
Happy reading 😘😘😘
Warning ada adegan +21 🙄
Khanza terpana melihat wajah Adithya ketika pria itu melantunkan lagu untuknya. Terbesit tanya di dalam hati saat pandangan netranya menatap manik mata pria berkumis dan berjenggot lebat itu. Ia merasa sorot netra Adithya sangat mirip dengan Rangga. Namun Khanza segera menepis sebab takut jika saat ini ia tengah berhalusinasi ....
Suara tepuk tangan meriah mengiringi berakhirnya lagu yang dinyanyikan oleh Adithya. Pria berambut gondrong itu meraih tubuh Khanza lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya.
"Sayang, I will always love you," ucapnya dengan menatap sepasang manik mata Khanza. Kedua netra Adithya memancarkan binar bahagia dan cinta yang mendalam.
Khanza bergeming. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar membalas ucapan suaminya. Andai kata-kata cinta itu terlisan dari bibir pria yang ia cinta, mungkin tidak akan sulit bagi Khanza untuk membalasnya.
"So sweetttttt," teriakan para pengunjung pantai ketika menyaksikan adegan romantis yang tersuguh di hadapan mereka. Khanza merasa malu kala menyadari perlakuan romantis Adithya menjadi pusat perhatian para pengunjung pantai.
"Maaf, Mas, Mbak, jagung bakar dan wedang rondenya sudah siap dinikmati." Penjual jagung bakar meletakkan pesanan Adithya di atas meja sambil tersenyum ramah.
"Oh, ya Pak. Trimakasih."
"Sami-sami Mas."
Adithya meletakkan gitar kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih jagung bakar yang telah tersaji di atas meja.
"Za, dimakan dulu jagung bakarnya!"
"Iya, Dith."
"Mau aku suapin?"
"Nggak, Dhit. Aku bisa makan sendiri --"
"Beneran nggak mau disuapin?"
"Heem."
"Za ...."
"Apa?"
"Malam ini kita menginap di resort ya."
"Menginap di resort? Untuk apa?"
"Untuk berbulan madu." Adithya menjawab pertanyaan yang terlisan dengan berbisik.
Khanza meremang mendengar kata-kata yang dibisikan oleh suaminya. "Tapi Dith --"
"Dosa lho kalau terus-terusan menolak suamimu."
Bibir Khanza terbungkam. Ia tau ucapan Adithya sangatlah benar. Jika seorang istri menolak untuk melayani suaminya, maka malaikat pun akan melaknat. Terngiang olehnya kata-kata yang pernah diucapkan oleh sang bunda sebelum ia dan Adithya berangkat ke desa W.
"Za, Nabi bersabda ... jika seorang suami memanggil istrinya untuk tidur di tempat peraduannya kemudian dia menolak untuk datang hingga suaminya itu marah terhadap istrinya semalam suntuk maka malaikat akan melaknatinya hingga pagi."
__ADS_1
"Za, kog malah melamun?"
"A-aku --"
Adithya tersenyum simpul lantas mengusap jilbab istrinya dan berkata, "aku tau, kamu belum siap Za. Tadi aku hanya bercanda. Jangan terlalu dipikirkan!"
"Iya Dith."
"Setelah menghabiskan wedang ronde dan jagung bakarnya ... kita langsung pulang, Za. Pasti kamu sangat capek 'kan setelah seharian bekerja?"
"Aku nggak capek Dith. Kita menginap di resort saja malam ini --"
Adithya terkesiap kala mendengar ucapan istrinya. Ia tidak menyangka, Khanza bersedia menginap di resort.
"Tapi, aku nggak bawa pakaian ganti Dith."
"Kita bisa membeli pakaian di kios yang berjajar di dekat parkiran, Za."
Setelah membayar jagung bakar dan wedang ronde, sepasang suami istri itu berjalan menuju kios pakaian. Mereka membeli beberapa stel pakaian.
Adithya memilih kaos khas pantai dan celana pendek. Sedangkan Khanza memilih baju tidur yang terbuat dari bahan satin serta pakaian dalam.
