Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Dua Malaikat Bag. 2


__ADS_3


Happy Reading 😘😘😘


"Tapi Mbak, uang ini sangat banyak --"


"Gas, uang itu bisa kamu pergunakan untuk modal berjualan. Jadi, kamu dan ibumu ... insya Allah tidak akan kelaparan lagi," tutur Khanza.


Kata-kata yang terlisan dari bibir Khanza bagaikan embun yang menyejukkan jiwa Bagas. Manik mata bocah berusia sepuluh tahun itu berkaca-kaca. Di dalam benak, ia melantunkan kalimah syukur atas rejeki yang diberikan oleh Allah melalui perantara dua malaikat tak bersayap, Rangga dan Khanza. Ia juga melangitkan pinta kepada Illahi teruntuk dua insan yang telah mengulurkan tangan dengan tulus dan ikhlas.


"Bagaimana, saya bisa membalas kebaikan Mas Rangga dan Mbak Khanza?" Bagas melisankan kalimat tanya.


Rangga dan Khanza mengulas senyum kala mendengar pertanyaan yang dilisankan oleh Bagas. Kedua tangan sepasang suami yang berhati mulia itu terulur untuk mengusap pelan pundak Bagas, si bocah kecil nan malang.


"Balaslah kebaikan kami dengan terus menyanyangi ibumu. Berbaktilah kepada beliau, karena surga ada di telapak kakinya. Sekolah yang rajin supaya kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan Gas," tutur Rangga tanpa memudar senyum.


"Iya Mas, saya akan selalu menyayangi ibu dan berusaha menjadi anak yang berbakti. Karena ... hanya ibu lah yang saya miliki sejak ayah mengusir kami dari rumah. Ayah tidak pernah mencintai dan menyayangi kami. Ayah lebih memilih hidup bersama wanita lain --"


Bagas tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia juga tidak mampu menahan titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata. Bocah kecil itu menangis tergugu setelah menceritakan kisah hidupnya yang teramat pelik.


Seketika, Rangga meraih tubuh Bagas lalu memeluknya dengan erat, menumpahkan tangis yang semula tertahan. Pria berparas rupawan itu sungguh tidak menyangka, bahwa kisah hidup yang dialami oleh Bagas dan ibunya sama persis dengan yang pernah ia dan sang bunda alami.


Atmosfer keharuan menyelimuti seisi ruangan warung bakmi Jawa mbah Pahing. Khanza dan mbah Pahing ikut meneteskan air mata tatkala menyaksikan dua anak adam yang berbeda generasi itu saling berpeluk.


Perlahan, Rangga melerai pelukan. Ia seka jejak air mata yang membasahi wajahnya. Begitu pula dengan Bagas, Khanza, dan mbah Pahing. Ketiga orang itu menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.


"Bagas, bolehkah kami bertemu dengan ibumu?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza.


"Tentu saja boleh Mbak," jawabnya diikuti anggukan pelan.


Rangga beranjak dari posisi duduk diikuti oleh Khanza. Setelah membayar bakmi Jawa dan berpamitan pada mbah Pahing, Rangga memandu Khanza dan Bagas ... mengayun kaki menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.


Jalanan kota Jogja masih lenggang ketika mesin waktu menunjuk angka setengah empat. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang dan orang-orang yang berjalan menuju ke masjid untuk bersiap menunaikan kewajibannya di subuh hari.


"Gas, di mana rumahmu?"


Raut wajah Bagas terlihat sendu. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Khanza.


"Gas ...." Khanza menepuk pundak Bagas.


"Mbak, saya dan ibu tidak mempunyai rumah. Setelah diusir oleh ayah, setiap malam kami tinggal di emperan toko. Terkadang, kami juga tidur di dalam masjid," ucapnya lirih.

__ADS_1


Ucapan Bagas sukses menorehkan sensasi rasa nyeri di ulu hati Rangga. Terbayang olehnya masa-masa sulit yang pernah ia lalui bersama sang bunda. Rangga dan Nabila juga pernah tidur di dalam masjid. Tentu saja sebelum Kirana meminta mereka untuk tinggal di desa W dan menyediakan rumah sebagai tempat tinggal serta memberikan semua fasiltas yang dibutuhkan. Bukan itu saja, Kirana beserta suaminya juga memberikan perlindungan kepada Rangga dan Nabila dari orang-orang suruhan Clarisa yang hendak berlaku jahat.


Kirana meminta Nabila untuk mengelola rumah sakit ICPA yang ia dirikan bersama suami tercinta, Abimana. Bahkan, Kirana dan Abimana juga memberikan pekerjaan kepada Rangga. Namun Rangga menolak. Ia memilih untuk menjadi seorang driver ojek online. Karena merasa tidak tega melihat putranya yang sering pulang hingga larut malam, Nabila memutuskan untuk menjual rumah peninggalan sang ayah, demi mendukung keinginan Rangga, mendirikan perusahaan Go-Sukses. Rumah tersebut merupakan harta satu-satunya yang dapat ia selamatkan dari keserakahan Clarisa. Alhamdulillah, berkat keridhoan Allah serta kerja keras Rangga, perusahaan Go-Sukses semakin berkembang dan memiliki anak cabang di beberapa kota besar.


