
Happy reading 😘😘😘
"Assalamu'alaikum Comel. Kak Birru pamit dulu ya," ucap Albirru setelah ia menaruh paper bag di atas nakas dan menulis pesan singkat untuk Khanza.
Selamat menikmati makanan dan minuman khas Indonesia, Bu Mil. Apapun ngidammu, aku akan berusaha menurutinya, Za. Jangan berpikiran macam-macam! Anggap saja, aku kakakmu yang akan selalu menuruti semua keinginan sang adik. Demi Allah, aku tidak berniat untuk menggantikan posisi Rangga, Za. Karena aku tau bahwa posisi seorang suami tak akan pernah tergantikan oleh pria lain.
MUHAMMAD ABIZHAR ALBIRRU
....
Kelopak mata yang terbingkai bulu mata nan lentik, terbuka perlahan. Mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya di dalam ruangan.
Netra Khanza berotasi sempurna saat menyadari bahwa ia terbaring bersebelahan dengan Rangga. Ia tampak bingung dan linglung.
Khanza berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. Tepatnya selepas sholat dzuhur. Seingatnya, ia hanya duduk dan merebahkan kepala di dada bidang Rangga. Setelah itu, ia pun terlelap.
Khanza bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa ia bisa terbaring di atas hospital bed ....
Perlahan, ia beranjak dari ranjang lalu melepas mukena yang dikenakan. Saat akan menyimpan mukena di dalam nakas, pandangan netra Khanza tertuju pada paper bag dan selembar kertas yang bertuliskan pesan singkat dari Albirru.
Tangan terulur untuk meraih paper bag dan selembar kertas itu. Kemudian ia membaca tulisan tangan Albirru, pria yang pernah bertahta di hatinya.
"Kak Birru ...," gumamnya.
"Trimakasih kak. Maaf, aku telah salah menilaimu. Kamu masih kak Birru yang dulu. Pria berhati mulia. Memberi tanpa pamrih." Khanza bermonolog disertai seutas senyum yang terlukis indah di wajah ayunya.
Tanpa sabar, Khanza membuka paper bag yang berisi kotak makan dan botol minuman. Netra Khanza berbinar saat membuka kotak makan dan botol itu.
"Yaa Allah, dari mana Kak Birru memperoleh makanan dan minuman khas Indonesia ini?" tanyanya heran.
Tiba-tiba, rasa sedih kembali hadir. Netra yang semula berbinar kini terbingkai titik-titik air.
"Andai yang memberi semua ini mas Rangga, pasti aku akan sangat bahagia. Yaa Allah, berikanlah petunjuk kepada hamba agar bisa menyadarkan mas Rangga. Hamba sangat merindukan canda tawanya," lirihnya.
Khanza mendaratkan bobot tubuhnya di sofa lalu membaca doa sebelum makan.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Ya Allah berikanlah keberkahan apa yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka."
__ADS_1
Seusai membaca doa sebelum makan, Khanza mulai menikmati makanan dan minuman pemberian Albirru. Tangannya gemetar saat memegang senduk. Titik-titik air yang semula menganak di kelopak mata, kini jatuh membasahi wajahnya. Selera makannya sirna saat pandangan netranya tertuju pada sesosok pria yang masih terbaring tak berdaya.
"Mas, maaf. Maaf aku menikmati makanan dan minuman pemberian kak Birru."
....
Johan dan ketiga anak buahnya berhasil menemukan tempat persembunyian Clarisa berkat informasi dari Devan. Dengan iming-iming imbalan sejumlah uang dan mobil sport keluaran terbaru, Devan akhirnya bersedia membuka mulut dan memberitahu tempat persembunyian sang nyonya. Tidak hanya itu, Devan juga membeberkan bisnis gelap yang dilakukan oleh Clarisa dan kekasih barunya, Douglass. Rupanya, sepasang kekasih itu menjual para gadis yang mereka culik pada sugar daddy.
Abimana, Tama, beserta anak buah mereka mendatangi rumah mewah, tempat Clarisa dan Douglass menjajakan para gadis. Mereka menyamar dengan memakai kumis dan brewok palsu.
Rumah mewah itu dihiasi gemerlap lampu dan iringan musik disco. Para gadis berpakaian minim menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyum dan kata-kata rayuan.
Pandangan netra Abimana tertuju pada salah seorang gadis yang sedang meringkuk dan menangis di pojok ruangan. Karena merasa empati, Abimana menghampiri gadis malang itu.
"Nona, kenapa anda menangis?" Abimana melontarkan kalimat tanya dengan suaranya yang terdengar lembut.
Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Ia tatap lekat-lekat netra teduh yang seolah sudah tidak asing lagi baginya.
"Pa-paman, jangan nodai kesucian saya! Saya mohon Paman," pinta gadis itu dengan bibir gemetar. Ia sangat takut jika kesucian yang selama ini dijaga olehnya direnggut paksa.
"Nona, jangan takut! Saya datang ke tempat ini untuk membebaskan para gadis yang dijual oleh Clarisa," tutur Abimana dengan melirihkan suaranya.
"Iya Nona." Abimana mengangguk dan tersenyum.
"Jadi, beritahu paman, di mana keberadaan Clarisa saat ini!"
"Nyonya Clarisa sedang berada di ruangan bawah tanah bersama tuan Douglass. Di ruangan itu terdapat kamar yang biasa mereka pergunakan untuk beristirahat," jawabnya dengan sedikit keraguan yang terselip.
"Baiklah, bisa antarkan paman ke ruangan bawah tanah, tempat mereka berada?"
"Tentu saja. Dara akan mengantar Paman ke sana."
Dahi Abimana mengernyit saat gadis itu menyebutkan namanya. Ia tatap wajah sang gadis yang ternyata sangat familiar.
"Dara?"
"Iya Paman. Nama saya, Dara Larasati."
__ADS_1
"Dara Larasati putri angkat Bu Mira?"
"Iya Paman. Bagaimana Paman bisa tahu?"
Abimana mengulas senyum dan membelai rikma hitam gadis yang ternyata sahabat Dylan ketika keduanya masih duduk di bangku SMA.
"Dara, pria paruh baya yang sedang berdiri di hadapanmu ini ... om Abim. Ayah Dylan, sahabatmu."
"Masya Allah, Om Abim," ujarnya setengah memekik.
"Stttt, jangan berteriak Ra! Jangan sampai anak buah Clarisa mengetahui penyamaran kami!"
"Ma-maaf Om. Karena terlalu bahagia, Dara sampai terlupa."
"Iya Ra. Kita harus bertindak sangat hati-hati."
"Siap Om."
"Ra, kenapa ... kamu bisa berada di tempat ini?"
Dara menghela nafas dalam, menghalau rasa sesak yang tiba-tiba hadir. Lantas ia pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Abimana.
"Ibu menyerahkan saya pada nyonya Clarisa sebagai pelunas hutang, Om. Meski sudah satu bulan berada di tempat ini, Alhamdulillah ... Allah masih menjaga kesucian saya. Setiap hari, saya mendapat siksaan dari nyonya Clarisa. Wanita iblis itu mengancam, jika hari ini tidak ada sugar daddy yang membeli saya, maka dia akan memberi perintah kepada beberapa anak buahnya untuk menodai kesucian saya ...," tutur Dara sendu.
Abimana menghembus nafas kasar. Mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Dara, amarahnya semakin meluap hingga sampai di ubun-ubun. Besar keinginannya untuk segera bertemu dengan Clarisa dan memberi hukuman yang setimpal pada wanita iblis itu ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo ☺
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk memfavoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