
Happy reading 😘😘😘
"Dylan --" Terdengar suara lembut memanggil nama Dylan. Seketika, sepasang kekasih yang tengah bercengkrama itu merotasikan kepala ke arah sumber suara.
"Kamu --" Netra Dylan dan Dara membola saat pandangan netra mereka menangkap objek yang sangat familiar ....
"Dylan, Dara, apa kabar kalian?" kalimat tanya yang terlisan dari bibir seseorang yang sukses membuat mereka terkesiap.
"Milea, ini benar kamu?" Bukannya menjawab, Dara malah berganti melontarkan kalimat tanya. Ia dan Dylan terkesiap melihat penampilan Milea yang sangat berbeda. Milea yang dahulu gemar berpakaian minim, kini mengenakan pakaian khas seorang muslimah. Gamis berwarna hijau muda dengan balutan hijab warna senada, menambah kecantikan seorang Milea.
"Iya. Ini, aku. Milea," jawabnya disertai senyuman yang merekah.
Netra Dylan tidak berkedip, bahkan bibirnya pun sedikit menganga. Sungguh ia tidak menyangka, Milea bisa berubah menjadi sosok wanita yang anggun dan berkharisma.
Ekspresi Dylan yang berlebihan, sukses membuat Dara merasa teramat kesal dan cemburu.
"Ishhhh, Abang. Tidak tahan melihat yang bening-bening sedikit," cebiknya dengan memasang raut wajah tidak suka.
"Eh, mmm, maaf Sayang. Abang hanya terkejut saja --"
"Hilih, bilang saja kalau Abang terpesona dengan Milea!" Dara beranjak dari posisi duduk lantas berlalu pergi tanpa memperdulikan tatapan heran dari Milea dan Jordan.
"Sayang, tunggu!" Dylan segera beranjak dari kursi. Gegas, ia berlari mengejar sang istri yang berjalan tanpa menengok ke belakang.
"Dara, Sayang." Dylan meraih lengan Dara agar wanita itu menghentikan ayunan kaki.
"Lepas Bang! Lepasin tanganmu! Abang masih cinta Milea 'kan? Jadi, lepasin aku! Aku akan merawat bayi-bayiku sendiri," pinta Dara dengan meninggikan intonasi suara diikuti lelehan air yang jatuh dari pelupuk netra.
Dylan tak kuasa menatap wajah Dara yang terbingkai air mata. Lantas ia pun merengkuh tubuh kekasih halalnya itu dan membawanya ke dalam pelukan.
"Sayang tidak boleh berkata seperti itu! Sumpah demi Allah, abang tidak mencintai Milea. Tadi, abang hanya terkejut melihat penampilan Milea yang berbeda."
Diusapnya punggung sang istri yang teramat dicintainya itu dengan gerakan naik turun untuk memberi rasa tenang. Diciumnya pucuk kepala wanita yang telah mengandung buah hati mereka, seraya mencurahkan rasa sayang dan cinta yang teramat besar.
"Sayang, jangan marah! Please, kasihan dedek bayi yang ada di dalam perut. Percayalah Yang, hanya Sayang yang abang cinta! Tidak ada dan tidak akan pernah ada wanita yang membuat abang jatuh cinta selain Dara Larasati."
Ucapan dan perlakuan Dylan yang sangat manis, berhasil meluluhkan hati Dara. Hingga rasa cemburu yang semula menguasai relung rasa kini terhempas begitu saja.
Dylan merenggang pelukan. Ia tatap wajah ayu sang istri yang terbingkai air mata dengan tatapan penuh cinta.
"Sayang jangan menangis lagi ya! Ulu hati abang terasa nyeri setiap melihat Sayang menangis," tutur Dylan sembari mengusap jejak air mata di wajah cantik istrinya.
Dara mengangguk samar. Bibirnya terbuka perlahan. "Ma-af Bang. Maafkan Dara karena terlalu cemburu!"
Dylan menerbitkan senyum. Ia hadiahi kening sang istri dengan kecupan dalam.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yang. Bukankah, cemburu itu tanda cinta yang teramat besar?" ujar Dylan sambil mengangkat dagu Dara. Tanpa merasa malu, ia menyentuh bibir sang kekasih halal di hadapan banyak pasang mata.
__ADS_1
"Cieeeee, so sweetttttt."
"Duhhh Bang, jiwa jomblo adek meronta-ronta."
"Uhuk-uhuk. Pingin dici-um juga donk Bang!"
Suara teriakan para pengunjung Malioboro yang didominasi oleh kaum Hawa, berhasil menyadarkan kedua insan yang tengah larut ke dalam asmaraloka.
Dylan melepas pagutan lalu menyeka sisa saliva di bibirnya dan di bibir sang istri.
Dara menundukkan wajah karena teramat malu. Ingin rasanya ia berlari dan bersembunyi di kolong meja untuk menghindari tatapan para pengunjung Malioboro yang masih setia mengerumuni. Berbeda dengan Dylan. Pria berparas rupawan itu tampak biasa-biasa saja. Bahkan, ia meminjam gitar milik salah seorang pengamen lantas dengan PD-nya ingin melantunkan lagu cinta teruntuk sang kekasih hati, Dara Larasati.
"Lagu ini, saya persembahkan teruntuk istri saya tercinta, Dara Larasati. Seorang wanita yang selalu setia mendampingi saya. Menerima saya apa adanya. Dan ... wanita yang mampu mengajarkan kepada saya, arti cinta yang sesungguhnya."
Dylan pun mulai memetik dawai gitar dan melantunkan lagu yang berjudul DIA (Anji).
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari, kujatuh cinta padanya
Semua itu karena dia
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Oh Tuhan kucinta dia
Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
Hanya padanya, untuk dia
Tepuk tangan meriah dan sorak sorai para penggunjung mengiringi berakhirnya lagu yang dilantunkan oleh Dylan.
__ADS_1
Hati Dara berbunga-bunga. Di dalam benak, ia tak henti-hentinya melisankan rasa syukur atas anugerah cinta terindah yang telah diberikan oleh Illahi. Cinta Dylan untuk Dara.
Setelah mengembalikan gitar kepada pemiliknya, Dylan meraih tangan Dara dan menggenggamnya dengan erat.
"Ehem, kalian semakin so sweet aja." Lagi-lagi suara Milea mengalihkan atensi Dara dan Dylan. Seketika, sepasang kekasih itu pun merotasikan tubuh.
"Milea, Jordan," lirih Dara.
"Hai, Bro."
"Hai, Jordan." Dylan dan Jordan saling menyapa, lalu menempelkan tangan sebagai ungkapan salam ala mereka.
"Dara, maaf ya. Karena, tadi ... membuatmu salah sangka pada Dylan," sesal Milea.
"Justru, seharusnya aku yang meminta maaf, Lea. Karena cemburu yang berlebihan, aku pergi begitu saja tanpa menyapa kalian," sahut Dara. Kedua wanita itu pun saling melempar senyum dan berpeluk singkat.
"Mmm, sudah waktunya makan siang. Bagaimana, kalau kita makan siang bersama?" usul Milea.
"Boleh juga. Kebetulan, aku sudah sangat lapar," sahut Dara sambil mengusap perutnya yang buncit.
"Sayang ingin makan apa?" kalimat tanya yang terlisan dari bibir Dylan. Tentu saja ditujukan pada sang istri tercinta.
"Dara ingin makan soto, Bang. Soto bu Sudar. Pasar Beringharjo," jawabnya mantab.
"Mmm, Jordan, Milea, kalian keberatan nggak kalau kita makan bersama di warung soto bu Sudar, pasar Beringharjo?" tanya Dylan ragu.
"Nggak kog, Lan. Kebetulan, aku juga lagi ngidam soto," sahut Milea sambil tersenyum.
"Wahhh, jadi ... kamu juga lagi hamil Lea?" Dylan kembali melisankan tanya disertai binar yang terpancar di manik matanya.
Milea mengangguk lantas menjawab pertanyaan Dylan tanpa memudar senyuman. "Iya, alhamdulillah Lan."
"Alhamdulillah. Selamat ya, Lea. Semoga, kamu dan dedek bayi yang ada di dalam perut, selalu diberi kesehatan," doa tulus Dara.
"Aamiin, trimakasih Ra. Doa yang sama untukmu," sahut Milea.
"Dylan, Dara." Lagi. Atensi Dylan dan Dara teralihkan oleh suara lembut yang sangat familiar ....
Hmmm ... siapa lagi yaaa??? 🤔
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya. Mumpung masih hari Selasa, yukkkk sumbangkan vote untuk si othor remahan kulit kacang ini 😉
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