Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Kedatangan Alif


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Abang maunya sarapan ini ... ini ... dan ini." Dylan menunjuk bagian-bagian tubuh Dara yang menjadikannya candu.


"Tapi, Bang ... eumpp." Tanpa aba-aba, Dylan menarik tengkuk Dara dan membungkam bibir ranum istrinya itu ....


Detik berikutnya, Dylan melanjutkan aksinya. Menjelajah harta yang telah halal disentuh dan dinikmatinya ....


....


Sebelum berkunjung ke rumah ayah dan bundanya, Khanza terlebih dahulu memeriksa kandungannya di Rumah Sakit ICPA. Ia ditemani oleh sang suami, Rangga Adithya Fairuz.


Rangga dengan setia mendampingi Khanza yang tengah diperiksa oleh Aisyah, salah satu dokter obgyn yang mengabdikan diri bekerja di rumah sakit tersebut.


Salah seorang perawat yang membantu Aisyah, mulai mengukur berat badan serta tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Selanjutnya, Aisyah melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kandungan.


Aisyah meminta Khanza untuk berbaring di ranjang pasien. Kemudian ia mengolesi perut pasien sekaligus sahabatnya itu dengan gel, sebelum mulai melakukan USG untuk mengetahui posisi dan jenis kelamin janin di dalam kandungan.


"Nah ... coba kalian lihat! Ini letak janin yang berada di dalam kandungan. Rupanya, janin yang dikandung oleh Khanza ... kembar, Ngga." Aisyah menunjukkan apa yang ia maksud di layar monitor.


Seketika netra Rangga dan Khanza nampak berbinar. Senyum manis pun terbit menghiasi wajah mereka.


Keduanya teramat bahagia dan bersyukur atas anugerah terindah yang selalu dinantikan oleh setiap pasangan suami istri, kehadiran malaikat kecil. Bukan hanya satu. Namun dua sekaligus.


Rangga sungguh tidak menduga, mimpinya menjadi nyata. Buah hati yang berada di dalam rahim istrinya ternyata kembar.


"Malaikat kecil kita Sayang," ucap Rangga sembari mengecup kening Khanza dengan penuh cinta.


"Iya Mas. Alhamdulillah, ternyata mimpi Mas Rangga menjadi kenyataan. Allah menghadirkan dua malaikat kecil untuk kita."


"Selamat ya, Za." Aisyah memberi ucapan selamat dan memeluk tubuh sahabatnya.


"Trimakasih, Sya." Khanza membalas pelukan Aisyah. Kedua dokter cantik itu menitikkan air mata, sebagai luapan rasa bahagia.


Perlahan, keduanya melerai pelukan dan mengusap wajah yang telah basah dengan jemari tangan.


"Dijaga kandunganmu dengan baik, Za! Jangan terlalu kelelahan dan makan-makanan yang bergizi ya Bu Dokter comel!" pesan Aisyah disertai senyumannya yang merekah.


Khanza menarik kedua sudut bibirnya, hingga membentuk lengkungan yang menyerupai bulan sabit. Lantas ia pun membalas ucapan sahabatnya. "Iya, Sya. Trimakasih, Bu Dokter cangtip."


"Masama Bu Dokter Khanza," sahutnya tanpa memudar senyum.


"Ngga, sebagai seorang suami ... kamu harus siaga. Maksudku, siap antar jaga. Beri istrimu motivasi selama masa kehamilannya! Hindari pikiran yang membuat istri comelmu ini stres!"

__ADS_1


"Siap Sya. Aku berjanji, akan menjadi seorang suami yang siaga. Aku pastikan, untuk selalu memotivasi istriku serta melakukan semua yang terbaik untuknya dan buah hati kami."


"Aku pegang janjimu, Ngga. Jika sekali saja kamu lalai menjalankan tugasmu sebagai seorang suami, aku sebagai sahabat Khanza ... bakal memberimu pelajaran," ujar Aisyah dengan suaranya yang terdengar tegas. Ancaman yang terlontar dari bibirnya, semata-mata karena rasa peduli dan rasa sayangnya terhadap Khanza.


Khanza terharu mendengar ucapan sahabatnya. Di dalam benak ia melantunkan kalimat syukur, karena memiliki sahabat yang sangat peduli dan sayang padanya, meski mereka belum lama saling mengenal.


"Aku siap diberi pelajaran atau hukuman jika lalai menjalankan tugasku sebagai seorang suami, Dokter Aisyah --" ucap Rangga tanpa ragu.


"Oya, aku hampir lupa memberitahu kalian."


"Memberitahu kami tentang apa, Sya?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza diikuti kernyitan dahi.


"Calon bayi kalian berjenis kelamin ... laki-laki dan perempuan."


"Masya Allah," ucap Rangga dan Khanza kompak.


"Sya, bagaimana caranya supaya tau, jika janin yang dikandung oleh istriku, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan?" tanya yang terlisan karena dipenuhi rasa ingin tahu.


Aisyah tersenyum lantas menjelaskan cara mengetahui jenis kelamin janin yang masih berada di dalam kandungan.


