Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Lanjut Yukkkk


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Dylan menghela nafas dalam, lalu membawa tubuhnya beranjak dari ranjang.


Sebenarnya, Dylan enggan membuka pintu kamar. Apalagi hanya untuk menemui wanita yang pernah menjadikannya pelampiasan cinta.


Entah, apa yang diinginkan oleh wanita itu. Sehingga ia nekat datang ke hotel serta menggagalkan malam pertama Dylan dan Dara yang seharusnya teramat indah ....


....


Dylan membuka daun pintu disertai hembusan nafas kasar. Ia sungguh merasa terganggu dengan kehadiran wanita yang sama sekali sudah tidak diharapkannya, Milea.


"Lan ...," lirih Milea sembari merengkuh tubuh Dylan lalu memeluknya posesif. Dengan sekuat tenaga, Dylan berusaha melepaskan diri dari pelukan wanita yang sudah tidak berarti baginya itu.


"Lea, jaga sikapmu! Ingat, aku dan kamu sudah memiliki pasangan! Kamu sudah menikah, dan aku pun sudah menikah," ujarnya tegas.


"Tapi Lan, aku tau ... kamu hanya mencintaiku. Akulah wanita yang selalu kamu harapkan, bukan dia," sahutnya tanpa menyudahi isak tangis.


Tangan terulur untuk kembali merengkuh tubuh Dylan, pria yang dahulu selalu meminjamkan bahunya sebagai sandaran.


"Pergilah, jangan pernah datang menemuiku lagi!" titah Dylan dengan meninggikan intonasi suara sembari menepis tangan Milea.


"Tapi Lan. Aku ingin kamu tau. Yang aku cintai bukan Jordan, tetapi kamu. Aku terpaksa menikah dengan Jordan karena kehendak papa. Papa melakukan pernikahan bisnis untuk memenuhi ambisinya --" Milea menangis tergugu hingga tubuhnya berguncang hebat. Ia berharap, Dylan akan merengkuh dan membawanya ke dalam pelukan. Namun, Milea harus menelan pahitnya rasa kecewa. Sebab, pria itu sama sekali tak acuh. Bahkan membiarkan tubuh Milea luruh ke lantai.


"Dulu, aku merasa bahwa wanita yang mampu membuatku jatuh cinta ... hanya kamu, Le. Sehingga aku ingin selalu menjagamu dan memberimu rasa nyaman. Bahkan, di setiap do'aku selalu tersemat namamu. Namun ternyata aku salah. Kini aku sadar, perasaan terhadapmu bukanlah rasa cinta yang sesungguhnya. Karena, aku nggak pernah merasakan getaran dan kenyamanan setiap berada di dekatmu. Aku mencintai wanita lain yang kini telah menjadi istriku, Dara Larasati."


Tangis Milea semakin menjadi kala mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Dylan. Meski terdengar datar. Namun bagai sebilah pisau yang mampu menggoreskan luka di ulu hati, meninggalkan jejak darah tak kasat mata.


"Lan, aku sungguh mencintaimu. A-aku menyesal karena terlambat menyadari perasaanku. Ternyata, pria yang aku inginkan hanya kamu. Bukan Jordan atau yang lain. Jordan sama sekali tidak berlaku lembut ketika meminta hak nya. Dia mengikat tangan dan kakiku sebelum menyatukan raga kami. Lan aku mohon, bantu aku untuk terlepas dari pria kejam itu ...," pinta Milea di sela-sela tangisnya.


Dylan bergeming. Ia dilema. Di satu sisi, Dylan enggan berurusan lagi dengan Milea. Namun di sisi lain, ia merasa iba dan tidak tega membiarkan wanita itu menderita karena perlakuan kasar Jordan.


"Lan, aku mohon. Aku rela mengabdi padamu dan menyerahkan seluruh hidupku hanya untukmu." Milea merengkuh kaki Dylan dan bersujud seraya meminta belas kasih.


"Maaf, aku tidak bisa Le. Ada seseorang yang lebih berkewajiban membantumu. Dia ... papamu sendiri. Kamu bisa berkeluh kesah padanya --"

__ADS_1


Hening


Tidak ada sahutan lagi dari Milea. Bahkan wanita itu menggigit bagian tepi bajunya untuk meredam suara tangis.


Dara mendengar semua percakapan Dylan dan Milea dari balik pintu. Senyumnya terbit kala mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Dylan. Datar tetapi tegas. Jelas sekali suaminya itu tidak memberikan celah pada Milea. Dara semakin yakin, Dylan bukanlah sosok pria yang plin plan. Dia memegang teguh janjinya ... tidak akan membiarkan orang ketiga, keempat, ataupun seterusnya masuk ke dalam rumah tangga mereka.