Adithya memilih resort yang letaknya tidak jauh dari pantai. Resort tempat Adithya dan Khanza menginap memiliki fasilitas kamar-kamar yang didesain menghadap langsung ke luasnya pantai.
Usai membersihkan badan, keduanya menjalankan ibadah sholat isya dan sholat sunah dua rokaat.
Khanza beranjak dari sajadah lantas ia melepas mukena yang membalut tubuhnya.
"Dith, insya Allah ... aku sudah siap --" ucap Khanza dengan bibir gemetar diikuti degup jantung yang terdengar bertalu-talu.
"Siap untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri." Khanza tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Meski belum ada rasa cinta dan geli setiap melihat kumis Adithya yang sangat lebat, Khanza sadar akan kewajibannya sebagai seorang istri. Salah satunya, melayani suami di atas ranjang.
Adithya tergelak. Ia mengira, Khanza hanya sedang bercanda.
Khanza menengadahkan kepala dan memasang raut wajah kesal. "Heh Pak Raden, kenapa malah menertawakanku? Memangnya ada yang lucu?"
"Nggak. Sama sekali nggak ada yang lucu. Hatiku berdaun-daun Za, jika ucapanmu itu bukanlah candaan --"
"Aku nggak bercanda, Dith. Aku --"
"Beneran kamu nggak bercanda, Za?"
GREPP
Adithya meraih pinggang sang istri dan menatap wajah cantik wanita yang sangat dicintainya itu dengan tatapan penuh damba.
"A-aku --".
CUP
Adithya melabuhkan bibirnya. Ia sesap bibir ranum yang menjadi candu.
__ADS_1
Khanza tidak kuasa menolak. Ia mengijinkan Adithya untuk menikmati apa yang telah menjadi hak nya sebagai seorang suami.
Setelah puas menikmati bibir ranum istrinya, Adithya menuntun Khanza menuju ranjang.
Perlahan, pria berkumis dan berjenggot lebat itu merebahkan tubuh kekasih halalnya di atas ranjang.
Jantung Khanza semakin berdegup kencang saat Adithya menyapu bibir ranumnya dengan jemari tangan. Terbayang olehnya apa yang akan terjadi selanjutnya ....
Adithya mencium pucuk kepala Khanza dengan penuh perasaan. Kemudian ia membaca doa sebelum bersenggama.
"Za, bolehkah aku memilikimu seutuhnya?"
"I-iya, Dith."
Senyum terbit menghiasi wajah Adithya. Lantas ia melepas satu persatu kain yang membalut tubuh wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya.
Adithya menelan saliva tatkala terpampang harta terindah yang selama ini dijaga oleh istrinya, Saqueena Khanza Humaira.
Secara naluri, Adithya menjamah dan menikmati keindahan yang tersuguh di hadapannya. Khanza menggeliat karena merasakan sensasi geli saat kumis Pak Raden menyentuh tubuhnya.
Meski sulit untuk memasuki kawah surga dunia yang masih tersegel, Adithya pantang menyerah. Dengan penuh kelembutan ia berusaha menyatukan raganya dengan raga sang kekasih.
"Argghhhh ...." Suara teriakan Khanza menyertai benda tumpul yang berhasil membuka segel.
Adithya terus mendesak tubuh mungil istrinya hingga merasakan kenikmatan surga dunia.
Suara deburan ombak disertai gemerisik dedaunan, mengiringi senandung cinta yang terdengar sangat merdu.
"Adith ...." Khanza memekik saat tubuhnya serasa terbang ke nirwana.
Mangata menjadi saksi penyatuan raga kedua insan yang bernilai ibadah.
"Raga kita telah menyatu Za. Aku telah mengikatmu dengan erat --" ucap Adithya seraya berbisik.
CUP
Adithya mendaratkan kecupan di bibir ranum istrinya.
"Aku sangat mencintaimu, Saqueena Khanza Humaira."
Khanza tidak mampu berkata-kata, ia hanya membalas ucapan Adithya dengan senyuman setipis kertas disertai lelehan air bening yang membingkai wajah lelahnya.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Klik fav ❤
__ADS_1
Beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat untuk author agar tetap berkarya 😇
Trimakasih dan banyakkkk cinta ❤😘