Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Kisah Kelam


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Tapi saat ini, kami sangat membutuhkan Dylan. Hanya Dylan yang bisa menguatkan Milea. Hanya Dylan yang bisa memberi motivasi putri saya yang saat ini tengah berputus asa. Milea berusaha bunuh diri, Mbak. Sebelum pingsan, Milea berkata bahwa ia lebih baik mati jika hidup tanpa Dylan --"


Kirana menghela nafas berat. Menghempas rasa yang sekilas membuatnya dilema untuk mengambil keputusan. Antara mengijinkan Dylan untuk menemui Milea atau melarang putranya untuk kembali berurusan dengan Milea ....


"Maaf Mbak Rossa, apa yang pernah saya ucapkan, tidak akan pernah saya tarik lagi. Saya tidak akan ... membiarkan apapun atau siapapun menjadi duri bagi rumah tangga anak-anak saya. Untuk permasalahan Milea, bukankah ada cara lain untuk mengatasinya? Mbak Rossa bisa membawa Milea untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bukan hanya Milea yang dibawa ke psikiater, tapi ... menantu Mbak Rossa juga, Jordan. Saya yakin, Milea hanya ter-obsesi pada Dylan, karena dia terbiasa bersandar di bahu putra saya ketika ingin melepas beban yang dirasa teramat berat. Sedangkan Jordan, mungkin dia berperilaku tidak manusiawi ketika meminta jatah ... karena pernah mengalami kekerasan se-sual. Jadi, jangan mengatasi suatu permasalahan dengan mendatangkan masalah lain. Gunakan pemikiran yang realistis, Mbak. Sebagai seorang yang berpendidikan, Mbak Rossa dan Mas Danu pasti bisa menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh Milea dan Jordan. Masalah mereka sebenarnya simple, Mbak. Yang terpenting jangan hanya mengandalkan emosi sesaat. Namun, bicarakan dari hati ke hati. Jordan masih memiliki tanggung jawab penuh terhadap Milea. Dia yang seharusnya menjadi sandaran bagi istrinya, bukan malah pria lain," tutur Kirana bijak.


Rossa bergeming. Ia berusaha menelaah kata-kata yang dituturkan oleh ibunda Dylan. Dalam hati, ia membenarkan perkataan Kirana yang sangat bijak.


"Mbak, jika Mbak Rossa berkenan, saya akan membantu permasalahan yang dialami oleh Milea dan Jordan dengan cara mempertemukan mereka dengan dokter Paula. Dokter Paula seorang psikiater yang bisa diandalkan. Insya Allah, setelah berkonsultasi dengan dokter Paula, Milea dan Jordan akan sembuh dari gangguan kejiwaan yang mereka alami," sambungnya.


Rossa menghela nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia pun lantas membuka suara. "Apa yang Mbak Kiran tuturkan memang benar. Seharusnya, saya dapat berpikir jernih dan tidak hanya mengandalkan emosi untuk mengatasi permasalahan Milea dan Jordan. Trimakasih atas saran yang Mbak Kiran berikan. Maaf atas segala kesalahan dan kelancangan saya."


Kirana menerbitkan seutas senyum lalu ia kembali berucap. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mbak. Karena apa yang Mbak Rossa lakukan ... merupakan naluri seorang ibu. Benar apa yang dikatakan oleh banyak orang. Sebagian besar wanita hanya mengandalkan perasaan tanpa menggunakan akal atau pikiran yang realistis untuk menyelesaikan suatu permasalahan."


Ucapan Kirana sukses mencubit segumpal daging yang bersemayam di dalam dada Rossa. Wanita itu menyadari kebodohan dan kesalahannya. Sebagai seorang pengacara handal, seharusnya ia mampu berpikir realistis untuk menyelesaikan permasalahan sang putri dan menantunya, bukan malah mengandalkan emosi sesaat.


Setelah kembali mengucapkan kata 'terima kasih' Rossa berpamitan pada tuan rumah. Lalu ia meminta Rizqi untuk mengantarnya ke rumah sang menantu, Jordan Pandesa.


....

__ADS_1


Jordan sangat terkejut dengan kedatangan mama mertuanya yang tiba-tiba. Namun, ia berusaha menutupinya dengan senyuman manis yang membingkai wajah.


