Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Sengit Ndulit


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Za, suamimu berkata yang sebenarnya. Adithya adalah Rangga. Pria yang selama ini tidak pernah lelah menanti balasan cinta darimu," sahut Kirana. Ia berusaha membantu sang menantu untuk meyakinkan Khanza bahwa Adithya adalah Rangga.


"Ti-tidak mungkin. Bunda berkata seperti itu karena ingin membantu Adithya 'kan?"


"Za, bukan 'kah Bunda pernah berpesan ... lihatlah Adithya dengan mata hatimu, maka kamu akan mengetahui siapa sebenarnya suamimu itu --"


"Ja-jadi Ayah dan Bunda sudah tau bahwa Adithya adalah Rangga sebelum menikahkan kami?"


Kirana menarik kedua sudut bibirnya. "Iya Za. Kami sudah tau bahwa Adithya adalah Rangga, sebelum menikahkan kalian."


"Jadi, Ayah dan Bunda bersekongkol dengannya untuk membohongiku?" Bibir Khanza bergetar. Netranya berkaca-kaca.


"Kami tidak bermaksud untuk membohongimu, Za. Lagian, Rangga tidak pernah memakai nama samaran. Adithya adalah nama tengah Rangga Adithya Fairuz --" tutur Abimana dengan santainya.


Khanza terdiam. Ia membenarkan ucapan ayahnya bahwa Rangga tidak pernah memakai nama samaran. Ia justru merasa bersalah dan teramat malu karena tidak bisa mengenali Rangga.


Khanza menggigit bibir bawahnya. Di dalam hati, ia menyalahkan kebodohannya sendiri.


"Za, jangan marah ya! Jangan menyuruhku pergi lagi! Raga kita sudah menyatu, Za. Aku sudah mengikat mu dengan erat --"


Ucapan Rangga semakin membuat Khanza merasa malu. Terbayang olehnya penyatuan raga yang mereka lakukan semalam dan subuh tadi. Khanza tidak menyangka, ternyata ia menyerahkan kesuciannya pada Rangga. Pria yang sempat ia tangisi.


Tanpa berkata-kata, Khanza memutar tumitnya kemudian ia berlari meninggalkan panggung.


"Khanza tunggu!"


Khanza tidak memperdulikan teriakan Rangga. Ia terus berlari.


....


Khanza meringkuk di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Rasa malu yang ia rasakan sudah sampai di ubun-ubun.


"Khanza sayang, di mana kamu?"


DEG DEG DEG


Degup jantung Khanza terdengar bertalu-talu saat mendengar suara suaminya.

__ADS_1


"Khanza sayang. Please, jangan marah!" Rangga mencari keberadaan istrinya dengan memasuki seluruh ruangan.


Senyum terbit menghiasi wajah Rangga yang kini terlihat rupawan tanpa kumis dan jenggot ketika mengetahui bahwa istrinya tengah bersembunyi di balik selimut.


Rangga masuk ke dalam selimut dengan sangat hati-hati lalu ia memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Happpp. Aku menangkapmu sayang."


"Aaaaaa .... Lepaskan Ngga! A-aku malu." Khanza berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Rangga tergelak. Ia semakin dibuat gemas dengan teriakan dan tingkah istri comelnya.


"Kenapa mesti malu, Za?"


"A-aku benar-benar malu, Ngga. Aku sama sekali nggak pernah menyangka, Ayah menikahkan putrinya ini denganmu --."


"Za, nggak usah malu! Seharusnya kamu berteriak kegirangan karena ternyata ... jodoh yang dipilihkan oleh Ayahmu itu aku. Rangga Adithya Fairuz, pria yang kamu tangisi." Rangga meraih tangan istrinya. Ia kecup lama kening wanita yang sangat dicintainya.


"Ngga, aku --"


CUP


Bibir kedua insan itu saling berpagut, menyesap rasa manis yang selalu menjadi candu.


"Za, aku sangat mencintaimu," ucapnya setelah mengakhiri pagutan bibir.


"Cieeeeee, yang lagi ehem-eheman." Suara Ikhsan merusak suasana romantis yang tengah tercipta.


Rona merah tercetak jelas di wajah Rangga dan Khanza saat menyadari berpasang-pasang mata tengah menyaksikan adegan yang baru saja mereka lakukan 'kiss'.


"Mbak Khanza, akhirnya terbukti juga 'kan kata pepatah Jawa, 'Sengit Ndulit'. Siapa yang membenci akan mencolek, siapa yang sangat membenci akan bersandingan." Celotehan Dylan sukses mengundang gelak tawa. Khanza tidak bisa menahan rasa malu yang kian meraja. Lantas ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Rangga.


"Lan, jangan menggoda Mbak Khanza! Bisa jadi suatu saat nanti, kamu juga berada di posisi Mbak Khanza," tutur Kirana sambil menahan tawa.


"Nggak mungkin Bund. Lagian, Dylan nggak pernah membenci seorang wanita. Kalau dibenci dan ditolak ... iya. Sakit rasanya. Semoga saja, suatu saat nanti ... Milea bisa membuka pintu hatinya untuk Dylan," sahut Dylan dengan menampakkan raut wajah sendu.


"Ehemmm, ini kog malah curuuuhat sich? Ayo kita makan-makan! Sayang lho, hidangan yang super lezat jika dianggurkan," timpal Ikhsan.


Ucapan Ikhsan mendapat sambutan. Satu persatu mereka keluar dari dalam kamar meninggalkan sepasang suami istri yang masih duduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Za, ayo kita menyusul mereka!"


"Tapi Ngga, aku malu --"


Bibir Rangga melengkung. Ia usap pipi kekasih halalnya dengan jemari tangan.


"Nggak usah malu, Za. Aku sudah mempersiapkan kejutan lagi untukmu --"


"Kejutan? Kejutan apalagi Ngga?"


"Mau tau banget atau mau tau binggittzzz?" Rangga menoel hidung mancung istrinya.


"Mau tau bingitzzzz," ucap Khanza dengan menipiskan bibirnya.


"Baiklah. Nanti kamu akan tau, Za. Sekarang kita susul mereka, okay?"


Khanza membalas ucapan suaminya dengan anggukan.


"Dith ... eh Ngga --"


"Hehem ...."


"Gendonggggg!" Suara Khanza terdengar manja.


"Baiklah sayangggg." Rangga menuruti permintaan istrinya. Dengan senang hati pria berambut gondrong tanpa kumis dan jenggot itu menggendong istrinya ala brydal style.


Khanza melingkarkan tangannya di leher Rangga. Ia tatap wajah suaminya yang ternyata sangat rupawan. Di dalam hati terlisan kata, ".... Maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu dustakan ...."


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf jika banyak typo. Sesuai dengan permintaan pembaca, othor berusaha untuk double UP 😉


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Klik ❤ untuk fav karya


Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya receh author 😉

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘


__ADS_2