Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Sehidup Sesurga


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Bi ...." Kirana menghambur ke pelukan Abimana yang duduk bersebelahan dengannya. Ia menangis tergugu hingga membuat suaminya itu merasa cemas.


"Ada apa Bund? Mengapa, Bunda menangis tergugu?" Abimana membalas pelukan Kirana dan mengusap lembut punggung istri comelnya itu seraya memberi rasa tenang.


"Yah, jangan tinggalin bunda ya! Pokoknya, Ayah tidak boleh mendahului bunda!" pinta Kirana mengiba.


"Maksud Bunda apa sih? Ayah kog nggak ngerti ya." Abimana mengerutkan dahi. Ia benar-benar tidak faham dengan ucapan istrinya.


Bukannya menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Abimana, wanita paruh baya itu malah kembali menangis dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Yah, jangan tinggalin bunda! Lebih baik, bunda yang terlebih dahulu tiada, karena bunda benar-benar tidak sanggup jika kehilangan Ayah," lirih Kirana.


"Bunda bicara apa sih? Hidup dan mati itu sudah tertulis di dalam kitab Lauhul Mahfudz. Jadi, kita tidak bisa meminta atau pun menghindar dari ketetapan-Nya," tutur Abimana bijak.


"Tapi Yah --"


"Sstttt, sudah ya Bund. Jangan membahas sesuatu yang membuat Bunda bersedih! Lebih baik, kita membaur dengan yang lain. Bukan malah duduk di pojokkan seperti ini. Nanti kalau ada syaiton lewat, bagaimana? Bisa-bisa ayah menginginkan itu lagi seperti semalam," canda Abimana yang sukses melukis semburat merah di pipi Kirana.


Kirana merenggang pelukan lantas memukul pelan dada bidang suaminya.


"Isssshhh, apaan sih Yah."


"Ehemmm, Bunda jelek lho kalau nangis." Abimana menoel hidung mancung Kirana lalu menyeka jejak air mata yang membasahi wajah cantik sang belahan jiwa.


"Jangan nangis lagi ya Istri Comel Pilihan Abi!"


"Tapi Ayah harus janji, jika kelak waktunya tiba, Ayah harus mengajak bunda untuk turut serta. Bunda ingin sehidup sesurga bersama Ayah," ucap Kirana sembari menatap lekat manik mata yang selalu meneduhkan.


"Jika Allah menghendaki, maka kita akan sehidup sesurga, Bund. Yang terpenting saat ini, kita lanjutkan kehidupan dengan penuh rasa syukur. Bukankah, Allah telah mencurahkan kebahagiaan yang tiada terkira setelah ujian datang menyapa silih berganti? Ayah teramat bersyukur memiliki seorang istri comel yang berhati mulia. Ayah juga teramat bersyukur, di usia kita yang tak lagi muda, rasa cinta kita tak pernah memudar, malah kian bertambah meski pernikahan kita tidak berawal dari kisah cinta sepasang kekasih yang tertulis dengan indah," tutur Abimana sembari membalas tatapan sang bidadari hati, Ayunda Kirana ... Istri Comel Pilihan Abi.


Atensi kedua paruh baya itu teralihkan saat terdengar suara Chayra dan Alif memanggil mereka.

__ADS_1


"Opa, Oma ...."


"Ayah, Bunda ...."


Abimana dan Kirana seketika beranjak dari posisi duduk kemudian menyambut cucu serta putra angkat mereka dengan rentangan tangan.


....


Sebelum menginjak acara penutup, Dylan dan Dara membagi bingkisan dan sejumlah uang kepada semua anak yatim piatu yang hadir di acara tersebut. Keduanya juga membagi tas kain kepada para tetangga. Tas kain yang mereka bagi berisi beras, telur, kentang, dan minyak goreng sebab minyak goreng (katanya) sudah tidak langka.


Di penghujung acara, Fadhil menengadahkan kedua telapak tangan seraya memanjatkan pinta untuk baby Dirgantara dan baby Diandra agar kedua bayi itu kelak tumbuh menjadi anak yang saleh serta saleha. Seluruh hadirin meng-aamiini, tak terkecuali sepasang suami istri yang tengah berbahagia, Dylan dan Dara.


....


Seusai menghadiri acara yang dilaksanakan oleh Dylan, Rangga dan Khanza pulang ke istana mereka. Istana yang dibangun dengan pengorbanan, perjuangan, dan besarnya rasa cinta ... Rangga Aditya Fairuz kepada Saqueena Khanza Humaira.


