Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Khitbah


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Seusai menjalankan ibadah sholat Isya, Ilham berencana untuk menemui Rudi, duda berparas rupawan yang berhasil mencuri hati putri kesayangannya. Ilham ingin membicarakan perihal niat baiknya untuk segera menikahkan Rudi dengan sang putri, Nabilla Annisa Chairanie.


Diayunkan tungkai menuju kamar Rudi. Namun sebelum ayunan tungkai terhenti di tempat yang dituju, salah seorang santri menghadang langkah lantas memberitahu bahwa Kyai Abdullah beserta istri dan putranya datang berkunjung ke pondok pesantren Al Hidayah.


Tidak ingin membuat para tamu kehormatan menunggu terlalu lama, Ilham mengurungkan niat untuk bertemu dengan Rudi lalu segera kembali mengayun tungkai menuju ruang tamu. Ia berpikir, insya Allah masih ada hari esok untuk menyampaikan niat baiknya kepada Rudi.


"Assalamu'alaikum, Kyai Abdullah," sapa yang terlisan diikuti pelukan singkat.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz Ilham." Abdullah membalas pelukan sahabatnya disertai lengkungan bibir yang menghiasi wajah.


"Mari silahkan duduk, Kyai, Nyai, dan ...."


"Farhan," ucap Abdullah seraya menyambung kata-kata yang terlisan dari bibir sahabatnya.


"Owh iya, Nak Farhan. Monggo-monggo, silahkan duduk!" Ilham mempersilahkan para tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Ketiga tamu yang datang dari Solo itu lantas mendaratkan bobot tubuh mereka di sofa diikuti oleh Ilham beserta istrinya, Suci.


Tanpa menunggu perintah dari umminya, Annisa yang sedari tadi berada di dalam kamar, segera mengayun kaki ke dapur untuk membuat lima cangkir teh nasgitel serta menyiapkan camilan tradisional berupa bakpia, geplak, dan yangko.


Lima menit kemudian, lima cangkir teh nasgitel dan camilan tradisional telah tersuguh di atas meja. Dengan menundukkan wajah, Annisa mempersilahkan kedua orang tuanya dan ketiga tamu untuk menikmati kesegaran teh nasgitel buatannya dan camilan tradisional khas kota gudeg.

__ADS_1


"Masya Allah, panas, legi, dan kentalnya pas. Putri sampeyan selain cantik, pandai juga membuat teh nasgitel. Jika Ustadz dan Nyai tidak keberatan, saya ingin menjadikannya menantu," tutur Abdullah setelah ia menyesap kesegaran teh nasgitel buatan Annisa.


DEG


Annisa terkesiap kala mendengar ucapan yang dilisankan oleh Abdullah, begitu juga dengan Rudi yang baru saja tiba di depan pintu dan berniat masuk ke ruang tamu untuk bertemu dengan Ilham.


"Bagaimana Ustadz Ilham? Apakah ... Ustadz dan Nyai berkenan untuk menikahkan putra putri kita? Saya rasa, mereka teramat serasi. Annisa seorang dokter berparas cantik dan saleha, sedangkan Farhan putra kami ... berparas rupawan dan seorang pengusaha muda yang sukses mendirikan perusahaan di beberapa kota," sambungnya.


Ucapan Abdullah semakin menyadarkan Rudi, bahwa dia hanyalah butiran debu di antara batu berlian yang mengelilingi Annisa. Sebab, bukan hanya Abdullah yang datang dan berniat mengkhitbah Annisa untuk putranya. Namun, ustadz Arifin dan ustadz Fatih, juga pernah datang ke pondok untuk mengkhitbah wanita yang dicintainya itu.


Sedangkan bagi Annisa, ucapan sang kyai ... sebagai jawaban keresahan yang sedari tadi ia rasa. Di dalam kalbu, Annisa melangitkan untaian pinta bernada sendu, supaya Illahi Robbi meneguhkan hati abinya untuk menjadikan Rudi sebagai calon menantu, dan menolak niat Abdullah yang ingin menikahkan sang putra dengan dirinya.


Dengan menahan rasa sesak dan nyeri di ulu hati, diayunkan tungkai untuk segera berlalu pergi. Rudi sungguh tak kuasa mendengar kalimat yang mungkin saja akan menambah rasa yang menyiksa jiwa.


"Sebelumnya, kami sangat berterima kasih kepada Kyai Abdullah yang berniat untuk menjadikan putri kami sebagai menantu. Namun, kami juga memohon maaf karena niat tulus Kyai Abdullah tidak bisa kami penuhi --"


"Loh, kenapa tidak bisa dipenuhi? Apa kekurangan Farhan dalam pandangan Ustadz Ilham?" Abdullah memangkas ucapan Ilham dengan melontarkan kalimat tanya diikuti tautan kedua pangkal alis.


"Dalam pandangan saya, Nak Farhan sama sekali tidak memiliki kekurangan. Bahkan, Nak Farhan terlampau sempurna bila disandingkan dengan putri kami," jawabnya merendah. Ilham melisankan kata-kata bernada halus supaya tidak menyinggung perasaan Abdullah, Salimah, dan Farhan.


"Lantas, apa alasan Ustadz Ilham tidak bisa memenuhi niat baik Abah saya? Apa mungkin, putri Ustadz ... bukan wanita sempurna yang bisa memberikan keturunan? Atau, sudah pernah disentuh oleh seorang pria yang belum menjadi mahramnya?" cecar Farhan dengan sedikit meninggikan intonasi suara. Kentara sekali bahwa pria itu tidak menerima penolakan.


Dada Ilham, Suci, dan Annisa bergemuruh tatkala mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Farhan. Di dalam hati mereka melantunkan istighfar untuk meredam amarah supaya tidak menguasai kalbu.

__ADS_1


Selain marah, ketiganya juga teramat menyayangkan ucapan Farhan yang sungguh tidak mencerminkan tutur kata seorang putra kyai ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah, Pernikahan Tanpa Cinta sudah mencapai bab ke 101. Tetap stay hingga end ya kakak-kakak ter love ❤


R: Kapan end nya Thor?


O: Othor sendiri belum bisa memastikan. Karena jika terlalu diringkas, ceritanya malah semakin acak kadul. Jadi, harap bersabar ya 🥺


Yang sudah kangen dengan papi Rangga dan mommy Khanza, insya Allah kita akan bertemu di episode selanjutnya dengan mereka 😉


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2