"Ehemmmm." Suara deheman Kirana mengusik keheningan yang sempat tercipta.


"Milea, apa yang dikatakan oleh putra tante sangatlah benar. Masih ada papamu yang lebih berkewajiban mengulurkan tangannya untuk membantumu. Jika papamu keberatan, bukankah masih ada mamamu? Mamamu seorang pengacara handal. Tante sangat yakin, mamamu pasti dengan senang hati membantu putrinya yang teramat malang," tutur Kirana bernada sindiran. Rupanya sedari tadi, Kirana sudah berdiri tidak jauh dari kamar yang ditempati oleh putranya dan sang menantu. Ia mendengar dan menyaksikan apa yang dilakukan oleh Milea untuk meluluhkan hati Dylan. Di dalam benak, Kirana bangga terhadap putranya. Namun ia juga merasa jengkel, sebab Dylan malah membuka pintu kamar dan meninggalkan Dara seorang diri hanya untuk meladeni Milea.


"Tapi Tante --"


"Lebih baik, pergilah sekarang juga! Jangan pernah lagi mengganggu putra dan menantu tante!" usirnya dengan penuh penekanan.


Milea terdiam. Ia tenggelam dalam kubang kesedihan yang teramat dalam. Milea sungguh tidak menyangka, mendapatkan penolakan dari dua orang yang dahulu selalu bersikap manis padanya, Dylan dan Kirana.


BRUGHH


Tubuh Milea luruh. Ia tak sadarkan diri. Spontan, Dylan ingin mengangkat wanita itu. Namun, Kirana mencegahnya. Ia tidak ingin sang putra kembali ber-empati pada Milea.


"Dylan, lebih baik ... kamu kembali masuk ke dalam kamar! Jangan mengkhawatirkan keadaan Milea. Bunda dan Ayah yang akan mengantar wanita itu pulang ke rumah kedua orang tuanya. Mulai sekarang, hempas rasa empatimu terhadap Milea! Bukannya bunda berlaku kejam. Tapi, bunda tidak ingin memberi celah kepada orang yang ingin merusak rumah tangga anak-anak bunda," tutur Kirana tegas.


"Baik, Bunda. Dylan tidak akan lagi ber-empati terhadap Milea. Karena sekarang, Dylan bertanggung jawab penuh pada Dara. Dylan tidak ingin mengkhianati kepercayaan Dara. Dylan juga tidak ingin menorehkan luka sedikit pun di hati wanita yang telah memasrahkan hidupnya untuk Dylan," sahutnya dengan penuh kesungguhan.


Kirana mengulas senyum. Ia menepuk pundak Dylan sebagai ungkapan rasa bangga seorang ibu terhadap sang putra.


"Lan, lanjutkan apa yang sudah kalian mulai!"


Ucapan Kirana sukses mencetak semburat merah di wajah putranya.


Dylan tersenyum nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Eh, mmm ... iya Bund. Dylan akan melanjutkannya!"


"Bagus. Dah sana, segera temui istrimu! Pasti dia sudah sangat kedinginan," bisiknya disertai senyuman lebar.

__ADS_1


Dylan menuruti kata-kata yang dilisankan oleh sang bunda. Gegas, ia memutar tumit lalu kembali menutup pintu dan menguncinya.


"Dara sayang, maafkan abang ya Yang! Maaf karena membuatmu menunggu agak lama."


Hening, tiada sahutan dari Dara. Wanita itu terlihat meringkuk di bawah selimut tebal.


Dylan mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Lantas ia belai rikma sang kekasih halal yang panjang tergerai dan kembali berucap, "Yang, kamu marah ya? Maafkan aku! Aku berjanji nggak akan lagi menemui Milea, ataupun ber-empati pada wanita itu."


Perlahan, Dara membuka netranya yang semula terpejam. Ia mengulas senyum dan mengusap lembut pipi Dylan, suami yang teramat dicintainya.


"Aku nggak marah Bang."


Bibir Dylan melengkung. Ia raih tangan Dara lalu mencium buku-buku jari istrinya itu.


"Benarkah?"


"Heem." Dara mengangguk.


"Kalau begitu, kita lanjutkan yang tadi, yuk!"


"...."


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Ehem, kira2 Dara mau lanjut nggak ya??? 🙄


Maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2