Setelah membersihkan badan, Rangga membawa kedua buah hatinya ke taman belakang. Sedangkan Khanza, ia berniat memasak camilan kesukaan suami tercinta, onion ring dan terong crispy.


"Mam-ma, baba." Rangga merengut kala mendengar ocehan kedua buah hatinya. Baik baby Azzam maupun baby Humaira, keduanya belum bisa mengucap kata 'papa' apalagi 'papi'.


"Pi, sabar donk! Baby Azzam dan baby Humaira 'kan masih berusia enam bulan. Jadi wajar jika mereka belum bisa mengucap banyak kata. Bahkan, mereka juga belum bisa mengucap kata 'mommy'," sahut Khanza sambil mendaratkan bobot tubuhnya di bangku taman, bersebelahan dengan Rangga. Ia letakkan sepiring onion ring dan terong crispy di atas meja.


"Papi sudah sangat sabar lho Mi. Bahkan saking sabarnya, papi rela menunggu selama enam purnama untuk mendengar baby Azzam dan baby Humaira memanggil papi."


Khanza tergelak lirih. Ucapan Rangga yang terkesan hiperbola sukses menggelitik indra pendengarannya.


"Papi, enam purnama itu kurang lama lho. Jadi, Papi harus lebih bersabar," ujar Khanza sambil memasukkan terong crispy ke mulut suaminya.


"Hmmm, demi Mommy dan kedua buah hati, papi akan berusaha untuk lebih bersabar."


"Nah gitu donk, Pi."


"Cium dulu donk, Mi!" pinta Rangga sembari menyodorkan pipinya.


Seolah mengerti sang papi sedang melancarkan aksi modus, baby Azzam dan baby Humaira berulah untuk menarik atensi kedua orang tua mereka. Kedua baby cerdas itu saling berebut mainan dan pada akhirnya ... mereka kompak menangis.

__ADS_1


"Pi, gara-gara Papi, si kembar nangis 'kan," tukas Khanza. Diulurkannya kedua tangan untuk merengkuh tubuh si kembar. Gegas ia membuka kancing baju untuk memberikan asi agar kedua buah hatinya itu berhenti menangis.


"Senengnya menjadi dua krucil," gumam Rangga sambil melirik kedua bayi yang tengah asik meminum asi.


"Kog bisa, Pi?"


"Bisalah. Setiap menangis, pasti mendapat jatah asi. Coba papi yang nangis, bukannya dikasih jatah asi tapi malah dihadiahi cubitan."


"Isshhh, apaan sih Pi. Jangan o-mes ih! Takutnya didengar baby Azzam dan baby Humaira lho," cebik Khanza. Ingin rasanya ia menghadiahi Rangga dengan cubitan sayang. Namun apa daya? Sebab kedua lengannya ia gunakan untuk menumpu tubuh dua malaikat kecil, buah perjuangannya bersama sang suami yang selalu rajin membuat adonan. Bukan hanya setiap malam. Namun setiap waktu jika ada kesempatan. Terkecuali ketika mereka sedang LDR. Bagi kaum LDR, jangan tersungging ya 🙊✌


Rangga tergelak lirih. "O-mes nggak pa-pa, Mi. Lagian baby Azzam dan baby Humaira 'kan masih bayi. Jadi, mereka nggak akan faham dengan apapun yang kita bicarakan."


Seketika baby Azzam dan baby Humaira melepas pu-ting Khanza. Keduanya menangis dan mengulurkan tangan ke arah Rangga seraya meminta dipangku oleh sang papi.


Dengan senang hati, Rangga meraih uluran tangan baby Azzam dan baby Humaira. Tanpa menaruh rasa curiga, ia pun memangku kedua buah hatinya itu.


"Oh no ...." Rangga memekik kala celananya dipenuhi munta-han si kembar.


Rasain Pi, makanya jangan mengira kami tak faham maksud ucapan Papi. 🙄


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah bisa double UP. 🥰


Maaf jika bertebaran typo 😉


Jangan lupa meninggalkan jejak like 👍


Beri rate 5 ⭐


Klik ❤ untuk favoritkan karya


Beri dukungan author dengan memberi gift atau vote seikhlasnya (geratis kog) 😉

__ADS_1


Trimakasih dan lope lope sekebon 💗💗💗


__ADS_2