Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Unboxing???


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah bergantian memberi selamat kepada sepasang pengantin, para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah tersedia di atas meja saji sembari mendengarkan lagu yang dilantunkan oleh Rangga dan Khanza. Sepertiga Malam (lagu Qhutbus Sakha).


....


Selepas waktu isya', Ilham mengadakan tasyakuran sebagai wujud rasa syukur atas kasih sayang Illahi yang telah memberi keridhoan kepada Annisa dan Dhava untuk mengikrarkan janji suci.


Acara tasyakuran tersebut bertempat di Masjid Al Mizan. Masjid dua lantai yang berada di area pondok pesantren Al Hidayah.


Sebelum menginjak acara penutup, Ilham meminta para santrinya yang sudah tidak memiliki ayah atau ibu (yatim, piatu) untuk menerima santunan berupa sejumlah uang dan bingkisan berisi perlengkapan ibadah. Tak lupa, Ilham memberi wejangan kepada para santrinya itu untuk selalu rajin beribadah dan menuntut ilmu agar kelak menjadi pribadi yang saleh dan saleha serta memiliki pemikiran yang cerdas. Selain itu, Ilham juga mengingatkan agar para santrinya selalu melangitkan pinta kepada Illahi teruntuk ayah atau bunda mereka yang telah tiada. Sebab, doa anak yang saleh dan saleha merupakan amal jariyah bagi kedua orang tua.


Setelah acara tasyakuran usai dan para tamu berpamitan, Ilham meminta Annisa untuk membawa Dhava masuk ke dalam kamar agar bisa beristirahat.


Annisa mengangguk patuh. Lantas ia menuruti perintah abinya.


Perlahan, Annisa membuka daun pintu kamarnya dan mempersilahkan sang suami untuk masuk ke dalam.


"Mas Dhava pasti sudah sangat lelah. Lebih baik, Mas Dhava membersihkan badan lalu segeralah beristirahat," tutur Annisa dengan menerbitkan senyum.


"Meski lelah, Mas Dhava tidak ingin melewatkan moment romantis di malam pertama. Mas Dhava ingin meminta hak sebagai seorang suami. Nabilla Annisa Chairanie, bersediakah melayani suamimu malam ini?" Dhava mengangkat dagu Annisa dan menatap lekat manik mata kekasih halalnya itu dengan tatapan yang menyiratkan makna.


Jantung Annisa berdentum-dentum kala mendengar kalimat tanya yang terlisan dari bibir Dhava. Lidahnya serasa kelu. Sungguh ia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata meski sekedar mengucap 'iya'.


"Humaira --"


Ucapan Dhava sukses membuat jantung Annisa semakin berdentum-dentum. Sebab, panggilan sayang yang diucapkan oleh Dhava sangat sweet. Sama seperti panggilan sayang Baginda Nabi kepada istri tercinta, Aisyah.


"Humaira, bersediakah?" Dhava kembali melisankan tanya.


"M-mas Dhava, bagaimana jika kita unboxing kado dan membuka amplop pemberian kak Vayyet terlebih dahulu? Bukankah, tadi kak Vayyet berkata bahwa amplop itu spesial?" Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Dhava. Annisa malah mengalihkan pembicaraan.


Dhava menarik kedua sudut bibirnya. Ia sangat faham jika istrinya mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa gugup.


"Baiklah Humaira. Kita unboxing kado dan membuka amplop pemberian kak Vayyet terlebih dahulu. Siapa tau, amplopnya berisi tisu ajaib."


Annisa menautkan kedua pangkal alis. Seolah ia tidak mengerti yang dimaksud dengan 'tisu ajaib'.


"Tisu ajaib?"


"Hhehem."

__ADS_1


"Maksudnya, apa Mas? Apa mungkin, tisu itu bisa terbang? Atau, tisu itu bisa digunakan untuk mempercantik wajah?" tanya Annisa polos.


Dhava tergelak lirih. Ia tidak menyangka, meski Annisa lebih dewasa darinya, ternyata istrinya itu masih teramat polos. Atau mungkin, Annisa hanya berpura-pura polos.


