Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Harta Istri


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Khanza, maaf ...," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk membantu Khanza bangkit dari kubangan lumpur.


"Kamu jahat Ngga. Jahat banget ...." Khanza terisak. Ia raih uluran tangan Rangga lalu menariknya dengan kuat. Karena tidak bisa menahan keseimbangan tubuh, Rangga ikut tercebur ke dalam lumpur.


Khanza tertawa puas. Sebab suaminya yang jahil ikut menjadi manusia choki-choki ..... 🙄


....


Rangga dan Khanza membersihkan tubuh mereka yang dipenuhi lumpur dengan mandi bersama sembari memadu kasih. Keduanya tenggelam ke dalam asmaraloka. Hingga hampir saja terlupa dengan kewajiban sebagai seorang hamba ....


Setelah mandi junub dan berwudhu, Rangga beserta istri tercinta, menyembah Illahi dengan khusyuk. Mereka berserah diri dan hanya mengingat Sang Maha segala-galanya.


Usai mengucap dua salam, Rangga dan Khanza menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangit kan pinta. Mereka memohon kebaikan di dunia dan akherat serta rumah tangga yang senantiasa sakinah, mawadah, warohmah.


Rangga mencium lama kening kekasih halalnya, mencurahkan kasih sayang dan rasa cinta seorang suami terhadap istrinya. "Sayang, trimakasih telah bersedia menjadi makmum-ku. Ingatkan suamimu ini, jika terlupa dengan kewajibanku sebagai seorang imam."


"Ngga, aku pun sangat berterimakasih ... karena kamu menjadikanku sebagai makmum-mu. Ingatkan aku juga jika terlupa akan kewajibanku sebagai seorang makmum. Bimbinglah aku untuk menjadi seorang istri yang salehah. Insya Allah ikatan cinta kita sehidup sesurga, Ngga --"


"Aamiin yaa Robb ...."


Rangga merengkuh tubuh Khanza lalu memeluknya dengan erat. Khanza membalas pelukan dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Rangga. Nyaman ... Khanza merasakan kenyamanan setiap berada di dalam pelukan suaminya.


"Ngga ...."


"Hemmm ...."


"Tentang nazar yang diucapkan oleh ayah, apa ... beliau berbohong supaya putrinya ini bersedia menikah denganmu?"


Rangga mengulas senyum. Ia mencium pucuk kepala Khanza sebelum menjawab pertanyaan yang terlisan. "Ayah memang mengucapkan nazar itu, Za. Beliau sama sekali tidak berbohong. Nazar yang diucapkan oleh ayah, sebagai perantara dari-Nya untuk menjawab pintaku. Menyatukan kita dalam ikatan yang


halal."


"Allah sangat menyayangi kita Ngga --"


"Iya sayang."

__ADS_1


"Ngga ...."


"Ya?"


"Bekerjalah di perusahaan ayah! Beliau pasti akan menerimamu dengan senang hati."


"Khanza sayang, aku sudah banyak berhutang budi pada beliau. Aku tidak ingin menambah hutang budi dengan meminta ayah agar menerima menantunya ini bekerja di perusahaan beliau. Lagi pula, aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sebagai seorang driver ojek --"


"Tapi Ngga, wajah dan tanganmu bisa gosong jika terus-menerus bekerja sebagai seorang driver ojek."


"Pffffttt ... hhahaha. Nggak masalah 'kan gosong? Meski gosong tetep mempesona lho."


"Isshhh, Rangga. Awas aja ya, kalau kamu berani tebar pesona --"


"Aku nggak bakal tebar pesona, Za. Takut nggak dapet jatah dari Nyai Ratu --"


Rangga semakin mengeratkan pelukan lantas kembali mengecup pucuk kepala istrinya.


"Ngga. Bagaimana kalau kita mendirikan rumah makan atau kafe? Masakanmu 'kan lezat. Pasti banyak orang yang suka --"


"Ide yang bagus, Za. Tapi masakanku spesial hanya untuk istriku --"


"Iyain aja dech. Meski masakan mereka nggak selezat masakan istriku --"


"Aku nggak bisa masak, Ngga. Kamu nyindir ya?"


"Aku nggak nyindir Za. Masakanmu beneran sangat lezat. Apalagi jika kamu memasak mie instan dicampur telur, sayur, dan cabe ... hmmmm bikin nagih, Za."


Khanza membalas ucapan suaminya dengan Mencebikkan bibir. "Mie instant 'kan sudah ada bumbunya, Ngga. Bukan bumbu hasil racikan ku sendiri."


"Meski sudah ada bumbunya, tetapi jika yang memasak bukan kamu, rasanya pasti hambar Za --"


"Sudahlah, jangan membahas mie instan lagi! Kita kembali ke pokok pembicaraan, okay!"


"Okay, Nyai Ratu."


"Ngga, jika kamu mantap untuk mendirikan rumah makan atau kafe, pakailah uang tabunganku! Insya Allah, jumlahnya cukup kog."

__ADS_1


"Khanza sayang, harta istri hanya milik istri. Suami tidak berhak untuk memintanya. Karena seharusnya, seorang suami lah yang berkewajiban menafkahi istrinya."


"Tapi Ngga, tidak ada larangan bagi seorang istri untuk membantu suaminya. Kamu pasti ingat 'kan kisah Khadijah? Beliau membantu Baginda Nabi dengan hartanya. Jadi, jangan beralasan dengan mengatakan bahwa harta istri hanya milik istri! Bukankah, kamu sudah merenggut harta terindah yang selama ini aku jaga?"


Skakmat. Rangga tidak mampu berkata-kata lagi. Ia membenarkan semua ucapan yang terlisan dari bibir kekasih hatinya.


Khanza mengangkat kepala lantas menatap wajah suami tampannya dengan intens.


"Jadi, bagaimana Tuan Rangga Azof, maksudku ... Rangga Adithya Fairuz? Anda bersedia menggunakan uang tabungan saya sebagai modal untuk mendirikan kafe atau rumah makan?"


Rangga mengulas senyum dan membalas tatapan wanita yang sangat dicintai.


"Terserah kamu saja, Za. Asal nggak memberatkanmu sebagai seorang istri."


"Alhamdulillah. Nanti, aku akan segera menghubungi Mas Keanu, Ngga. Pasti, Mas Kean bersedia membantu kita. Dia 'kan pinter mencari tempat yang strategis untuk mendirikan rumah makan atau kafe --"


"Iya sayang. Tapi, jika Mas Keanu sedang sibuk, jangan memaksanya untuk membantu kita Za!"


"Itu pasti Ngga ...." Khanza membalas ucapan suaminya dengan mengulas senyum.


"Rangga ...."


"Hehem."


"Aku bahagia menjadi istrimu," tutur Khanza disertai binar cinta di manik matanya.


Rangga tersenyum. Ia mengangkat dagu Khanza lalu menyentuhkan bibirnya. Kedua bibir yang bersentuhan saling memagut. Menyesap rasa manis yang menggetarkan jiwa dan semakin memperdalam rasa cinta.


"Aku pun bahagia menjadi suamimu, Saqueena Khanza Humaira," ucapnya setelah mengakhiri pagutan bibir ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Klik ❤ untuk fav karya

__ADS_1


Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya author 😉


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘


__ADS_2