
Happy reading πππ
"Ranggaaaaaa ...."
Rangga terjaga saat mendengar teriakan istrinya. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya kamar.
"Za ... sayang. Apa yang terjadi? Kamu mimpi buruk ya?" Rangga menepuk-nepuk pipi Khanza agar istrinya itu terbangun.
Perlahan, Khanza membuka netra. Nafasnya terdengar tak beraturan dan wajahnya terbingkai titik-titik air ....
"Rangga, jangan pergi! Aku mohon, jangan pernah meninggalkan aku!" pintanya sembari mendekap tubuh Rangga dengan erat ....
Rangga membalas dekapan lalu mengusap punggung Khanza dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan.
"Sayang, aku selalu ada di sisimu. Sampai kapan pun, aku nggak akan pergi --"
"Tapi di mimpi itu ... kamu pergi ninggalin aku," ucapnya dengan terisak.
Rangga mengulas senyum dan merenggang pelukan. Ia angkat dagu istrinya dan menatap manik mata yang digenangi oleh titik-titik air.
"Sayang, mimpi hanyalah bunga tidur. Percayalah, sampai kapan pun ... aku nggak akan ninggalin kamu! Kecuali jika Dia berkehendak. Kita sebagai hamba, hanya bisa menjalani goresan takdir dengan ikhlas dan tawakal --"
"Mendengar ucapanmu, aku semakin takut Ngga. Aku takut menghadapi kenyataan yang akan terjadi esok --"
"Sayang, jangan pernah takut menghadapi kenyataan! Karena Dia selalu bersama kita. Kehendak-Nya adalah yang terbaik. Allah menguji kita, sebab Dia tengah rindu memeluk hamba-Nya yang berserah diri," tutur Rangga dengan bijak.
"Iya Ngga. A-aku ingin melangitkan pinta, supaya Illahi tidak memberikan ujian yang terlampau berat. Aku sungguh tak sanggup, Ngga."
"Sayang, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan --"
"Iya Ngga, tapi --"
Rangga menempelkan jari telunjuknya di bibir Khanza tanpa mengalihkan tatapan. "Nggak ada kata tapi, Za. Lebih baik, kita berwudhu lalu menjalankan sholat lail. Kita langitkan pinta dan membaca kalam cinta hingga subuh tiba!"
Khanza mengangguk samar sebagai pertanda ia meng-iyakan ajakan suaminya.
....
__ADS_1
Tetesan embun menebar bau basah. Memberi kesejukan sehingga jiwa terasa damai.
Khanza duduk di balkon dengan bertopang dagu. Ia menunggu Rangga yang sedang membuat bubur teratai untuknya.
Bibir Khanza melengkung ketika teringat kenangan beberapa tahun silam. Tepatnya, saat ia dan Rangga bertemu di acara aqiqah putri pasangan Keanu dan Raina ....
Flashback on (potongan episode Rangga dan Khanza di novel Mantan Jadi Besan)
"Bunda ...." Nabila, Kirana, dan Khanza menoleh ke arah asal suara.
"Rangga," gumam Khanza diikuti netra yang berotasi sempurna.
"Rangga, ke mari Sayang!" pinta Nabila sembari menggamit lengan sang putra.
"Putramu, Bil?" kalimat tanya yang terucap disertai tatapan kagum.
"Iya Ran. Tentu saja pemuda tampan ini putraku. Namanya, Rangga."
"Rangga? Wah, pasti kelak jodohnya Cinta," celoteh Kirana.
"Bukan Cinta, Te. Tapi seorang gadis yang sedang berdiri di belakang Tante," sahut Rangga. Ia menunjuk gadis yang dimaksud dengan gerakan dagunya.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?"
"Tentu saja sudah Te. Saya dan Khanza bagai Rangga dan Cinta. Bukan begitu, Za?"
Khanza memutar bola mata jengah kala mendengar ucapan Rangga. Kentara sekali bahwa Khanza tidak menyukai Rangga, pemuda yang teramat PD dan narsisnya sebelas dua belas dengan Keanu.
"Isshhh, PD amat. Amat aja nggak pernah PD, karena dia rajin berkaca. Siapa juga yang bersedia menjadi Cinta untuk Rangga yang O-Ranggantheng blas." Bibir Khanza mencebik. Tangannya bersedekap.
"Ehem. Ngga, beri hormat pada Tante Kirana! Salim!" titah Nabila sambil melerai tangannya.
Rangga menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Tangan terulur untuk meraih tangan Kirana. Lantas ia mencium punggung tangan ibunda gadis yang ditaksirnya dengan takzim.
Senyum Kirana terbit. Jemari tangan yang lentik mengusap kepala Rangga dengan penuh kelembutan.
"Rangga, Khanza, kami tinggal sebentar ya," tutur Nabila. Tanpa menunggu balasan dari Rangga maupun Khanza, kedua wanita yang sudah tidak lagi berusia muda itu melangkah pergi.
__ADS_1
"Khanza, ehem." Rangga menyenggol lengan Khanza dengan sikutnya.
"Apaan sihh. Jangan senggal-senggol! Najis, tauuuu." Khanza mengusap lengan dengan kasar.
"Za, jangan berlebihan seperti itu! Percayalah, aku nggak najis! Sebelum menyentuhmu, aku pastikan berwudhu terlebih dahulu."
"Kamu nggak halal menyentuhku, Ngga. Lelaki yang O-Ranggantheng blasssss." Netra Khanza nyalang. Pipinya menggembung.
"Za, meski perhatianku tidak terlihat seperti alif lam syamsiyah, namun cintaku padamu seperti alif lam qomariyah, terbaca jelas," tutur Rangga dengan kesungguhan hati sembari menatap wajah Khanza lekat-lekat.
"Za, seperti Hamzah Qat'ieΒ yang perlu disebut, begitu pula namamu yang harus selalu kusebut di setiap sujudku, di sepertiga malam," imbuhnya.
"Wkwkwk ... cekakak." Ternyata oh ternyata sedari tadi Ikhsan menguping percakapan dua insan yang masih berusia abegeh, Rangga dan Khanza. Ikhsan tergelak ketika mendengar gombalan Rangga yang hmmm, sok sweet.
"Pfffttt ... hahahhaa. Ehekkk, yang lagi dikibulin, echhh ralat ... digombalin," cibir Ikhsan disertai tawa yang masih membingkai wajahnya.
"Ishhhh, Mas Ikhsan!" Khanza mengerucutkan bibir. Ia teramat kesal pada dua pria yang sama-sama menyebalkan.
"Eh, namamu Rangga ya?"
"Iya Mas."
"Jangan tembak Khanza dengan kata 'I love you'. Tapi tembak lah dia dengan mengucap 'Qobiltu' !" titah Ikhsan dengan menaik turunkan alisnya.
"Itu pasti Mas, jika saatnya telah tiba. Untuk saat ini, Rangga akan menembak Khanza dengan 'Bismillah'...," sahut Rangga dengan mantap.
Khanza semakin jengah. Lantas ia pun memilih berlalu pergi, meninggalkan dua anak Adam yang sangattttt menyebalkan.
....
Bersambung ....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Klik β€ untuk fav karya
Tinggalkan komentar penyemangat π
__ADS_1
Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya author π
Trimakasih dan banyak cinta β€π