"Coba kamu lihat ini, Ngga! Ini biasa disebut tanda β€˜hamburger’.Β Tanda hamburger adalah istilah yang diberikan untuk labia dan klito-ris pada janin perempuan. Jika diperhatikan dengan seksama, kamu akan melihat bahwa bibir labia dan klito-ris memiliki bentuk yang menyerupai roti hamburger," tutur Aisyah. Dokter muda itu menunjuk tanda yang ia maksud.


"Setiap jenis kelamin memiliki tanda sagital. Tanda sagital didapat dengan melihat profil janin, yang dikenal sebagai bidang sagital garis tengah. Terdapat inti di ujung tulang belakang yang disebut takik ekor. Jika mengarah ke bawah dengan sudut 10 derajat, maka janin berjenis kelamin tersebut adalah perempuan." Aisyah menjeda sejenak ucapannya. Kemudian ia menunjuk janin laki-laki yang terlihat pada monitor.


"Dan ... lihatlah ini, Ngga! Janin yang ini menunjukkan takik ekornya mengarah ke atas pada sudut lebih dari 30 derajat. Urine-nya juga mengalir ke atas. Menunjukkan, bahwa janin tersebut berjenis kelamin laki-laki," sambungnya.


"Maha Besar Allah. Entah bagaimana lagi, aku mengungkapkan rasa syukurku atas anugerah yang diberikan oleh Allah pada kita, Yang." Suara Rangga terdengar bergetar karena luapan rasa bahagia.


Rangga meluruhkan tubuhnya lantas bersujud dan melantunkan kalimah syukur kepada Illahi Robbi sebagai ungkapan rasa syukurnya.


...


Pasir waktu seakan berjalan begitu cepat. Hingga tanpa terasa, senja telah menyapa.


Di bangku taman yang berada di belakang rumah, terlihat dua paruh baya sedang duduk santai sembari menikmati kesegaran wedang jahe sere dan beberapa camilan tradisional. Mereka, Abimana dan Kirana. Kedua insan yang tak lagi muda itu bercengkrama di bawah naungan langit yang tertoreh warna jingga.


Abimana merangkul pundak Istri comelnya, Ayunda Kirana. Sedangkan Kirana, ia merebahkan kepalanya di bahu suaminya itu. Keduanya terlihat mesra, meski sudah berusia lebih dari separuh abad.


Pandangan netra mereka tertuju pada satu titik. Maha karya sang pencipta yang begitu indah ... lembayung senja.


"Assalamu'alaikum, Ayah, Bunda." Terdengar ucapan salam yang sukses mengalihkan atensi Abimana dan Kirana. Seketika, kedua paruh baya itu merotasikan kepala ke arah sumber suara.


"Alif?" Abimana dan Kirana kompak menyebut nama putra angkat mereka, Alif.


Kedua paruh baya itu bangkit dari posisi duduk lalu meraih tubuh kecil Alif dan membawanya ke dalam pelukan. Seketika, Alif mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Abimana dan Kirana.

__ADS_1


Ketiganya saling berpeluk, meluapkan rasa rindu.


"Ayah, Bunda, Alif kangennnnnn banget."


"Ayah dan Bunda juga kangeeennnn banget, Lif." Kirana membalas ucapan putra angkatnya sembari mengeratkan pelukan.


"Tapi, Alif lebih kangen dengan Chayra. Ayunda Chayra Putri."


Kalimat yang terucap dari bibir Alif, memudarkan suasana haru yang sempat tercipta. Perlahan, ketiga insan yang saling berpeluk itu ... melerai pelukan mereka.


"Kenapa, Alif lebih kangen dengan Chayra, hmmm?" Abimana menjapit hidung Alif, gemas.


"Karena Chayra sangat cantik, Yah." Alif menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Abimana dengan polos.


"Cantik mana sama bunda?" sahut Kirana sambil memasang wajah puppy eyes.


"Lebih cantik Bunda, tapi sayang ... Bunda sudah tidak muda."


Abimana dan Kirana tergelak saat mendengar jawaban Alif. Keduanya semakin dibuat gemas dengan kepolosan putra angkat mereka.


"Lif, siapa yang membawamu ke rumah ini? Di mana kakek dan nenek?" tanya yang terlisan dari bibir Abimana. Ia heran, kenapa tiba-tiba Alif bisa datang sendiri. Mustahil 'kan jika putra angkatnya itu seperti Jaelani. Ehem, ralat ... Jaelangkung. Yang datang tak dijemput, pulang tak diantar.


Alif menerbitkan seutas senyum. Bukannya memberi jawaban, bocah kecil itu malah balik bertanya.


"Ayah mau tau banget atau mau tau bingitz?"


"Mau tau banget, Lif."


"Hmmm, baiklah. Yuk, Ayah dan Bunda ikut Alif! Nanti, Ayah dan Bunda akan tau ... siapa yang membawa Alif ke rumah ini. Tapi, sebelumnya ... Ayah dan Bunda harus menutup mata dengan kain ini!" Alif mengeluarkan dua lembar kain dari saku celananya. Lalu menyerahkan kedua lembar kain itu pada Abimana dan Kirana.


"Kenapa, Ayah dan Bunda harus menutup mata, Lif?" tanya Kirana heran.


"Ada dech. Nanti Ayah dan Bunda pasti akan tau jawabannya."


"...."


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Mon maaf jika bertebaran typo πŸ˜‰πŸ™


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like πŸ‘


Tekan ❀ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya πŸ˜‰


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❀


__ADS_2