"Humaira, tisu ajaib bisa digunakan untuk mengusap ini, agar semakin kuat dan tangguh," terang Dhava sambil menunjuk bagian tubuhnya yang dimaksud.


Seketika pipi Annisa merona saat melihat bagian tubuh yang ditunjuk oleh Dhava. Lantas ia pun segera memalingkan wajah.


"Humaira, lebih baik ... kita segera membuka amplop pemberian kak Vayyet. Siapa tau, isinya benar-benar tisu ajaib."


"Iya Mas," lirih Annisa.


Keduanya mendaratkan bobot tubuh di tepi ranjang lalu bergegas membuka amplop pemberian kak Vayyet, salah satu pembaca setia Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story).


Netra Dhava dan Annisa berotasi sempurna saat mengetahui isi amplop tersebut. Ternyata selembar kertas putih yang bertuliskan doa sebelum bersenggama. Bukan tisu ajaib seperti dugaan Dhava.


"Pffftttt ... hahahha." Dhava dan Annisa tergelak hingga kedua sudut netra mereka berair.


"Haduhhh, kak Vay ada-ada aja. Dia sepertinya belum tau, kalau saya sudah hafal doa sebelum bersenggama di luar kepala," ujar Dhava sambil menggeleng kepala.


"Benarkah? Mas Dhava hafal doa itu?" tanya Annisa menggoda.


"Tentu saja Humaira. Saya sudah hafal. Bahkan sangat hafal?"


"Oya?"


Dhava memegang pucuk kepala Annisa dan mengatupkan sejenak kelopak netranya. Dengan sangat fasih, ia melantunkan doa sebelum bersenggama.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami.


Usai melantunkan doa, Dhava mendaratkan kecupan dikening istrinya.


Dengan pelan, Dhava mendorong tubuh Annisa hingga terbaring di atas ranjang. Lantas ia raup bibir ranum yang sedari tadi membuatnya tergoda.


Annisa tak kuasa menolak. Ia pasrah dan menikmati setiap sentuhan pria yang telah halal menjamah seluruh bagian tubuhnya.


Dengan tangan gemetar, Dhava berusaha melepas kancing gamis yang membungkus tubuh indah istrinya.


"Susah sekali, Humaira." Dhava merasa kesulitan saat membuka kancing gamis yang dikenakan oleh Annisa.


"Bi-biar saya buka sendiri, Mas ...."

__ADS_1


Perlahan, Annisa membuka kancing gamisnya. Netra Dhava tidak berkedip ketika satu persatu kancing itu terlepas. Bukan hanya membuka gamis, Annisa melepas semua kain yang membalut tubuhnya.


Annisa menunduk malu saat menyadari manik mata Dhava terbingkai kabut gair-h.


Dhava menelan saliva kala melihat keindahan tubuh yang tersuguh di hadapannya. Refleks, Dhava mulai menjamah tubuh indah istrinya dan meninggalkan jejak kepemilikan.


Dhava semakin terbakar api gair-h tatkala mendengar suara merdu yang keluar dari bibir Annisa.


"Mas ...." Annisa meremas rambut Dhava, ketika suami tampannya itu menyesap harta terindah dan mereguk madunya.


Tanpa sabar, Dhava melepas semua kain yang membungkus tubuhnya. Lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Humaira, boleh 'kan?"


"Iya Mas." Annisa mengangguk pelan.


Dhava tersenyum. Kemudian ia mengarahkan bagian tubuhnya pada mahkota yang masih terjaga kesuciannya.


Peluh Dhava bercucuran saat berulang kali salah mengarahkan bagian tubuhnya. Ia merasa frustasi sebab usahanya untuk masuk ke dalam, belum juga membuahkan hasil.


"Mas Dhava ...."


"Ya."


"Saya kebelet --"


"Kebelet apa Humaira?"


"Buang air kecil." Annisa mendorong tubuh Dhava lalu membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Gegas, ia pun beranjak dari ranjang dan mengayun tungkai menuju kamar mandi.


Seketika, Dhava mengusap bagian tubuhnya yang tiba-tiba layu. Raut kecewa terlukis jelas di wajahnya karena Annisa memangkas ritual penyatuan raga.


Sabar Va, masih ada hari esok 🙄


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2