"Mbak, itu ibu saya!" Bagas mengarahkan jari telunjuknya ke objek yang dimaksud. Nampak seorang wanita muda sedang berdiri di depan masjid sembari mengedar pandangan ke kiri dan ke kanan. Seketika, Rangga menghentikan laju mobilnya kala mendengar ucapan Bagas.


"Itu benar ibumu, Gas?" Rangga melisankan tanya.


"Iya Mas, itu ibu saya." Bagas menjawab dengan mantab.


Rangga keluar dari dalam mobil diikuti oleh Khanza dan Bagas. Ketiganya mengayunkan kaki ke arah Ratna (ibu Bagas).


"Ibu ...." Bagas berteriak dan menghambur ke pelukan ibunya.


"Bagas sayang ...." Ratna menyambut pelukan sang putra.


Ibu dan anak itu saling berpeluk, menumpahkan tangis yang tak mampu keduanya bendung.


"Dari mana saja kamu, Nak? Sedari tadi ibu mencarimu."


Bagas sedikit merenggang pelukan. Ia ulurkan tangan kecilnya untuk menyeka wajah sang ibu yang terbingkai air mata. Ratna tersenyum lalu berganti menyeka jejak air mata di wajah imut Bagas, putra semata wayang yang teramat dicintainya.


"Bu, Mas Rangga dan Mbak Khanza membelikan kita bakmi Jawa. Mereka juga memberikan kita sejumlah uang, supaya kita bisa berjualan," sambungnya.


TES


Ratna kembali meneteskan air mata ketika Bagas bercerita tentang kebaikan Rangga dan Khanza. Lalu, ia melisankan kata-kata dengan bibir gemetar. "Masya Allah, terima kasih Mas Rangga, Mbak Khanza. Entah, bagaimana kami bisa membalas kebaikan kalian berdua."


Khanza menerbitkan senyum. Ia memberikan pelukan singkat dan berucap dengan tutur katanya yang terdengar halus. "Mbak Ratna dan Bagas tidak perlu membalas semua yang telah kami berikan. Karena sejatinya, apa yang kami miliki saat ini ... hanyalah titipan dari Allah. Jadi, kami sebagai seorang hamba berkewajiban membelanjakan titipan dari-Nya untuk kebaikan."


NYESSSS


Ucapan Khanza bagaikan tetesan air langit yang menyirami seisi bumi.


"Mbak, jika Mbak Ratna berkenan ... ikutlah bersama kami. Kebetulan, rumah kami yang berada di desa W sudah lama tidak kami tinggali. Tinggalah di sana bersama Bagas! Semua warga desa sangat ramah. Insya Allah, Bagas akan mempunyai banyak teman di sana. Saya akan mendaftarkan Bagas untuk bersekolah di SD ICPA. Sekolah Dasar yang didirikan oleh ayah dan bunda saya sebagai pengganti rumah pintar," lanjutnya.


Setelah sejenak berpikir, Ratna berkenan menerima tawaran Khanza.


Percakapan mereka terpangkas tatkala suara panggilan Illahi terdengar. Rangga, Khanza, Ratna, dan Bagas menyambut panggilan Illahi dengan bersegera mensucikan diri. Kemudian mereka bersiap menjalankan ibadah sholat subuh berjamaah ....


.....

__ADS_1


Bonus visual Ratna dan Bagas 😘


1. Ratna atau Indah Mala (Nama asli visual Ratna)



Indah Mala merupakan salah satu sahabat author yang selalu terlihat ceria meski kisah hidupnya teramat pelik. Ia seorang wanita yang sangat tegar dan selalu menerbitkan senyum meski ujian hidup sering kali datang menyapa.


Saat ini, Mala tengah bersabar menanti calon imam pengganti yang mampu menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Serta mampu menuntunnya menjadi seorang wanita saleha.


Ada beberapa novel yang telah ditulisnya dengan bahasa yang sederhana tetapi menyentuh.


Salah satu karya terbaru Mala berjudul 'Love and Rain.' Karya tersebut mengingatkan author ketika masih duduk di bangku sekolah. ☺



2. Bagas atau Kenzie (nama asli visual Bagas)



Kenzie si bocah kecil nan menggemaskan merupakan putra semata wayang Nofi Kahza. Selain menggemaskan, Kenzie juga sangat cerdas dan ceria meski saat ini ia jauh dari sang bunda. 😊


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf, author terlambat yang UP. πŸ˜‰πŸ™


R: Thor, kenape visualnya bukan artis?


T: Jangan salah, mereka juga artis di dunia pernovelan lho πŸ˜‰


R: Emangnya, si othor nggak takut pembacanya pindah lapak karena malah promoin karya othor lain? πŸ™„


T: Insya Allah, enggak. Justru author senang jika karya sahabat author banyak dikunjungi oleh pembaca. Insya Allah, setiap tulisan akan ditemukan oleh pembacanya. Sukses bersama, itu salah satu tujuan author. πŸ˜‰


Okey, author pamit dulu karena badan sedang demo minta diistirahatkan. Mon maaf jika banyak typo bertebaran. β˜ΊπŸ™


Mumpung hari Senin, yukkk dukung karya author dengan memberikan vote. 😁


Trimakasih dan banyak cinta 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2