
Happy reading 😘😘😘
Khanza mematut dirinya di depan cermin. Sesekali bibirnya melengkung saat menyadari betapa cantik parasnya. Perpaduan wajah sang ayah dan bundanya, Abimana Surya Saputra dan Ayunda Kirana.
"Masya Allah, cantiknya putri ayah Abi dan bunda Kiran. Maha sempurna Allah yang telah menciptakan hamba-Nya ini," Khanza bermonolog tanpa memudar senyumnya. Lantas ia pun melangitkan pinta agar Illahi memperbaiki akhlaknya yang masih jauh dari akhlak seorang wanita saleha.
"Ya Allah sebagaimana Engkau telah menciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku."
Rangga yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, tersenyum simpul ketika pandangan netranya tertuju pada Khanza yang tengah mematut diri di depan cermin. Tanpa berpakaian terlebih dahulu, pria berambut gondrong itu berjalan menghampiri istrinya.
"Ekhem, kog senyam-senyum sendiri Za? Lagi ngelamunin aku lagi ya?" Rangga melisankan tanya sembari memeluk Khanza dari belakang. Seketika Khanza terkesiap saat tangan kekar Rangga tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
"Si-siapa yang lagi melamun, Ngga?" Khanza berusaha menahan debaran di dalam dada ketika melihat pantulan wajah suaminya di cermin. Rangga terlihat semakin tampan dengan rambutnya yang masih basah dan tubuh atletis yang hanya berbalut handuk di bagian bawah pusar.
"Loh kog malah nanya, Za. Ya kamu-lah. Senyam-senyum sendiri di depan cermin. Sudah bisa dipastikan, lagi ngapain kalau nggak lagi ngelamun, ya 'kan?" balasnya sambil mempererat pelukan dan mendaratkan kecupan di pipi yang sukses membuat tubuh Khanza meremang.
"A-aku baru mematut diri di depan cermin Ngga," jawabnya dengan terbata. Khanza berusaha menahan gejolak rasa yang timbul karena ulah suaminya.
"Oya? Pasti kamu sedang beralibi 'kan, Za?"
"Si-siapa juga yang sedang beralibi?"
"Kamu."
Khanza menghela nafas dalam lantas membalas ucapan suaminya. "Ngga, aku benar-benar sedang mematut diri di depan cermin. Lihatlah, betapa cantiknya wajahku! Kamu harus bersyukur Ngga, karena memiliki seorang istri yang cantik bak bidadari." Khanza membalas ucapan Rangga dengan meniru ke-narsisan suaminya itu.
"Aku selalu bersyukur, Za. Saking bersyukurnya, aku ingin selalu menjaga dan melindungimu. Aku juga ingin selalu mencurahimu dengan kasih sayang dan cinta," sahutnya. Rangga sedikit merenggang pelukan lantas memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan.
"Za, aku mencintaimu bukan hanya untuk saat ini. Namun, dari awal kita bertemu hingga nanti di alam keabadian. I will always love you, Saqueena Khanza Humaira," ucap Rangga sepenuh hati. Ia tatap netra istrinya yang sangat indah dan terhias binar cinta.
__ADS_1
Jantung Khanza berdentum-dentum. Debaran di dalam dadanya semakin menjadi. Lidahnya pun serasa kelu untuk sekedar membalas kata-kata cinta yang terucap dari bibir Rangga.
CUP
Rangga melabuhkan bibirnya. Kedua bibir yang bertemu saling berpagut. Menyesap madu yang terasa manis dan menjadi candu bagi kedua anak Adam.
"Ngga, I will always love you too." Khanza membalas ucapan Rangga setelah keduanya mengakhiri pagutan bibir.
"Trimakasih sayang," ucap Rangga disertai senyum khas yang menawan, hingga membuat dokter jutek yang dinikahinya itu semakin terpesona.
"Heem Ngga." Khanza membalas ucapan Rangga dengan sedikit menundukkan wajahnya yang terhias rona merah.
"Rangga ...."
"Ya sayang?"
"Segera tutupi roti sobekmu itu! Sudah jam sepuluh. Aku harus segera berangkat ke rumah sakit. Tadi bunda Nabila menelepon ku. Beliau bilang, hari ini ada beberapa pasien yang akan melahirkan. Beliau sangat membutuhkan bantuanku, Ngga."
"Okey, aku akan menunggumu di bawah. Jangan lama-lama ya Hubby!" pinta Khanza dengan memasang wajah puppy eyes dan suaranya yang terdengar manjah.
"Za, kamu menggoda ku ya?"
Dahi Khanza mengernyit. Ia tidak faham dengan maksud ucapan suaminya.
"Menggoda? Maksudmu apa sich Ngga? Aku nggak ngelakuin apa-apa lho."
"Wajahmu itu lho Za, sangat menggemaskan. Aku 'kan jadi tergoda ingin --" Rangga menggantung ucapannya.
"Ingin apa?"
__ADS_1
CUP
Rangga mencuri kecupan di bibir ranum istrinya.
"Hissssh, dasar suami o-mes," omel Khanza sambil berlalu dari hadapan Rangga.
.....
Sinar sang surya mengiringi perjalanan sepasang kekasih menuju Rumah Sakit ICPA (Istri Comel Pilihan Abi). Selama perjalanan menuju rumah sakit tersebut, keduanya berbincang dan bercanda.
Khanza melingkarkan tangannya di pinggang suami yang kini dicinta. Sedangkan Rangga, pria berambut gondrong itu tetap fokus mengemudi kuda besi kesayangan meski sesekali satu tangannya menggenggam tangan sang kekasih hati.
Tiba-tiba Rangga menghentikan laju kuda besinya saat mendapati seorang pria yang terlihat sangat panik. Tanpa berpikir panjang, ia menepikan kuda besinya lalu beranjak dari posisi duduk. Ia pun segera menghampiri pria itu. Khanza yang merasa penasaran pun mengikuti suaminya dari belakang.
"Ada apa Pak? Kenapa Bapak terlihat sangat panik?"
"Istri saya akan segera melahirkan Mas. Ketubannya sudah pecah. Saya tidak tau harus bagaimana? Mau melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tapi tangan dan kaki saya gemetar saat menyaksikan istri saya kesakitan dan air ketubannya keluar semakin banyak," jawab pria itu dengan bibir gemetar. Netranya berkaca-kaca. Ia sungguh tidak tega melihat penderitaan sang istri, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain melangitkan pinta ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Beri semangat author dengan selalu meninggalkan jejak like 👍
Tinggalkan komentar
Klik love ❤ untuk fav karya
Beri gift berupa poin, koin, atau vote jika berkenan mendukung karya author
__ADS_1
Boleh juga share di sosmed kakak-kakak terlove jika kisah Khanza ini menginspirasi ☺
Trimakasih dan banyak cinta....❤😘