"Silahkan duduk, Ma!" Jordan mempersilahkan mama mertuanya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Mama ingin minum apa?" kalimat tanya yang terlisan dari bibir Jordan, setelah ia dan Rossa mendaratkan bobot tubuh.


"Mama tidak ingin minum apa-apa, Jordan. Mama hanya ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting."


"Suatu hal yang sangat penting? Apa mungkin, yang berhubungan dengan Milea, Ma?"


"Iya, kamu benar Jordan. Saat ini, Milea tengah dirawat di rumah sakit setelah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menggores lengannya. Kentara sekali jiwa Milea tengah terguncang. Mama yakin, semua ini terjadi karena kekerasan se-sual yang kamu lakukan terhadapnya. Jordan, mama ingin mendengar penjelasan darimu. Mengapa, kamu memperlakukan Milea dengan kasar ketika meminta hak darinya?" Rossa berusaha berbicara setenang mungkin meski amarahnya terhadap sang menantu sudah meluap hingga ke ubun-ubun.


"Maafkan saya, Ma. Saya tidak berniat menyakiti Milea. Saya akan ... menceritakan yang sebenarnya, agar Mama memahami keadaan saya. Dulu, saya pernah mengalami kekerasan se-sual. Pelakunya tante saya sendiri. Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sering ditinggal oleh papa dan mama ke LN. Mereka menitipkan saya pada tante Irma. Setiap rumah sepi, tante Irma selalu mengurung saya di dalam kamar lalu melakukan perbuatan keji itu. Tante Irma mengikat kaki dan tangan saya sebelum memuaskan hasratnya. Bertahun-tahun, saya tidak berani membuka suara karena ancaman tante Irma. Hingga, saya mulai terbiasa dengan perlakuannya." Jordan menjeda sejenak ucapannya. Ia menghela nafas untuk menghempas sesak yang terasa kala mengingat masa lalunya.


"Saya merasa ada sesuatu yang kurang ketika tante Irma tidak lagi melakukan kebiasaannya itu. Tante Irma insyaf setelah ia dinikahi oleh seorang pria yang berprofesi sebagai dokter. Pria itu tidak mempermasalahkan masa lalu tante Irma dan mau menerima segala kekurangan wanita yang dinikahinya. Sejak tante Irma menikah, saya membayar beberapa gadis untuk menjadi pelampiasan hasrat --"


"Para gadis itu bersedia?" Rossa menginterupsi dengan melontarkan tanya.


"Iya Ma. Mereka bersedia karena membutuhkan uang untuk membiayai kuliah. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka mulut, karena saya memberikan sejumlah uang yang cukup banyak," jawabnya berterus terang.


"Mama kecewa padamu, Jordan. Mama teramat sangat kecewa. Seharusnya, kamu menceritakan semua itu sebelum menikahi Milea." Rossa sedikit meninggikan intonasi suara. Ia mengepalkan tangan, meluapkan amarah dan rasa kecewa.

__ADS_1


Jordan meluruhkan tubuhnya lalu bersimpuh di hadapan Rossa seraya memohon pengampunan. "Maafkan saya, Ma. Saya tidak berterus terang pada Mama dan Papa, karena sangat mencintai Milea. Saya takut, Mama dan Papa tidak menerima saya sebagai menantu jika mengetahui ini semua sejak awal."


Rossa menghembus nafas kasar dan berusaha meredam amarah. "Apa, mama dan papamu tidak mengetahuinya?"


"Mereka sama sekali tidak mengetahuinya, Ma. Karena papa dan mama terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sekalipun, papa dan mama tidak pernah merengkuh saya dalam dekapan. Mereka juga tidak pernah mendengar keluh kesah putra semata wayangnya ini. Bagi mereka, kebahagiaan saya hanya bisa dinilai dengan harta dan tahta. Mereka tidak berpikir, saya sangat membutuhkan dekapan kasih sayang dan tempat untuk berbagi cerita."


Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Jordan, Rossa merasa empati terhadap menantunya itu. Ia tidak pernah menyangka, kehidupan keluarga Pandesa yang terlihat bahagia dan harmonis, ternyata menyimpan sisi kelam ....


"Manusia yang paling utama mendapatkan kebaikanmu dan paling berhak mendapatkan perbuatan baikmu adalah anak-anakmu. Karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang Allah letakkan di sisimu." - Abdurrahman As-Sa’dy.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2