
Happy reading 😘😘😘
"Kamu dan anak buahmu bisa menjalankan rencana itu esok pagi. Pastikan, tidak ada yang mengetahuinya. Terutama abah dan ummi. Aku tidak ingin, abah dan ummi mengetahui bahwa putra yang mereka banggakan ini ... ternyata memiliki otak yang sangat cerdas untuk menjadikan Annisa sebagai menantu mereka," ujarnya penuh percaya diri.
Apapun yang direncanakan oleh Farhan, yakinlah bahwa Illahi Robbi akan mengirim para malaikat-Nya untuk melindungi seorang hamba yang selalu menjaga iman dan senantiasa menjaga kesucian ....
....
Farhan kecil sangat manis dan pendiam. Ia selalu menuruti perintah abah dan umminya tanpa pernah membantah, meski hati kecilnya seringkali memberontak sebab sang abah terlalu keras dalam mendidik.
Farhan kecil dituntut untuk menjadi seorang pribadi yang mendekati kata sempurna dan dapat dibanggakan. Namun sayang, cara Abdullah membentuk pribadi putranya ... salah. Ia menekan putranya tanpa pernah memberi kesempatan Farhan untuk berkeluh kesah.
Setiap Farhan melakukan suatu kesalahan, Abdullah menghukumnya dengan cara mengurung putra semata wayangnya itu di gudang. Terkadang, ia juga mencambuk tubuh kecil Farhan. Tanpa Abdullah sadari, hukuman yang diberikannya kepada Farhan, bukan hanya menyakiti raga, tetapi menyakiti jiwa sang putra.
Sejak kecil hingga remaja, Farhan berusaha menyenangkan hati abahnya dengan menjadi pribadi yang bisa dibanggakan. Ia tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun, agar terhindar dari hukuman.
Farhan merengkuh kebebasan ketika ia kuliah di LN. Ia bagaikan binatang peliharaan yang dilepas oleh tuannya. Sehingga ia pun dapat leluasa melampiaskan segala apa yang selama ini dirasa.
Beban dan tekanan sang abah, menjadikan seorang Farhan berkepribadian ganda. Tanpa siapapun tahu, Farhan menderita penyakit mental. Lantas, siapa yang patut dipersalahkan??? Tidak ada yang patut dipersalahkan. Hanya saja, sebagai orang tua ... Abdullah hendaknya berbenah diri dan menjadi seorang abah yang bijaksana.
Orang tua sering kali mengatakan bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik. Namun terkadang mereka lupa apakah kebaikan itu dinikmati oleh sang buah hati atau malah membuat jiwa mereka tertekan
....
__ADS_1
Semenjak Dara mengandung, Dylan sangat peka dengan bau-bauan dan teramat menyukai makanan atau minuman yang rasanya masam. Sikapnya pun berubah. Dylan selalu ingin dimanja oleh Dara.
Di awal usia kehamilan, Dara tidak pernah mengalami morning sickness. Namun tergantikan oleh Dylan. Pria yang berstatus sebagai suami Dara itu mengalami morning sickness setiap pagi. Beruntung, usia kehamilan Dara kini sudah menginjak trimester kedua. Sehingga, Dylan sudah tidak tersiksa lagi dengan ritualnya setiap pagi, memuntahkan isi perut hingga badannya lemas.
Seusai subuh, Dylan membawa istrinya ke Sunmor UGM, sebuah pasar dadakan yang berada di wilayah Universitas Gadjah Mada, tepatnya disekitar lembah UGM.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Dylan dan Dara tiba di Sunmor UGM. Sebelum membaur dengan para pengunjung yang lain, Dylan terlebih dahulu menitipkan sepeda motor kesayangannya di tempat parkir.
Karena lokasi Sunmor UGM sangat ramai dan akses untuk keluar masuk mobil sangat susah, Dylan memilih mengendarai sepeda motor dari pada mengendarai mobil.
Selama menikmati suasana di Sunmor, Dylan selalu menggengam tangan Dara tanpa mau melepaskan. Dylan teramat khawatir jika ia terpisah dengan Dara di tempat keramaian itu.
Saat tengah asik menikmati es kepal millo, atensi Dara dan Dylan tertuju pada seorang gadis penjual bunga yang sedang duduk sambil menangis tersedu. Sesekali gadis itu menyeka buliran bening yang membasahi wajahnya sambil mengusap foto seseorang.
Seketika, Dara merasa empati pada gadis itu, meski ia belum mengetahui alasan si gadis menangis.
"Dek, siapa namamu?" Dara melisankan tanya setelah mendaratkan bobot tubuhnya, bersebelahan dengan si gadis.
Perlahan, gadis itu menengadahkan wajah. Lantas ia seka jejak air mata sebelum menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Dara.
"Na-nama saya Reni, Kak .... Si-siapa nama kakak?"
"Nama kakak ... Dara. Salam kenal, Reni." Dara menerbitkan senyum dan mengulurkan tangannya.
Tanpa ragu, Reni membalas uluran tangan Dara disertai seutas senyum yang sedikit dipaksakan.
__ADS_1
"Maaf, kalau boleh kak Dara tau ... apa yang menyebabkan kamu menangis, Ren?" Dara kembali melisankan tanya dan menatap manik mata Reni yang masih terbingkai embun.
"Sa-saya. Maaf, saya tidak bisa mengatakannya Kak," jawabnya ragu.
Dara kembali menerbitkan senyum dan meraih tangan Reni untuk digenggamnya. Tanpa mengalihkan tatapan, ia pun berucap dengan suaranya yang terdengar lembut, "... sepelik apapun masalah yang sedang kamu hadapi, jangan menjadikan dirimu lemah. Langitkan pinta pada Illahi, agar Dia senantiasa memberi petunjuk dan kekuatan."
Reni mengangguk pelan. Air matanya kembali tertumpah kala mendengar ucapan Dara yang sangat menyentuh. Seketika ia teringat pesan sang bunda sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Refleks, Dara mengulurkan tangan untuk merengkuh tubuh gadis malang itu dan membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya punggung Reni dengan gerakan naik turun seraya mentransfer energi positif agar gadis itu merasakan ketenangan.
Setelah tangis Reni mereda, Dara merenggang pelukan. Ia seka buliran bening yang membasahi wajah Reni dengan jemari tangan.
"Ren, jika kamu membutuhkan bahu untuk bersandar ... maka bersandarlah di bahu kak Dara. Meski kita baru saja berkenalan, kak Dara siap untuk menjadi sandaran dan tempatmu untuk berkeluh kesah. Anggaplah, kak Dara sebagai kakakmu sendiri."
Ucapan Dara bagaikan oase di tengah padang gersang. Laksana embun yang mampu membasuh lara sukma ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