
Happy reading 😘😘😘
"Ekhemm, kog senyam-senyum, Za? Lagi ngelamunin aku ya?"
Suara Rangga membuyarkan lamunan Khanza. Seketika dokter comel nan cantik itu menoleh dan mengulas senyum.
"Siapa juga yang lagi ngelamun? Aku tuch lagi menikmati keindahan ciptaan-Nya, hamparan bunga amarilis yang terlihat semakin cantik dan segar bila dibasahi air embun, Ngga --" elaknya.
"Seperti kamu, Za. Semakin cantik dan segar setelah aku basahi dengan air cinta," sahut Rangga sambil mendaratkan tubuhnya di sofa bersebelahan dengan Khanza.
Wajah Khanza merona. Terbayang olehnya ketika Rangga membasahi nya dengan air cinta.
"Issshhh, jangan bahas air cinta! Aku takut ada syaiton lewat, terus kamu meminta jatah pagi-pagi," ucapnya dengan mencebikkan bibir. Tentunya masih disertai rona merah di wajah.
Rangga tergelak mendengar ucapan Khanza. Ia usap surai hitam yang panjang tergerai lalu membalas ucapan istri comelnya itu, "Za, yang ada bukan syaiton lewat. Tapi malaikat yang mencatat ... kegiatan menyenangkan itu sebagai bentuk ibadah. Kita sudah halal Za. Mau menyatukan raga kapan pun diperbolehkan. Asal tetap tau adab, waktu, dan tempat."
Khanza tersenyum nyengir. Ia membenarkan kata-kata yang diucapkan oleh suaminya.
"Nih, dimakan dulu bubur teratai nya! Aku suapin ya?"
"Heem, Ngga."
Rangga mengulas senyum. Ia mulai menyuapi istri yang teramat dicintainya.
"Ngga, kog kamu tau ... bubur teratai bagus untuk orang yang lagi sakit magh?"
"Tau lah. Dulu, aku juga sering sakit magh karena terlalu bersemangat mengejar poin, Za. Jadi sering banget telat makan. Sebagai seorang driver ojek online, aku harus giat mengejar target supaya bisa menyisihkan uang setiap bulannya untuk membangun istana kita ini. Alhamdulillah, perjuanganku selama dua tahun nggak sia-sia. Aku bisa membangun istana ini dan mempersunting wanita yang selalu menjadi ratu di hati. Wanita itu kamu Za." Rangga mengusap pipi Khanza dengan jari dan menatap lekat wajah cantik yang telah membuatnya tidak bisa berpaling pada wanita lain.
Keharuan menyentuh relung rasa kala Khanza mendengar ucapan Rangga. Netranya berkaca-kaca dan bunga-bunga cinta yang tumbuh di dalam hati semakin bermekaran.
"Ngga, sebesar itu 'kah perjuanganmu untuk ku?"
"Iya Za. Bahkan mungkin lebih. Aku berjuang bukan hanya untukmu tetapi untuk kita, karena kamu lah masa depanku, Saqueena Khanza Humaira." Rangga mencium lama kening bidadari hatinya sebagai ungkapan rasa cinta yang begitu besar dan tulus dari dalam hati.
__ADS_1
"Ngga --"
Khanza melingkarkan tangannya di pinggang Rangga. Kepalanya bersandar di dada bidang pria yang selalu mencurahi kasih sayang dan cinta.
"Za ...."
"Hehem."
"Kamu tau nggak? Kenapa aku tanpa letih mengejar cinta seorang Saqueena Khanza Humaira?" Rangga melisankan tanya dan membalas pelukan Khanza.
"Aku nggak tau Ngga."
"Kamu ingin tau nggak alasannya?"
"Heem, aku ingin tau Ngga. Bingitzzz."
"Itu karena ... aku sangat menyayangi bundaku. Tugasku sebagai putra semata wayangnya menghadiahi beliau menantu yang mendekati kata sempurna. Yaitu kamu, Za. Kamu wanita yang sangat cantik dan tumbuh di keluarga yang memahami ilmu agama."
Kata-kata yang terucap dari bibir Rangga semakin meluluhkan hati Khanza. Entah dengan apa lagi ia mengungkap rasa syukur karena Illahi menjadikan Rangga sebagai imam.
Rangga merenggang pelukan. Ia angkat dagu wanita yang sangat dicintainya itu. "Za, salah satu tugas suami adalah membimbing istrinya. Jika kamu terlalu sempurna, bagaimana aku bisa menjalankan tugasku sebagai seorang suami, hmm?"
Wajah Khanza semakin merona. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar menjawab tanya yang dilisankan oleh Rangga.
"Za, Nun mati ketemu Jim disebut Ikhfa. Aku ketemu kamu disebut Cinta," ucap Rangga diikuti bibir yang melengkung dan binar penuh cinta.
"Haduhhhh meleleh hati adik Bang," teriak Khanza di dalam batin.
"Ngga, cinta kita adalah yang terbaik karena imanku semakin bertambah dan kebahagiaan selalu menyentuh. Kamu menjalankan tugas sebagai seorang imam dengan baik di dunia dan sangat tulus mencintaiku, karena itu ... aku ingin kembali bertemu denganmu di surga."
CUP
Khanza memberi kecupan singkat.
__ADS_1
"Za, trimakasih." Senyum Rangga merekah. Netranya berbinar. Ia teramat bahagia mendapat kecupan yang baru pertama kali diberikan oleh Khanza.
"Trimakasih?"
"Heem. Trimakasih karena kecupan pertama darimu membuat hatiku berdaun-daun."
Khanza tergelak lirih. "Kenapa cuma berdaun-daun, Ngga. Nggak berbatang-batang sekalian?"
Bukannya menjawab ucapan Khanza, Rangga malah membopong tubuh istrinya itu.
"Eitzzzz, mau ngapain Ngga?"
"Mau bercocok tanam, Za. Biar bukan hanya berdaun-daun, tetapi berbatang-batang, berakar-akar, berbuah-buah, dan berbunga-bunga."
"Issshhh, Rangga. Modus."
"Nggak ada larangan 'kan kalau yang dimodusin itu kamu, Za? Wanita yang halal aku tanami benih."
Ucapan Rangga membuat Khanza tertunduk malu. Terbayang apa yang akan terjadi selanjutnya. Penyatuan raga bernilai ibadah ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Masih manis-manisan ya Kakak. Belum ada konflik yang bikin sad 😁
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Klik ❤ untuk fav karya
Tinggalkan komentar penyemangat 😘
Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya author 😉
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