Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Permintaan Maaf


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Abimana mengulas senyum. Ia pun membisikkan kata-kata di telinga istri comelnya yang tak lagi muda itu. "Ayah merindukan Bunda. Ayah ingin melepas kerinduan ini dengan menyatukan raga kita ...."


Kirana tersipu malu. Terbayang olehnya penyatuan raga bernilai ibadah. Meski keduanya tak lagi muda. Namun rasa cinta yang mereka miliki tidak pernah terkikis oleh waktu, malah semakin besar .....


....


Arunika kembali hadir berkawan embun pagi. Langit tampak cerah tanpa awan hitam yang bergelayut manja.


Pagi-pagi sekali Albirru mendatangi hotel tempat Abimana menginap. Ia berniat untuk meminta maaf sebab tidak bisa ikut serta membantu Abimana menangkap dalang penusukan Rangga sesuai yang dijanjikannya. Pria berlensa hijau itu merasa tidak enak hati karena tanpa sengaja telah melanggar janji.


Abimana menyambut kedatangan Albirru di lobby hotel. Mereka berbincang ditemani dua cangkir kopi hangat dan camilan berupa french fries.


"Maaf, Om. Kemarin saya tidak bisa ikut serta menangkap dalang penusukan Rangga. Putri saya tiba-tiba demam dan harus segera dibawa ke rumah sakit," tutur Albirru memulai perbincangan mereka.


"Tidak apa-apa Nak Birru. Yang terpenting saat ini, dalang penusukan Rangga sudah menerima hukumannya. Clarisa meninggal dengan cara yang sangat tragis. Dia terjatuh di kolam buaya dari lantai tiga rumahnya. Sungguh, Om tidak sanggup menyaksikan akhir hidup seorang Clarisa yang sangat mengerikan." Abimana menghela nafas dalam, menghalau bayangan kematian Clarisa yang sangat tragis.


Albirru bergidik ngeri mendengar penuturan Abimana mengenai kematian Clarisa. Ia tidak menyangka, Clarisa menerima hukuman yang sangat mengerikan dari sang penulis skenario kehidupan.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...," lirih Albirru.


"Lalu, bagaimana dengan Douglass, Om?"

__ADS_1


"Douglass sudah kami serahkan pada pihak yang berwajib. Om harap, Douglass menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Karena bisnis gelap yang dijalankannya bersama Clarisa, banyak para gadis yang bernasib malang. Masa depan mereka hancur dan kebahagiaan mereka terenggut."


"Birru juga berharap demikian, Om. Douglass memang sudah sepatutnya menerima hukuman yang setimpal. Mendekam di penjara seumur hidup. Mengenai para gadis yang telah dihancurkan masa depannya oleh Clarisa dan Douglass, Birru berkeinginan untuk membantu mereka Om. Memberikan para gadis itu tempat tinggal yang layak dan modal usaha agar mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan uang yang halal," tutur Albirru dengan tulus.


Seulas senyum terbit menghiasi wajah Abimana tatkala mendengar kata-kata yang dilisankan oleh Albirru.


"Om bangga padamu Nak Birru. Om akan mendukung apa yang menjadi keinginanmu itu. Tapi, sebelum memberikan modal usaha, lebih baik bekali mereka terlebih dahulu dengan ilmu. Tanyakan kepada mereka, bisnis apa yang ingin dijalankan. Kenalkan kepada mereka strategi marketing agar usaha yang dijalankan tidak berhenti di tengah jalan," sahutnya seraya memberi masukan.


"Trimakasih atas masukannya Om. Lalu, di mana saya bisa menemui para gadis itu, Om?"


"Om akan menghubungi Johan untuk mengantarkanmu ke rumah Sammy, Alvin, dan Jeffry. Karena untuk sementara waktu, mereka tinggal di rumah mantan anak buah Clarisa yang kini sudah insyaf berkat siraman rohani dari kakak ipar Om, ustadz Ilham."


"Jadi, ketiga mantan anak buah Clarisa mempunyai rumah di Inggris?"


"Iya Birru. Mereka bertiga mempunyai rumah di Inggris, tepatnya di kota London. Ketiganya memang berasal dari Inggris. Namun setelah menjadi anak buah Clarisa, mereka sering berkunjung ke Indonesia untuk menjalankan tugas dari wanita itu dan Douglass," tuturnya.


"Alhamdulillah, demamnya sudah turun Om."


"Alhamdulillah. Om ikut lega mendengarnya. Jika anak sakit, orang tua pasti akan sangat khawatir. Om jadi teringat ketika Khanza kecil dulu. Setiap sakit demam, anak itu selalu ingin tidur dipeluk Om. Tidak mau sama bunda atau omanya. Benar apa yang telah dikatakan oleh banyak orang, anak gadis biasanya malah lebih dekat dengan ayah dibanding dengan bundanya," ujar Abimana. Ia terkekeh kala teringat masa kecil Khanza.


"Pasti sewaktu kecil, Khanza sangat comel ya Om?"


"Iya, Khanza memang sangat comel. Kecomelannya itu sama persis dengan bundanya. Bahkan, wajah mereka juga hampir sama. Sebelas dua belas jika disandingkan."

__ADS_1


Perbincangan kedua pria itu terpangkas karena kedatangan Kirana. Wanita cantik yang tak lagi muda itu menyapa Albirru sebelum mendaratkan bobot tubuhnya di sofa.


"Yah, bunda ingin bicara," ucap Kirana setelah memposisikan duduknya dengan nyaman.


"Bunda ingin bicara mengenai apa, hmmm?"


"Mengenai Fairuz dan Nabila. Fairuz ingin sekali menemui mantan istrinya untuk meminta maaf. Tapi, bunda tidak yakin ... Nabila bersedia menemui mantan suaminya itu, Yah."


"Tidak ada salahnya jika kita membantu Fairuz untuk menemui Nabila, Bund. Siapa tau, jika mereka sudah bertemu ... keduanya bisa saling bicara dari hati ke hati."


"Iya juga sich Yah. Bunda juga berharap seperti itu."


Setelah hampir satu jam berbincang dengan kedua orang tua Khanza, Albirru mohon diri. Ia ingin segera pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Rangga dan Khanza. Pria berlensa hijau itu berniat mencoba metode yang disarankan oleh Zahra untuk membangunkan Rangga.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika bertebaran typo ☺


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2