Dylan dan Hadi merasakan keharuan saat kedua wanita berbeda generasi itu saling berpeluk diiringi buliran bening yang membingkai wajah.
"Nilam, anakku." Sari menangis tergugu. Wanita paruh baya itu semakin memeluk erat tubuh Dara, seolah ia memeluk tubuh Nilam, putrinya yang telah tiada.
Dara ikut merasakan duka wanita paruh baya yang tengah memeluknya itu. Ia usap punggung Sari dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan.
Setelah tangis Sari mereda, Dara merenggang pelukan. Ia tatap wajah yang dibasahi oleh air mata duka lalu menyekanya dengan jemari tangan.
"Bu, yang sabar dan ikhlas. Insya Allah, putri Ibu sudah berada di tempat yang terindah. Dara bersedia menggantikan putri Ibu, meski sebenarnya tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran almarhumah mbak Nilam. Berjanjilah pada Dara, jangan ada lagi air mata duka," tutur Dara tulus.
Seutas senyum terbit menghiasi wajah Sari kala mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Dara. Ucapan gadis itu bagaikan oase di tengah gersangnya hidup. Menyejukkan jiwa bagai embun yang menetes di pagi buta.
"Trimakasih Nak. Trimakasih. Ibu berjanji tidak akan ada lagi air mata duka."
Kedua wanita itu kembali berpeluk menumpahkan kebahagiaan yang tengah tercipta.
Hati Dylan menghangat tatkala menyaksikan adegan yang tersuguh di hadapannya. Ia teramat kagum pada Dara, sahabat yang ia buang hanya demi mengejar cinta Milea, wanita yang sama sekali tidak pantas ia cintai.
Di dalam benaknya Dylan berjanji, akan menghempas perasaan cintanya terhadap Milea, dan membuka hati untuk gadis pilihan kedua orang tuanya, Dara Larasati.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf, baru part Dylan - Dara. Yang kangen sama ke uwwuan Rangga - Khanza harap bersabar 😅
Maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