
Happy reading 😘😘😘
Kaki dipaksanya berpijak meski tubuh serasa lunglai. Setelah dua hari menunggu, Khanza harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Rangga koma. Meski tidak ada komplikasi pasca operasi, hal tak terduga dan tak terprediksi dialami oleh Rangga.
Pria yang kini terbaring tak berdaya itu mengalami syok hipovelemik sehingga menyebabkan jantung tidak bisa memompa darah secara maksimal. Kondisi yang terjadi pada Rangga saat ini menyebabkan ia mengalami hipoksia sehingga berakibat otak kekurangan suplai oksigen. Keadaan otak yang seperti ini menyebabkan pria yang berstatus sebagai suami Khanza itu berada dalam kondisi vegetatif persisten atau koma .....
Mengetahui kondisi putranya yang demikian, Nabila berulang kali pingsan. Wanita paruh baya itu teramat syok.
Kirana berusaha untuk tetap tegar menghadapi ujian dari Illahi yang menimpa keluarganya. Ia harus menjadi penguat putri dan besannya. Ia tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya sebagai seorang wanita yang mudah sekali rapuh.
Kondisi Rangga tidak lagi kritis sehingga ia dipindahkan ke ruang perawatan. Meskipun dokter sudah melepas ventilator atau alat bantu pernafasan, tetapi peralatan medis lainnya masih menempel di tubuh pria yang terbaring lemah itu.
"Mas, bangunlah! Ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan. A-aku hamil Mas. Aku mengandung buah cinta kita." Khanza membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Rangga dengan suaranya yang terdengar bergetar. Jari lentiknya membelai surai hitam sang suami yang masih setia memejamkan netra.
Khanza menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. Ia tidak ingin, Rangga mendengar tangisannya. Khanza ingat, suaminya itu tidak akan membiarkannya menangis.
Jiwa yang rapuh dipaksanya untuk tetap tegar. Khanza yakin, Rangga akan bangun dari komanya meski entah kapan.
Di setiap malam Khanza melangitkan pinta seraya merayu pada-Nya. Agar Illahi memberi kesempatan kepada Rangga untuk hidup.
"Yaa Allah, Yaa Robb, hamba berpasrah, hamba berserah. Hamba memohon kepadamu, bangunkanlah kembali mas Rangga dari tidurnya. Jangan ambil dia dari hidup hamba. Yaa Allah, hamba rela menukar nyawa demi kesembuhannya ...."
Seusai melangitkan pinta, Khanza membaca kalam cinta. Ia berharap, Rangga bisa mendengar suaranya.
Di sela-sela bacaannya, Khanza terisak kala teringat ia dan Rangga membaca kalam cinta bersama. Khanza merindukan suara merdu suaminya yang mampu meruntuhkan dinding hati yang semula beku.
"Mas, bangunlah Mas. Aku rindu suaramu. Aku rindu senyummu. Aku rindu semua yang ada padamu."
__ADS_1
Kepala yang terasa berat direbahkannya di dada bidang sang suami hingga ia terpejam.
Abimana dan Kirana merasa teramat sedih melihat keadaan putrinya dan sang menantu. Berulang kali mereka merayu Khanza agar beristirahat di hotel. Namun wanita malang itu selalu menolak. Ia bersikeras ingin selalu berada di samping Rangga. Bahkan, Khanza meminta kepada pihak rumah sakit agar menyediakan kasur untuknya.
....
Langit di pagi ini terlihat muram. Sang mentari enggan menampakkan senyumnya karena mendung hitam bergelayut manja. Bahkan tangisan penduduk langit mulai tertumpah.
Albirru bergegas datang ke rumah sakit setelah mengetahui keadaan Rangga dari Keanu. Ia menemui Abimana untuk membicarakan pelaku penusukan dan berniat membantu menemukan dalangnya.
Birru tidak tega melihat keadaan wanita yang pernah menjadikannya raja di hati. Ulu hatinya terasa nyeri ketika tetesan buliran bening membingkai wajah ayu Khanza.
"Za, bolehkah aku masuk?" tanya yang terlisan seusai mengucap salam.
"Boleh Kak. Silahkan masuk!" Khanza menyeka jejak air mata dan mempersilahkan pria blonde itu untuk masuk.
"Iya Kak, trimakasih. Khanza yakin, mas Rangga akan segera membuka mata demi aku dan buah cinta kami," balasnya disertai lengkungan bibir. Khanza mengulas senyum meski di dalam benak tak henti-hentinya menangisi Rangga.
DEG
Ulu hati Birru semakin terasa nyeri saat mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Khanza.
"Kamu hamil, Za?"
Khanza mengangguk samar tanpa memudar senyum. "Iya Kak. Aku hamil. Aku mengandung buah cinta kami."
Hening
__ADS_1
Birru berusaha menutupi perasaannya dengan seutas senyum yang membingkai wajah. Dengan kebesaran hati ia pun berucap, "selamat ya Za. Gadis comel yang menggemaskan kini sudah menjadi calon ibu."
"Trimakasih Kak."
Birru membalas ucapan Khanza dengan anggukkan kepala.
"Za, lebih baik ... beristirahatlah di rumah kami! Aku yang akan menggantikanmu berjaga," pinta Birru. Ia tatap netra yang basah dengan intens. Besar keinginannya untuk menyeka air mata duka dengan jemari tangan dan meraih tubuh Khanza ke dalam dekapan. Namun Birru sadar, itu tidak mungkin. Mereka bukan mahram.
"Kak, aku tidak bisa meninggalkan mas Rangga meski sedetikpun. Aku ingin selalu berada di sisinya, menanti hingga suamiku kembali membuka mata."
"Tapi Za, kamu butuh istirahat yang cukup. Kasihan malaikat kecil yang ada di rahimmu jika bundanya kelelahan."
"Khanza sama sekali tidak merasa kelelahan Kak. Lagian, Khanza tidak bisa beristirahat dengan tenang jika berada jauh dari mas Rangga."
CEKLEK
"Assalamu'alaikum."
Perbincangan mereka terpangkas saat terdengar suara pintu terbuka diikuti ucapan salam ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Like, komen, beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat othor remahan kulit bawang 🥰
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘😘