
Happy reading 😘😘😘
"Za, tunggu!" Rangga berusaha menahan Khanza. Namun Khanza tak acuh. Ia terus melangkah tanpa memperdulikan Rangga ....
....
BRAKKK
Khanza membanting daun pintu lalu mengunci kamarnya dari dalam. Rasa cemburu dan amarah menguasai hatinya setelah melihat Rangga membopong wanita lain.
"Za, buka pintunya sayang ...," pinta Rangga sambil mengetuk daun pintu berulang kali. Namun tidak ada balasan.
"Sayang, jangan marah! Aku benar-benar ngga' tau kalau dia hanya berpura-pura pingsan --"
CEKLEK
Netra Rangga berbinar disertai lengkungan di bibirnya saat Khanza membuka pintu kamar.
"Sayang, akhirnya kamu mau membuka pintu --"
"Jangan ke GR-an! Nih, bantal, guling, dan sarung kesayanganmu. Mulai malam ini, tidurlah di kamar sebelah! Jangan ngarep lagi tidur seranjang denganku!" ketusnya.
Seusai memberikan bantal, guling, dan sarung, Khanza kembali menutup daun pintu dengan kasar. Api cemburu dan kemarahannya masih meletup-letup. Hingga Khanza terlupa, bahwa ia juga telah menyulut api cemburu di hati Rangga karena perbincangannya dengan Keanu mengenai Albirru, pria yang pernah menjadi cinta pertamanya.
"Duchhh Za, seharusnya aku yang cemburu dan marah karena kamu membicarakan Birru. Kenapa malah sekarang jadi terbalik? Kamu yang marah dan cemburu ...." Rangga bermonolog lirih sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kaki terayun menuju ruang keluarga lantas ia merebahkan tubuhnya di sofa.
Rangga menatap langit-langit ruangan sembari memikirkan nasibnya nanti malam. Tidur sendiri tanpa memeluk tubuh sang kekasih hati ....
Senyuman terlukis di wajah Rangga saat ia menyadari bahwa kecemburuan dan kemarahan istrinya menyiratkan ... Saqueena Khanza Humaira benar-benar telah membalas cintanya.
"Za, aku teramat bahagia dan bersyukur ... karena kamu bisa marah dan cemburu. Itu tandanya, kamu benar-benar sudah membalas rasa cintaku."
"Trimakasih yaa Robb, karena Engkau telah menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hati wanita yang selama ini tersemat dalam setiap untaian do'a." Rangga kembali bermonolog.
...
Meski langit telah berubah kelam, Khanza tetap saja mengurung diri di dalam kamar, hingga ia melewatkan makan malam.
Segala cara telah Rangga lakukan untuk merayu sang istri agar mau membuka pintu dan makan malam bersama. Namun segala cara yang telah dilakukannya itu seolah sia-sia. Khanza tetap saja tidak mau membuka pintu.
Rangga terkesiap saat melihat Khanza berjalan menuju dapur. Ia pun beranjak dari posisi duduknya lalu segera menyusul istri comelnya itu.
__ADS_1
"Ya Allah, sakit banget." Khanza merintih sambil meremas perutnya yang terasa sangat sakit. Sesekali ia mengusap keningnya yang bermandikan keringat dingin.
"Za, kamu sakit?" tanyanya setelah ia berdiri di hadapan Khanza. Raut wajah pria tampan berambut gondrong itu menyiratkan kekhawatiran.
"Ngga'," jawabnya dengan ketus.
"Duuhhhh, kenapa semakin sakit?" Khanza mendaratkan tubuhnya di kursi. Ia sedikit membungkuk, menahan rasa sakit yang kian menjadi.
"Za, kita ke dokter ya! Aku sangat khawatir --"
"Ngga' usah lebay, Ngga! Ambilkan obat pereda sakit perut dan botol yang diisi air hangat!" titahnya sambil meringis kesakitan.
"Kamu sakit magh, Za?"
Khanza mengangguk samar.
Gegas, Rangga mengambilkan obat pereda sakit perut lalu menuangkan air hangat ke dalam botol kaca.
Tanpa meminta ijin pada Khanza, Rangga membopong tubuh wanita yang sangat dicintainya itu lantas membawanya ke kamar.
Dengan perlahan, Rangga merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Diminum dulu obatnya, Za!" titah Rangga sembari memasukkan obat ke dalam mulut istrinya.
"Tidurlah miring! Aku akan mengompres punggung dan perutmu!"
Dengan sangat telaten, Rangga mengompres punggung dan perut Khanza secara bergantian. Ia juga menyeka keringat dingin yang membasahi wajah istrinya.
"Bagaimana Za? Sudah mendingan?"
Lagi-lagi Khanza hanya menjawab dengan anggukan samar.
"Za, aku buatkan bubur teratai ya?"
"Heem," jawabnya singkat tanpa menatap lawan bicara.
Rangga mengulas senyum. Ia beranjak dari tepi ranjang kemudian mengayunkan kaki ke dapur.
...
Kurang dari 10 menit, Rangga kembali ke kamar dengan membawa bubur teratai untuk istrinya.
Ia mendudukkan tubuh di tepi ranjang lalu mulai menyuapi Khanza.
__ADS_1
"Dihabiskan bubur teratai nya, Za!"
"Heem."
"Za, maaf! Maaf karena kejadian siang tadi, aku membuatmu cemburu dan marah. Aku memang sangat bodoh. Mudah percaya dengan akting wanita jadi-jadian itu," tutur Rangga.
"Uhuk ... uhuk," Khanza tersedak kala mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa Za?"
Khanza menggeleng kepala. Tangannya terulur untuk meraih segelas air putih di atas nakas. Lalu meneguknya hingga tandas.
"Za ...."
"Ngga, apa sich maksudmu? Bagaimana bisa kamu menyebut wanita itu ... wanita jadi-jadian?"
Rangga menarik kedua sudut bibirnya dan menatap manik mata Khanza. Lantas ia pun menjawab pertanyaan yang terlisan dari bibir sang istri. "Za, tadi sore Mas Keanu menghubungiku via vidio call. Dia bilang, kamu ngga' mengangkat teleponnya. Aku memberitaunya bahwa kamu sedang ngambek. Mengunci kamar dan memintaku untuk tidur di kamar sebelah karena kejadian tadi siang yang ngga' mengenakkan." Rangga menjeda sejenak ucapannya.
"Terus --"
"Terus, aku kasih tau dech ... alasan ngambek mu. Awalnya, aku herman ... eh heran, karena Mas Kean malah tertawa .... Setelah Mas Kean memberitau bahwa wanita yang berpakaian minim dan rambutnya disemir warna coklat itu adalah seorang waria, aku pun ikut tertawa. Bahkan menertawakan kebodohanku sendiri. Kenapa nggak menyadari ... ada biji salak di lehernya --"
"Pfffttttt ... hhhahahaa." Khanza tergelak. Ia benar-benar tidak menyangka, wanita yang dicemburuinnya ternyata seorang waria, se-aliran dengan Tante Miranda alias Maradona.
"Ya Allah, Za. Aku seneng banget lho, melihatmu tertawa," ucapnya disertai seutas senyum dan tatapan intens.
"Jadi, kamu nggak marah lagi 'kan?"
Khanza menghentikan tawanya. Lantas menjawab pertanyaan yang terlisan. "Aku ngga' akan marah lagi asal kamu berjanji, ngga' akan tergoda ataupun menyentuh wanita selain aku. Aku percaya sepenuhnya padamu. Jadi, jangan pernah mengkhianati kepercayaanku, Ngga!"
"Aku janji, Za. Meski di dalam tubuhku mengalir darah seorang casanova, tetapi kesetiaan bunda menurun pada putranya ini. Hanya kamu wanita yang aku cinta selamanya."
Rangga meraih tubuh Khanza kemudian membawanya ke dalam pelukan. Dengan penuh rasa cinta, ia mencium lama pucuk kepala sang bidadari hati.
"Aku sangat mencintaimu Khanza istriku ...."
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Klik ❤ untuk fav karya
__ADS_1
Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya author 😉
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